Di Balik Tembok
Oleh Alex Ruanggeari
–
Dalam kilauan hotel mewah Jakarta, aku menyaksikan pemandangan yang begitu kontras. Para ibu berdandan elegan, melenggang dengan tas bermerek mahal, saling menyapa dengan nada tinggi dan senyum yang tak sepenuhnya tulus. Di antara mereka, tercium aroma persaingan diam-diam, tentang siapa yang paling cantik, paling kaya, paling sering berganti mobil mewah. Mereka hadir seperti aktris dalam panggung sosial yang megah, mempertontonkan status, kemewahan, dan kemewahan lagi.
Kehadiranku sebagai saksi parade kaum borjuasi. Aku terdorong melangkah lebih jauh, mencari wajah lain dari kota ini, di balik tembok hotel yang tebal dan dingin. Di sana, kutemukan kehidupan yang berbeda: lelaki tua menjajakan burung dalam sangkar reyot, tukang jok kursi memperbaiki kain robek dengan tangan penuh lem, pedagang kecil berharap dagangannya laku meski pembeli jarang datang. Semuanya bertahan dalam kesunyian dan kepasrahan yang tampak biasa.
Jakarta mengajarkanku satu hal: ketimpangan bisa tampak begitu wajar. Tak seperti di Papua, di mana hidup masih diperjuangkan dengan nilai dan idealisme, di sini orang-orang seakan dipaksa pasrah, mengais dari remah-remah sistem yang tak berpihak. Di balik gemerlap ibu kota, ada kenyataan pahit yang tak tersentuh cahaya. Dan di situlah, kehidupan yang sesungguhnya sedang berjalan, mereka mengais dari remah remah kehidupan metropolitan yang mentereng.