DARI SAJAK SEPANJANG KUPANG-DILI SAMPAI GETIR MEMORI TIMOR LOROSAE-INDONESIA
Suasana forum “Membaca Puisi-puisi Timor Lorosae” bersama kreatornya, Riwanto Tirtosudarmo (duduk depan bertopi kuning, foto oleh Doni Yusuf Bagaskara, 19 Januari 2026).
Reportase oleh FX Domini BB Hera| Produser Film Dokumenter
–
Apa jadinya jika seorang peneliti senior yang memiliki cita rasa sastrawi melakukan perjalanan darat dengan bis armada Bagong dari Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur (NTT) menuju Dili, ibu kota negara Timor Leste? Salah satu hasilnya ialah perenungan yang melahirkan sejumlah puisi kritis. Riwanto Tirtosudarmo, demografer politik pertama Indonesia itu medio Desember 2025 silam melakukan muhibah di atas. Tentu ini kunjungan ke sekian kalinya.
Senin malam, 19 Januari 2026 lalu di Kafe Pustaka, Jl. Pekalongan No. 1 Kota Malang, Riwanto Tirtosudarmo membentangkan sehimpun puisi bertajuk Timor Lorosae sebagai buah tangan. Forum yang dimulai pukul 19.00 WIB itu berlangsung hangat sekalipun dinginnya kota pegunungan tersebut sehabis diguyur hujan. Acara turut disemarakkan dengan kehadiran tiga musisi yang mengiringi jalannya musikalisasi puisi, mereka antara lain Komikus Aji Prasetyo dan Kak Fey.
Kegelisahan dan pelbagai renungan Riwanto Tirtosudarmo ditorehkannya dalam puisi-puisinya, antara lain Santa Cruz (ditulis di Malang, 23 Agustus 2025), Kupang-Dili (ditulis di Atambua, 7 Desember 2025), Hotel Turismo (ditulis di Residere Dili, 8 Desember 2025), 12 November 1991 (ditulis di Dili, 9 Desember 2025), Letefoho Cafe (ditulis di Dili, 10 Desember 2025), Timor Lorosae (ditulis di Atambua, 12 Desember 2025), Pelintas Batas (ditulis di Kupang, 13 Desember 2025), dan Lapangan Merdeka (ditulis di Jakarta, 17 Desember 2025).

Mobilitas Riwanto Tirtosudarmo terekam dengan jelas dari setiap datum (keterangan waktu) yang ia terakan di setiap anak rohaninya tersebut. Peneliti senior di bidang migrasi dan mobilitas manusia itu benar-benar mempraktikkan studi yang ia geluti sekalipun sudah memasuki usia pensiun. Ia menyadari benar bahwa yang pensiun hanyalah formalitas masa kerja administratif namun panggilan sejatinya sebagai peneliti tetap diteruskannya sebagai peneliti independen, pasca ia purna tugas dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, belakangan direorganisasi menjadi BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional).
Riwanto menerangkan setiap latar belakang terciptanya setiap sajak, seperti Pelintas Batas yang berisikan pengalamannya melintasi perbatasan kedua negara bersama seluruh penumpang yang tidak dikenalinya. “Aku ingin seperti para pelintas batas itu// Mereka yang tak lelah menembus batas// Melawan peminggiran dan ketidakadilan// Pelintas batas yang tak berhenti bertualang.”, demikian kutipan bait akhir puisi tersebut berbunyi.
Para hadirin yang terdiri dari lintas profesi dan bidang minat datang menyemut, di samping untuk merayakan puisi-puisi Riwanto Tirtosudarmo sekaligus ikut berbagi memori atau pendapat terkait hubungan Indonesia dengan Timor Leste, baik ketika masih menjadi provinsi termuda semasa rezim Orde Baru yang menginvasi dan mendudukinya.
Jurnalis Aboeprijadi Santoso yang bermukim di Amsterdam, Belanda dan pernah bolak-balik ke Timtim menceritakan mengapa kata Timor Leste yang dipilih sebagai nama negara ketimbang Timor Lorosae. Aboeprijadi Santoso pertama kali menginjakkan kaki di sana pada tahun 1994.
Puisi Kupang-Dili dipilih dan dibaca oleh Djoko Saryono, Guru Besar Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang. Selain membaca puisi, ia juga menceritakan kenangan atas kegiatan gerilya bawah tanah mahasiswa Timtim (Timor Timur) yang berkuliah di Malang medio 1985, saat dirinya masih baru menjadi dosen. Djoko Saryono mengungkapkan bahwa para mahasiswa Timtim itu memperjuangkan kemerdekaan negerinya yang terilhami dari perjuangan mahasiswa Indonesia semasa pergerakan, baik di sini maupun Belanda.
Budayawan, pelukis, sastrawan, dan entrepreneur literasi, Bambang Adrian Wenzel menceritakan pengalamannya yang pernah diculik di sana lantas dibebaskan berkat koneksi jejaring gereja Katolik sekaligus sekolah Dempo (SMAK St. Albertus) di Malang.

Rektor Universitas Ma Chung Malang, Stefanus Yufra M. Taneo berbagi kisah perihal risetnya tahun 1997. Riset itu bertolak dari kandungan trauma-memori kekerasan yang diterima diaspora mahasiswa Timtim sebelum kemerdekaan yang terjadi semasa mereka berkuliah di Malang.
Pengusaha cum pengurus Indonesia-Tionghoa (INTI) Malang, Agus Endra berbagi pengalaman masa kecilnya perihal tentara Indonesia semasa bertugas di sana, diikuti sebuah peristiwa yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak beberapa hari.

Beberapa hadirin lain yang tergerak membaca puisi termasuk sastrawati Elwiq Pr. Ia membacakan puisi Lapangan Merdeka. Seorang pembaca puisi Timor Lorosae mendedikasikan penampilannya untuk mengenang Pat Walsh (1941-2025), aktivis kemanusiaan asal Australia, yang menjadi salah satu motor publikasi Chega!, laporan berjumlah ribuan halaman tentang kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Timor Timur sepanjang periode di bawah Republik Indonesia (1975-1999).
Laporan itu merefleksikan sesuatu yang tak terbayangkan, dimana sebuah negeri yang berhasil memerdekakan dirinya dari penjajahan lantas pada dekade awal kemerdekaannya membantu bangsa-bangsa lain meraih kemerdekaan namun kemudian menjadi bangsa yang kontradiktif dari konsep kemerdekaan itu sendiri.
Riwanto Tirtosudarmo menyinggung salah satu peristiwa memilukan, yakni pembantaian Santa Cruz (1991). Dua puisi tercipta secara gamblang dari sejak judulnya terbaca, Santa Cruz dan 12 November 1991. Sebagaimana situasi dalam negeri Indonesia yang sedang berpolemik dengan penulisan sejarah nasional terbarunya yang disponsori oleh pemerintahan terbarunya, Timor Leste pun sedang menyusun sejarah nasionalnya pasca kemerdekaan. Publik dan akademisi sejarah Indonesia masih menunggu bagaimana episode Timtim menjadi Timor Leste dirilis dalam buku sejarah Indonesia terbaru itu.
Membaca “Puisi-puisi Timor Lorosae” karya Riwanto Tirtosudarmo tepat di pertengahan Januari 2026 ini terkenang sebuah tembang milik biduanita pop Indonesia, Rita Effendy. Judulnya Januari di Kota Dili (1997), dimana dalam lirik baitnya terfragmen, “Januari di Kota Dili// Tak terkira, cinta bersemi// Januari lekas berganti// Dan terhempas cintaku…” Demikianlah memang terhempas betul hubungan provinsi Timtim dengan Republik Indonesia melalui sebuah referendum dua tahun sesudah lagu itu dipopulerkan.
Sesudahnya, Timor Leste dan Indonesia sempat membuat Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia – Timor Leste (KKP, Commission of Truth and Friendship, CTF). KKP dibentuk pada tahun 2005 yang beranggotakan kedua belah pihak negara guna menginvestivigasi kerusuhan pasca referendum 1999.

Indonesia sendiri sempat memiliki Undang-undang No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) namun dicabut oleh Mahkamah Konstitusi RI dan kini belum diundang-undangkan kembali. Tanpa KKR, Indonesia masih didominasi impunitas bagi para pelanggar HAM ditambah upaya-upaya pengingkaran pada pengungkapan kejahatan masa lalu. Laksana peringatan Riwanto Tirtosudarmo bagi pembacanya dalam penggalan puisi Santa Cruz, “Ketika hari ini sejarah ingin dilupakan// Sejarah pembantaian itu perlu diingat// Di Timor-Leste aku menjadi saksi sejarah// Kemerdekaan yang dibayar dengan darah.”
