Dua Srikandi Polri dari Timur Papua, Menyentuh Hati Lewat Pelayanan dan Cinta
Oleh : joko
Polwan Damai di Bumi Cenderawasih: Dari Pengobatan Gratis hingga Dongeng untuk Anak
Kehangatan dua Polwan Satgas Damai Cartenz di pedalaman Papua menembus batas kewenangan—mereka hadir membawa kasih dan kepedulian
http://suaraanaknegerinews.com | SARMI — Di tengah hening dan damainya Kampung Ansudu, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, senin pagi itu tak seperti biasanya.
Sorak gembira anak-anak, tawa lansia, dan senyum tulus warga menjadi sambutan istimewa untuk dua perempuan berseragam: IPDA dr. Chintya Widodo dan BRIPKA Ita Sombo Allo, dua Srikandi Polri dari Satgas Operasi Damai Cartenz.
Namun mereka datang bukan dengan kendaraan taktis atau senjata berat. Mereka datang membawa obat, dongeng, bingkisan, dan lebih penting lagi hati yang peduli.
Menyentuh, Melayani, dan Mendengarkan
Dengan penuh kelembutan, dr. Chintya memeriksa kesehatan para lansia. Ia bukan sekadar dokter, tapi juga pendengar yang sabar dan komunikator yang penuh empati.
Sementara di sudut lain, Bripka Ita bermain bersama anak-anak: membacakan cerita, membagikan bingkisan, dan menyelipkan pesan sederhana bahwa Polisi adalah sahabat, bukan sosok yang ditakuti.
Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa pengabdian Polri tak melulu tentang kekuatan, tetapi juga tentang kepercayaan dan kemanusiaan.
Polwan Sebagai Jembatan Empati
Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, S.Sos., S.I.K., M.H., dalam keterangannya menyebutkan bahwa kehadiran para polwan di medan tugas seperti ini menunjukkan wajah lain dari Operasi Damai Cartenz.
“Mereka tidak hanya terlibat dalam upaya penegakan hukum terhadap KKB, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial dan pelayanan kemanusiaan,” ujarnya.
Wakaops Damai Cartenz, Kombes Pol. Adarma Sinaga, serta Kasatgas Humas, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam menjaga keamanan Papua.
“Kegiatan seperti ini menumbuhkan kedekatan emosional yang penting, khususnya dengan anak-anak dan kaum perempuan,” ujar Kombes Yusuf.
Pelayanan Tak Harus di Garis Depan
Meski berada dalam sebuah operasi keamanan, IPDA dr. Chintya dan BRIPKA Ita memilih garis pelayanan sebagai bentuk pengabdian.
Senyum mereka menjadi semacam bahasa universal yang tak butuh terjemahan—bahwa kehadiran Polri di Papua bukan sekadar menjaga, tetapi juga merangkul.
Di tengah tantangan medan dan keterbatasan akses, keduanya menjadi simbol bahwa perubahan besar dimulai dari hal kecil yang dilakukan dengan cinta.