Cahaya Literasi dari Bumi Arang: Gema Muhadharah MAN Kota Sawahlunto
SAWAHLUNTO (Humas) 23 Januari 2026 Pagi itu, ketika kabut tipis masih memeluk lembah Sawahlunto dan sinar matahari mulai menyusup malu-malu di sela pepohonan, halaman Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma menjadi panggung peradaban, sebuah kawah candradimuka tempat melatih lisan dan mengasah jiwa.
Kegiatan Muhadharah yang digelar secara rutin kini sampai pada saat tongkat estafet pelaksanaan jatuh ke tangan para siswa Kelas XII Fase F4. Di bawah asuhan tangan dingin sang wali kelas Erawati, momentum ini bukan sekadar rutinitas mingguan, melainkan sebuah simfoni pendidikan yang memadukan kecerdasan intelektual dan ketangguhan mental.
Di bawah bimbingan Erawati yang tak kenal lelah memoles bakat-bakat muda, para siswa Fase F4 tampil dengan penuh percaya diri. Satu per satu mereka maju ke depan ada yang melantunkan ayat suci dengan nada yang menggetarkan relung kalbu, ada khotbah Jumat, dan MSQ dengan retorika yang memukau, hingga pembacaan doa yang melangitkan harapan.
Muhadharah ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan berucap. Ia adalah wadah kristalisasi ilmu yang selama ini hanya tertidur dalam buku teks, kini dihidupkan melalui kata-kata. Ia juga menjadi ajang mengasah mental; tempat di mana rasa gugup diubah menjadi keberanian, dan keraguan dilebur menjadi keyakinan.
Puncak dari kegiatan ini adalah petuah bijak yang disampaikan langsung oleh Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro, dalam amanatnya yang sarat makna, Dafril menekankan bahwa kecerdasan tanpa keteladanan adalah ibarat lampu tanpa cahaya ada, namun tak menerangi.
“Ilmu yang kalian asah hari ini dan mental yang kalian bangun di podium ini, tujuannya hanya satu: agar kalian mampu menjadi orang teladan,” ujar Dafril dengan nada yang tenang namun berwibawa.
Dafril Tuanku Bandaro berpesan bahwa menjadi teladan bukan berarti harus sempurna, melainkan berani melangkah di jalan kebenaran dan menjadi kompas bagi sesama. Di tengah gempuran zaman yang kian memudar moralnya, siswa MAN Kota Sawahlunto diharapkan menjadi oase yang membawa kesejukan melalui akhlakul karimah.
Muhadharah pagi itu memang telah usai, namun gema pesan tentang “keteladanan” tetap tinggal, menyusup ke dalam sanubari setiap siswa, menjadi bekal untuk melangkah keluar gerbang madrasah menuju masa depan yang gemilang.
Kontributor: Nofri Hendra
Editor : DTB