May 7, 2026

Laporan Paulus Laratmase

Festival Budaya Biak merupakan salah satu agenda tahunan yang paling ditunggu oleh masyarakat Kabupaten Biak Numfor. Festival ini bukan saja sebuah  perayaan, tetapi juga pernyataan jati diri masyarakat Biak yang berakar kuat pada nilai-nilai leluhur dan semangat kebersamaan. Dalam sambutannya, Bupati Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, S.H., M.M, menegaskan bahwa festival ini adalah ruang bagi generasi muda untuk “mengenal, mencinta, dan merawat budaya sebagai identitas yang membentuk karakter dan martabat orang Biak.” Pernyataan ini mencerminkan tekad pemerintah daerah untuk menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan manusia Biak yang berkarakter, beretika, dan berdaya saing.

Lebih lanjut, Bupati Markus Mansnembra menyoroti filosofi budaya “Fan Naggi”, sebuah nilai luhur yang telah lama menjadi roh kehidupan sosial masyarakat Biak. Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa “Fan Naggi mengajarkan kita tentang cinta kasih, persaudaraan, dan solidaritas sosial yang menjadi dasar kehidupan orang Biak.” Bagi Bupati, nilai ini tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga pedoman moral yang relevan di tengah perubahan sosial dan tantangan modernitas. Ia menekankan bahwa tanpa pemahaman dan penghayatan terhadap nilai Fan Naggi, masyarakat akan mudah kehilangan arah dan tercerabut dari akar budayanya.

Dalam konteks pendidikan karakter, Bupati menilai bahwa penguatan nilai Fan Naggi perlu diintegrasikan dalam sistem pendidikan dan kegiatan kemasyarakatan. Ia menegaskan, “Sekolah, gereja, dan keluarga harus menjadi ruang belajar nilai Fan Naggi. Anak-anak kita harus tahu bahwa mencintai budaya sendiri adalah bentuk penghormatan terhadap Tuhan dan leluhur.” Dengan cara ini, generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam festival budaya, tetapi juga pelaku dan pewaris nilai-nilai kearifan lokal.

Festival Budaya Biak sendiri menampilkan berbagai atraksi tradisional seperti tari Wor, permainan rakyat, upacara adat, dan pameran kerajinan tangan. Namun di balik kemeriahan itu, Bupati Markus Mansnembra mengingatkan masyarakat agar tidak sekadar memandang festival sebagai tontonan. Ia berkata, “Festival ini bukan hanya soal hiburan, tetapi pernyataan bahwa kita masih memegang teguh jati diri Biak yang menghargai persaudaraan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap alam.” Pernyataan ini menggambarkan pandangannya bahwa budaya adalah media pendidikan sosial yang efektif dan sarana memperkuat nilai kemanusiaan.

Dalam setiap penyelenggaraan festival, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor juga mendorong keterlibatan aktif kaum muda dan komunitas adat. Menurut Bupati, “Anak-anak muda harus menjadi duta Fan Naggi. Mereka harus memahami bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, tetapi kekuatan yang membuat mereka bangga menjadi orang Biak.” Dengan pandangan tersebut, Bupati berupaya menumbuhkan semangat regenerasi budaya, agar nilai-nilai luhur tidak terhenti pada generasi tua, tetapi terus hidup dan berkembang sesuai konteks zaman.

Bupati Markus Mansnembra juga menekankan dimensi ekonomi dari pelestarian budaya. Ia menuturkan bahwa “Ketika kita mencintai budaya, kita bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif yang berbasis kearifan lokal.” Dalam konteks ini, festival budaya bukan hanya wadah ekspresi, tetapi juga ruang untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang berakar pada identitas lokal. Melalui pendekatan ini, pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi saling memperkuat satu sama lain.

Lebih jauh, Bupati Markus melihat Fan Naggi sebagai prinsip yang dapat menjadi dasar dalam tata kelola pemerintahan yang humanis dan partisipatif. “Fan Naggi mengajarkan kita untuk melayani dengan hati, untuk melihat sesama sebagai saudara, bukan sekadar warga,” ujarnya dalam salah satu pidatonya. Menurutnya, pemerintahan yang berlandaskan nilai budaya akan lebih mudah membangun kepercayaan publik dan menciptakan keharmonisan sosial. Dengan demikian, Fan Naggi bukan hanya nilai adat, tetapi juga etika sosial yang menuntun arah pembangunan daerah.

Dalam penutupnya, Bupati Markus Mansnembra mengajak seluruh masyarakat Biak Numfor untuk terus mencintai budaya sebagai wujud mencintai diri sendiri. “Kalau kita kehilangan budaya, kita kehilangan arah. Tapi kalau kita hidup dalam Fan Naggi, maka kita akan menjadi manusia Biak yang kuat, bijak, dan penuh kasih,” ujarnya penuh semangat. Pernyataan ini menjadi refleksi mendalam tentang makna cinta budaya sebagai sarana pembentukan karakter manusia. Melalui Festival Budaya Biak dan nilai Fan Naggi, masyarakat Biak Numfor diingatkan bahwa masa depan hanya dapat dibangun di atas dasar penghormatan terhadap warisan leluhur dan cinta yang tulus terhadap budaya sendiri.