Apresiasi Prestasi Nasional: Kepala MAN Kota Sawahlunto Serahkan Penghargaan untuk Yumma Afifah Putri, Sang Penulis Muda Bertalenta
Sawahlunto (Humas), 17 April 2026,
Cahaya matahari menelusup lembut melewati Halaman MAN Kota Sawahlunto, seakan turut menjadi saksi atas sebuah momen yang tak sekadar seremoni, melainkan perayaan atas kerja keras, ketekunan, dan mimpi yang dirawat dengan sepenuh hati.
Dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa, Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril Tuanku Bandaro memasuki halaman MAN Kota Sawahlunto didampingi oleh Kaur Tata Usaha, Yurmaini. Kehadiran keduanya membawa nuansa penghormatan yang hangat, sekaligus menegaskan bahwa hari itu adalah milik seorang anak bangsa yang telah menorehkan prestasi membanggakan.
Di hadapan para guru dan siswa yang menyimak dengan penuh perhatian, nama itu dipanggil Yumma Afifah Putri dan Desi Apriyanti Naspin sebagai Guru pembimbing. Yumna siswi yang barangkali tampak sederhana dalam keseharian, namun menyimpan semesta gagasan di dalam pikirannya. Langkahnya menuju depan terasa seperti perjalanan panjang yang diringkas dalam beberapa detik perjalanan yang ditempuh dengan kata-kata, dengan keberanian menuangkan pikiran, dan dengan keyakinan bahwa tulisannya memiliki makna.
Penghargaan itu pun diserahkan: sebuah sertifikat yang mungkin tampak ringan secara fisik, tetapi sarat dengan bobot perjuangan. Yumma Afifah Putri berhasil meraih Juara Harapan III dalam Lomba Menulis Esai Tingkat Nasional Tahun 2026 kategori umum sebuah capaian yang tidak hanya mengharumkan nama pribadi, tetapi juga membawa kebanggaan bagi madrasah dan kota yang menaunginya.
Dalam sambutannya Dafril Tuanku Bandaro menyampaikan bahwa prestasi ini bukan sekadar kemenangan dalam kompetisi, melainkan bukti nyata bahwa literasi adalah jembatan menuju masa depan. Ia menekankan bahwa kemampuan menulis adalah kekuatanalat untuk menyuarakan gagasan, membangun peradaban, dan menyalakan perubahan.
Yurmaini, yang berdiri mendampingi, turut memberikan senyum penuh makna sebuah bentuk dukungan yang sederhana namun tulus, seolah berkata bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya menuju pengakuan.
Sementara itu, Yumma menerima sertifikat tersebut dengan mata yang berbinar. Bukan sekadar rasa bangga yang terpancar, melainkan juga kerendahan hati seorang pembelajar yang tahu bahwa ini baru permulaan. Di balik prestasi ini, ada malam-malam panjang yang diisi dengan perenungan, ada lembaran-lembaran yang ditulis ulang, dan ada tekad yang tak pernah benar-benar padam.
Momentum itu pun berakhir dengan tepuk tangan yang menggema, namun gaungnya terasa lebih jauh dari sekadar ruangan. Ia menjalar ke semangat siswa lain, menjadi inspirasi yang hidup—bahwa dari Sawahlunto, dari ruang-ruang belajar yang mungkin sederhana, lahir pemikir-pemikir muda yang siap berbicara kepada dunia.
Dan pada hari itu, sebuah sertifikat menjadi lebih dari sekadar kertas. Ia menjelma menjadi simbol harapan bahwa kata-kata, jika ditulis dengan hati, mampu mengubah nasib dan menorehkan jejak yang tak lekang oleh waktu.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor: DTB