May 10, 2026

Karya : Eka Teresia

Kulihat senja di cakrawala negeri, Bukan jingga, namun kelabu yang menari. Rasa malu telah ditanggalkan rapi, Berganti topeng kepalsuan sehari-hari. Nurani menjadi barang tawar-menawar, Kebenaran tak lebih dari sekadar kabar.

Di singgasana kuasa, sumpah diobral murah, Atas nama rakyat, pundi-pundi kian basah. Hukum yang tajam kini tumpul ke atas, Mencekik yang lemah, membebaskan yang buas. Keadilan hanya catatan di atas kertas, Tergadai oleh kepentingan yang tak terbatas.

Etika luhur kini tinggal pajangan, Saling sikut menjadi sebuah kebanggaan. Yang tua tak lagi dihormati petuahnya, Yang muda meniru idola tanpa makna. Empati terkikis di tengah riuh dunia maya, Hujat dan caci maki dianggap biasa.

Lihatlah layar kaca dan linimasa kita, Penuh sensasi, nihil esensi dan cita. Tubuh dipertontonkan tanpa rasa risih, Akal sehat tersingkir oleh argumen selisih. Yang sakral menjadi bahan canda , Jiwa bangsa ini terasa semakin perih.

Pancasila seakan hanya tinggal nama, Bhinneka terancam oleh bara angkara. Gotong royong terganti individualisme buta, Setiap kepala hanya memikirkan dunianya. Kita berlayar di kapal yang sama, katanya, Namun kompasnya pecah, nahkodanya entah siapa.

Langit Pertiwi basah oleh air mata, Menatap generasinya yang kehilangan peta. Di persimpangan sejarah kita kini terpaku, Tergoda oleh jalan pintas yang semu. Lalu, hendak dibawa ke mana bahtera bangsaku? Jika moralitas terus lapuk dimakan waktu.

Padang ,21 Oktober 2025