April 21, 2026
GAMBAR DR. BUDHY

Dr. Budhy Munawar Rachaman: Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Diryakara; Tokoh Pluralisme Indoneisa dan Pendiri Nurcholish Madjid Society

Oleh: Dr. Budhy Munawar-Rachman

Andai Djohan Effendi masih hidup. Hari ini ia berusia 85 tahun. Selamat Ulang Tahun Pak Djohan. Kami murid-muridmu terus bertekad untuk melanjutkan perjuanganmu mewujudkan keindonesiaan yang beragam, toleran, adil dan demokratis.

Djohan Effendi dikenal dalam dunia pemikiran Islam serta perannya dalam mendorong pluralisme agama di Indonesia. Djohan dikenal sebagai sosok yang aktif dalam mendorong pembaruan pemikiran Islam yang inklusif dan dialog antaragama.

Djohan Effendi lahir pada 1 Oktober 1939 di Banjarmasin dan dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama. Kakek dan neneknya memiliki pengaruh besar dalam mendidiknya, terutama terkait pendidikan agama tradisional. Ia menyelesaikan pendidikan di bidang agama dan kemudian melanjutkan studinya di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kariernya terus berkembang, hingga Djohan menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia intelektual Islam di Indonesia.

Dialog Antaragama

Djohan Effendi memiliki kontribusi besar dalam berbagai lembaga negara dan organisasi yang mendorong dialog antaragama. Pada masa Orde Baru, ia ditugaskan sebagai staf ahli di Kementerian Agama untuk mengembangkan kerukunan hidup umat beragama. Dalam peran tersebut, ia menciptakan beberapa program yang mendukung dialog antarumat beragama. Program-program yang digagasnya termasuk dialog lintas agama, penelitian bersama, dan kamping antaragama. Salah satu tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk menghilangkan prasangka antarumat beragama dan membina pemahaman yang lebih baik.

Selain di lembaga pemerintah, Djohan juga berperan aktif dalam mendirikan beberapa lembaga dialog antaragama, seperti Dialog Antariman (DIAN/Interfidei) dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Kedua lembaga ini menjadi wadah bagi dialog lintas agama dan kepercayaan di Indonesia.

Pluralisme dan Kemanusiaan Universal

Djohan Effendi dikenal sebagai pelopor pluralisme agama di Indonesia. Dalam pandangannya, keberagaman agama adalah realitas sejarah umat manusia yang harus dihargai. Ia menekankan pentingnya toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Pemikirannya banyak merujuk pada ajaran Al-Qur’an yang menurutnya tidak hanya mengakui keberadaan agama lain tetapi juga mengajarkan sikap saling menghormati. Misalnya, ia sering mengutip ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa setiap umat diberikan undang-undang dan jalan yang berbeda oleh Tuhan, dan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

Menurut Djohan, Islam secara eksplisit mengakui keberadaan agama-agama lain, dan umat Muslim diwajibkan untuk menghormati agama-agama tersebut. Ia juga menekankan bahwa umat Islam harus membela kebebasan beragama sebagai bagian dari ajaran agama.

Djohan juga membahas konsep kesatuan kenabian dalam Islam. Ia menegaskan bahwa umat Islam wajib beriman kepada semua nabi dan rasul, tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa Islam, dalam pandangan Djohan, mengakui kesatuan dalam perbedaan agama yang dibawa oleh para nabi.

Djohan Effendi menulis sejumlah buku yang menyoroti pandangan-pandangannya tentang agama dan pluralisme. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Agama dan Masa Depan, Agama dan Pembangunan, serta Pesan-Pesan al-Qur’an: Mencoba Mengerti Intisari Kitab Suci. Ia juga menerjemahkan karya penting Muhammad: Prophet and Statesman oleh William Montgomery Watt. Dalam karyanya, Djohan berusaha memahami agama secara kritis, jauh dari pandangan dogmatis, dan selalu mencari pemahaman yang lebih luas.

Selain menulis buku, Djohan juga aktif dalam dialog publik, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Salah satu kontribusinya adalah partisipasi dalam diskusi tentang pluralisme dan kebebasan beragama, di mana ia mendorong sikap inklusif di antara umat Muslim dan agama lainnya.

Setelah masa pensiun, Djohan tetap aktif dalam diskusi intelektual dan terus berkontribusi dalam dunia pemikiran Islam. Ia memiliki hubungan yang erat dengan berbagai kalangan, termasuk generasi muda, yang dilihatnya sebagai agen perubahan masa depan. Meskipun ia sempat tinggal di Australia untuk perawatan medis, kecintaannya pada tanah air membuatnya bolak-balik antara Indonesia dan Australia hingga akhir hayatnya.

Djohan meninggal dunia pada 17 November 2017 di Australia. Setelah wafatnya, berbagai upacara peringatan diadakan, baik di Indonesia maupun di Australia, sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusinya dalam bidang intelektual dan sosial.

Djohan Effendi adalah seorang intelektual Muslim yang memberikan kontribusi signifikan dalam mendorong pluralisme agama dan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Melalui berbagai program dialog antaragama, karyanya dalam tulisan, dan keterlibatannya dalam lembaga-lembaga dialog, Djohan menunjukkan bahwa Islam dapat dipahami dengan cara yang inklusif dan menghargai keberagaman. Warisan pemikirannya terus hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi berikutnya untuk terus memperjuangkan toleransi dan perdamaian antaragama.