April 19, 2026

Fitri dan Serpihan Harapan di Tengah Sampah

elza

Elza Peldi Taher

Minggu pagi biasanya sunyi dan ringan. Tapi pagi ini terasa berbeda. Sebuah pesan singkat masuk. Isinya pendek tapi menusuk kalbu.

Assalamu’alaikum pak fitri mau tanya untuk seminggu ini ada loker ga ya, ngepel atau lainnya mumpung libur sekolah itung-itung buat bantu sekolah fitri.

Yang mengirim pesan namanya Nur Safitri. Biasa dipanggil Fitri. Kelas 12 SMK di Cinere. Anak seorang pemulung. Keluarga Pamulung. Ia memulung sejak kecil.

Saya kembali ke awal pandemi Covid-19, ketika jalan-jalan kompleks sunyi seperti kota yang kehilangan napas. Saat sedang berjalan di depan rumah saya, Perumahan Lereng Indah, daerah Pondok Cabe Udik, seorang gadis kecil melintas dengan wajah murung. Ia memanggul karung lebih besar dari tubuhnya. Setiap hari ia berjalan menyusuri perumahan, memungut kardus, botol plastik, sisa-sisa peradaban yang dibuang penghuni rumah. Kadang bersama ayahnya. Kadang dengan adiknya.
Karung itu hampir selalu lebih besar dari punggungnya. Tangannya yang kecil terbiasa memilah plastik dari sisa makanan. Bau sampah melekat di bajunya seperti takdir yang enggan pergi.

Saya kemudian tergerak menghampiri dan kamipun berbincang. Namanya Fitri. Ia mengeluh. Sejak Covid datang, banyak perumahan menutup pintu. Portal ditutup rapat. Satpam memperketat akses. Orang luar tak boleh masuk. Termasuk pemulung. Bagi warga kompleks, itu protokol kesehatan. Bagi Fitri, itu pintu rezeki yang dipalang.

Setelah itu saya mendatangi tempat tinggalnya yang tak jauh dari rumah. Ia tinggal di sebuah kontrakan sempit di daerah Limo, seberang Samsat Depok. Rumah itu lebih mirip gubuk yang disewa, berdiri di tengah tumpukan sampah menggunung. Bau menyengat seperti kesaksian bisu tentang nasib yang tak pernah benar-benar dibersihkan. Di sanalah Fitri tumbuh. Di antara plastik bekas dan kaleng penyok. Di antara harapan yang selalu terasa setengah.

Ia dan bapaknya bercerita tentang hidupnya yang sulit. Tentang sekolah yang ingin ia pertahankan. Tentang rasa malu ketika teman-teman sekolahnya tahu ia memulung. Tentang kelelahan yang tak pernah sempat ia akui. Tentang pandemi yang membuat hidup yang sudah sempit menjadi semakin sesak. Ada keinginan pulang kampung ke rangkas Bitung. Tapi disana, mereka makan apa?

Ada hari-hari ketika Fitri ingin menyerah. Ketika ia melihat teman-temannya pulang sekolah sambil bercanda, sementara ia harus mengganti seragam dengan pakaian kerja dan memanggul karung. Tapi ia tetap berjalan. Ia memilih sekolah. Ia memilih bertahan.

Saya kemudian menuliskan kisahnya dan menyebarkannya di media sosial. Alhamdulillah, bantuan berdatangan. Ada ibu-ibu pejabat. Ada aktivis. Bahkan dari Komnas Perempuan dan Komnas Anak. Mereka mendorong Fitri untuk tetap sekolah. Mereka meminta Fitri berhenti memulung. Tapi banyak janji berhenti pada janji.

Waktu berjalan cepat. Sesekali Fitri masih melintas di kompleks saya. Sesekali saya membantunya. Belakangan Lebih sering ayahnya dan adiknya yang terlihat. Fitri tumbuh menjadi remaja. Tubuhnya lebih tinggi. Wajahnya lebih dewasa. Tapi hidupnya tak benar-benar berubah. Ia masih tinggal di antara sampah yang berserakan, di perumahan tak layak yang tak pernah masuk brosur pengembang.

Dan pagi ini, pesan itu datang lagi. Ia kembali bercerita

Tagihan sekolah, katanya, sudah berulang kali dikirim ke orangtuanya. Sejak SMP hingga kini kelas 12. Tagihan sudah tahunan. Ia ingin lulus. Ia ingin sekolah agar kelak nasibnya berubah. Ia tak ingin selamanya memanggul karung. Tapi kemiskinan seperti bayangan yang tak pernah lepas dari tumitnya. Ia ingin urus KTP ke kampungnya yang tak jauh, tapi bagaimana dengan dananya?

########

Dalam teori sosiologi, ada yang disebut lingkaran kemiskinan—vicious circle of poverty. Gunnar Myrdal menjelaskan bagaimana kemiskinan bukan sekadar soal kurang uang, melainkan jejaring sebab-akibat yang saling mengikat. Pendapatan rendah membuat akses pendidikan rendah. Pendidikan rendah membuat peluang kerja terbatas. Peluang kerja terbatas melanggengkan pendapatan rendah. Begitu seterusnya, seperti roda yang berputar di tempat.

Di Indonesia, para ilmuwan menyebutnya kemiskinan struktural. Bukan karena orang malas. Bukan karena kurang niat. Tapi karena sistem sosial-ekonomi tak memberi pijakan yang kokoh untuk melompat lebih tinggi. Anak pemulung lahir di lingkungan miskin. Sekolahnya seadanya. Jaringannya terbatas. Modal sosialnya tipis. Ketika ia mencoba naik, tangga itu sering patah sebelum mencapai lantai berikutnya.

Fitri adalah wajah dari teori itu.

Ia ingin sekolah. Ia tak ingin memulung. Tapi untuk membayar SPP saja ia harus mencari pekerjaan memulung saat pulang sekilah dan saat libur sekolah. Di satu sisi ia ingin fokus belajar agar keluar dari kemiskinan. Di sisi lain ia harus bekerja agar tetap bisa belajar. Seperti diminta berenang sambil menahan batu di kaki.

Kemiskinan bukan hanya tentang kekurangan materi. Ia juga tentang ruang gerak yang menyempit. Tentang pilihan yang terbatas. Tentang mimpi yang selalu harus ditawar dengan kenyataan.

Lingkungan tempat tinggal Fitri bukan sekadar latar. Ia adalah struktur. Tinggal di tengah tumpukan sampah bukan hanya soal bau. Itu soal stigma. Soal harga diri. Soal bagaimana dunia memandangmu sebelum kau sempat membuktikan siapa dirimu. Anak yang tumbuh di lingkungan seperti itu harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dianggap setara.

Di kota yang sama, ada sekolah internasional dengan biaya puluhan juta per bulan. Di kota yang sama, ada Fitri yang mencari kerja ngepel agar bisa membayar tagihan sekolah negeri. Kontras itu terlalu nyata untuk diabaikan.

Negara sering hadir dalam statistik—angka kemiskinan turun sekian persen, bantuan sosial tersalurkan sekian triliun. Tapi di lorong-lorong sempit tempat anak-anak seperti Fitri tumbuh, negara sering terasa jauh. Bantuan sosial bisa menyelamatkan sebulan. Tapi sistem pendidikan yang mahal bisa menghancurkan masa depan.

Saya bertanya dalam hati: jika saya lahir di rumah kontrakan di tengah tumpukan sampah itu, apakah saya akan sekuat Fitri?

Di usia 17 atau 18 tahun, sebagian remaja sibuk memikirkan prom night, liburan, atau daftar kuliah. Fitri memikirkan tagihan. Fitri memikirkan pekerjaan. Fitri memikirkan bagaimana tetap bertahan di bangku sekolah.

Pesan WhatsApp minggu pagi bukan sekadar permintaan pekerjaan seminggu. Ia adalah alarm kecil yang berbunyi pelan. Tentang bagaimana kemiskinan diwariskan seperti pusaka yang tak diinginkan. Tentang bagaimana sistem sering lebih kuat daripada niat individu.

Di ujung pesan itu, saya tak hanya melihat Fitri. Saya melihat lingkaran yang lebih besar. Lingkaran yang harus kita putus bersama—agar suatu hari, anak-anak seperti Fitri tak lagi memulung di sela-sela pelajaran, tak lagi mengetik pesan meminta pekerjaan demi membayar sekolahnya sendiri.

Jika negeri ini sungguh percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan, maka tak boleh ada satu pun anak yang harus mengepel lantai orang lain hanya agar ia tetap bisa duduk di bangku sekolahnya sendiri.

Karena pendidikan seharusnya menjadi jembatan keluar dari sampah kehidupan. Bukan sekadar papan tipis yang rapuh di atas jurang kemiskinan.

Saya membayangkan nasib Fitri lima atau sepuluh tahun ke depan. Apakah ia akan berhasil menyeberangi jurang itu? Ataukah ia akan kembali berdiri di tepi yang sama, memanggul karung yang sama, hanya dengan usia yang lebih tua dan harapan yang makin menipis?

Nasib sering terasa seperti garis yang sudah digambar sebelum seseorang sempat memegang pensilnya sendiri. Tapi saya ingin percaya, selalu ada ruang kecil untuk mengubah arah. Meski sempit. Meski sulit.

Fitri tidak sedang meminta belas kasihan. Ia sedang berjuang agar tidak tenggelam. Ia tidak mengeluh tentang hidupnya. Ia hanya ingin kesempatan—sekecil apa pun—untuk berdiri sedikit lebih tinggi dari tempat ia dilahirkan.

Di tengah tumpukan sampah itu, sebenarnya yang ia pungut bukan hanya plastik dan kardus. Ia sedang memungut serpihan harapan. Harapan bahwa suatu hari ia tak lagi dikenali sebagai anak pemulung, tetapi sebagai perempuan yang berhasil mematahkan lingkaran nasibnya sendiri.

Dan mungkin, kelak, ketika ia membaca ulang pesan yang pernah ia kirimkan pada Minggu pagi itu, ia akan tersenyum. Bukan karena ia lupa betapa sulitnya hari-hari itu. Tetapi karena ia berhasil melewatinya.

Saya kembali membaca pesan fitri. Bagaimana dengan KTP saya pak?. Bagaimana dengan uang tagihan sekolah saya pak?. Saya tak mampu menjawabnya. Hanya bisa membaca sambil mengelus dada.

Saya hanya berharap satu hal: semoga Ramdhan kali ini hidup tak terlalu kejam pada anak yang sudah berjuang mempertahankan hidup yanh keras ini

Pondok Cabe Udik 15 Februari 2026

Elza Peldi Taher