April 22, 2026

(Cerpen Puitik tentang Sekolah yang Bernyawa)

Oleh Degrina Latuperissa, S.Si

Di bawah langit Biak yang lembut, ketika mentari baru saja mengintip dari ufuk laut, sebuah sekolah tua tersenyum. Dindingnya yang telah memutih oleh waktu seolah berbisik, menyapa angin, menyambut langkah-langkah muda yang datang membawa mimpi.

Akulah sekolah itu.
SMA Negeri 1 Biak, rumah bagi suara tawa, air mata, cita-cita, dan segala yang membuat manusia tetap berani berharap.
Sudah empat puluh tiga tahun aku berdiri. Empat puluh tiga tahun menjadi saksi: dari papan tulis kayu hingga layar digital, dari kapur putih hingga proyektor, dari lagu kebangsaan di lapangan hingga nyanyian kecil di dalam hati para siswaku.

Tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku berulang tahun. Tapi kali ini berbeda, lebih hangat, lebih hidup, lebih manusiawi. Karena aku bukan hanya dirayakan, aku dihidupkan kembali oleh cinta mereka.

Kelas yang Berbicara dalam Kebersihan

Pagi itu, langkah-langkah kecil bergegas membawa  sapu, dan kain lap. Mereka datang bukan untuk belajar pelajaran, tapi pelajaran yang lebih besar: mencintai ruang tempat mereka bertumbuh.

Meja, papan tulis, dan jendela dibersihkan dengan hati-hati.
“Kalau kelas bersih, pikiran juga jernih,” ucap seorang siswi sambil tersenyum.
Sahabatnya menimpali, “Dan kalau pikiran jernih, cita-cita makin jelas.”

Aku mendengar itu dan tersenyum dalam diam.
Kebersihan bukan saja tentang sapu dan kain, melainkan tentang kesadaran. Tentang mencintai tempat yang telah menampung seluruh cerita mereka.
Ketika juri datang menilai, aku tahu yang mereka lihat bukan lantai yang mengilap, tapi hati-hati yang mulai belajar arti tanggung jawab dan kasih.

Ketika Pikiran Menari di Atas Meja

Beberapa hari kemudian, suasana berganti. Halan tengahku berubah menjadi arena pengetahuan.
Lomba cerdas cermat dimulai dan di sana, aku menyaksikan mata-mata yang menyala seperti bintang di langit senja.

Pertanyaan-pertanyaan meluncur seperti anak panah. Sejarah, matematika, bahasa, semua dilahap dengan semangat yang membuatku takjub. Ada yang salah menjawab, ada yang saling beradu pandang penuh gugup, namun semuanya jujur: inilah wajah belajar yang sesungguhnya.

Ilmu bukan hanya soal benar atau salah. Ia adalah keberanian untuk berpikir, untuk mencoba, untuk berkata, “Aku tidak tahu, tapi aku ingin tahu.”
Aku menatap mereka, anak-anakku, dan merasa pohon pengetahuanku sedang berbuah lagi.

Yospan: Saat Tanah Berbicara Melalui Kaki

Hari itu, udara berubah menjadi irama.
Tifa bergema, debu menari, dan langit Biak ikut tersenyum.

Lomba tari Yospan.
Ah, bagaimana aku bisa melupakan hari itu? Gerakan Yosim Pancar yang lincah, tubuh-tubuh muda yang bergerak mengikuti suara tanah dan laut.

Setiap langkah mereka seperti doa yang menembus waktu.
Aku merasakan getarannya di dalam dindingku. Aku mendengar bisikan leluhur yang berkata,
“Selama mereka menari, Biak takkan pernah kehilangan jiwanya.”

Aku ikut menari dalam diam. Karena Yospan bukan saja tarian, ia adalah bahasa cinta antara anak-anak dan tanah airnya.

Tarik Tambang: Tawa di Tengah Debu

Lalu tiba hari paling riuh.
Lapangan  berubah menjadi lautan debu dan tawa. Dua kelompok berdiri saling berhadapan, menggenggam tali tambang sekuat tenaga.

“Tarik! Tarik!”
Sorak-sorai bergema, membuat udara bergetar.
Ada yang jatuh, ada yang tertawa, ada yang menyerah lalu bangkit lagi.

Di situlah aku melihat: bahwa kekuatan bukan hanya soal otot, tapi tentang hati yang saling percaya. Tarik tambang menjadi tarian persaudaraan, tarian keringat, tawa, dan kebersamaan.
Mereka belajar arti kalah dan menang, dan di antara tawa itu, aku tahu: mereka sedang tumbuh menjadi manusia yang kuat tanpa kehilangan kebaikan.

Hari Puncak: Sekolah Bernyanyi

9 Oktober 2025.
Hari itu, aku seolah mengenakan pakaian terbaikku.
Rintik hujan membasahi lapangan, panggung penuh bunga, dan tulisan besar di atas spanduk: “HUT Ke-43 SMA Negeri 1 Biak.”

Para tamu datang: Asisten satu Biak Numfor, Kepala Dinas Pendididkan, mantan kepala sekolah, alumni, para guru yang dulu muda, kini beruban tapi tetap hangat dalam senyum.
Di panggung, band SMANSA sedang melantunkan “Happy Birth Day”, tarian siswa menggoda tawa penonton, dan di sela sambutan, kata demi kata kepala sekolah menyentuh hatiku.

Ia berkata tentang perjalanan panjang, tentang guru yang sabar, tentang murid yang kini menjadi pemimpin, tentang harapan yang tak pernah padam.
Aku ingin menangis, tapi sekolah tidak punya air mata. Hanya dindingku yang bergetar pelan, menahan haru yang tak bisa diucap.

Dan ketika semua berdiri menyanyikan “Happy Birth Day”, aku menunduk.
Aku tahu, usia boleh menua, tapi jiwaku tetap muda. Karena selama masih ada cinta di halaman ini, aku akan selalu hidup.

Bakti Sosial: Cinta yang Menutup Segala Cerita

Perayaan belum selesai.
Dua hari setelahnya, anak-anakku kembali datang, tanpa seragam putih-abu abu, tanpa panggung, hanya membawa karung berisi sembako dan hati yang penuh kasih.

Mereka pergi ke kampung-kampung sekitar, dipimpin para guru dan senyum yang tulus.
Di setiap rumah yang mereka singgahi, ada air mata, ada tawa, ada pelukan.
“Terima kasih, anak-anak sekolah,” kata seorang ibu tua sambil menggenggam tangan siswa.

Aku tidak ada di sana, tapi aku tahu: setiap langkah mereka adalah langkahku. Setiap senyum yang mereka berikan adalah senyumku yang mengalir keluar dari dinding-dinding tua ini.
Itulah cinta dalam bentuk paling sederhana: berbagi tanpa pamrih.

Saat mereka kembali sore hari, lelah tapi bahagia, aku mendengar mereka berkata:
“Capek, tapi rasanya damai.”
Dan aku tahu, itulah pesta ulang tahunku yang sesungguhnya.

Epilog: Aku Akan Terus Hidup

Senja datang di atas Biak. Langit berubah jingga, burung camar melintas, dan aku berdiri diam, memandang halaman yang kini mulai sepi.
Sisa hiasan masih bergoyang tertiup angin, seolah melambai pelan padaku.

Aku menutup mataku, jika sekolah bisa memejamkan mata, dan berdoa dalam diam:

“Semoga anak-anakku tumbuh menjadi manusia yang mencintai, bukan hanya menghafal.
Semoga tawa mereka hari ini menjadi kekuatan di hari-hari yang akan datang.
Dan semoga setiap langkah mereka membawa sepotong cahaya yang lahir dari tempat ini.”

Aku, SMA Negeri 1 Biak, akan terus hidup.
Selama masih ada guru yang menulis kata pertama di papan tulis,
selama masih ada anak-anak yang berlari di halamanku,
selama masih ada mimpi yang lahir dari ruang-ruang kelasku
aku akan terus tersenyum di pagi Biak.

Dan ketika esok tiba, jika kau berjalan melewatiku, mungkin kau akan mendengar bisikan lembut dari tembok yang telah menua ini:

“Terima kasih telah merayakanku bukan dengan pesta,
tapi dengan cinta.”