“Gagal Menaklukkan, Berhasil Merangkul: Pelajaran dari Sunan Kudus”
Penulis: Filza Hayuning Wafa
–
Kisah Sunan Kudus yang mengubah kegagalan menjadi kearifan, membangun harmoni melalui toleransi budaya dan retakan sejarah yang menyatukan.
Dalam sejarah peradaban, kegagalan sering kali menjadi noda yang ingin dihindari. Namun bagi Sunan Kudus, kegagalan justru menjadi awal dari kemenangan yang lebih luhur. Ketika agama Islam menyebar ke tanah Jawa, ia tidak datang dalam ruang yang kosong bak kertas putih. Ada budaya, keyakinan terdahulu, dan nilai-nilai lama yang telah mengakar kuat dalam masyarakat. Menghapus semuanya secara paksa mungkin terasa efisien, tapi justru akan membawa kegagalan yang sesungguhnya yaitu penolakan.
Sunan Kudus, atau Ja’far Shodiq, menyadari betul bahwa pendekatan keras dan konfrontatif hanya akan menciptakan jarak. Ia memilih menyiarkan agama islam di jalan sepi yang penuh keraguan di awal: jalan akulturasi. Jalan ini bukan tanpa risiko. Gagal menyampaikan pesan agama secara murni dan lurus dianggap sebagai bentuk kekalahan bagi sebagian orang. Tapi Sunan Kudus memahami satu hal yang lebih penting ialah keutuhan hati manusia tidak bisa dipaksa, melainkan harus disentuh.
Masjid Menara Kudus berdiri sebagai simbol dari “kegagalan” menegakkan Islam secara eksklusif, namun justru menjadi keberhasilan dalam membaurkan dua keyakinan besar yang tentu sangat berseberangan, yaitu; Islam dan Hindu. Arsitekturnya yang menggabungkan unsur candi, hiasan Hindu, dan nilai-nilai Islam bukanlah kompromi murahan, tapi bentuk dari kebijaksanaan yang muncul dari kesadaran bahwa kegagalan menyentuh lewat ceramah bisa digantikan dengan keberhasilan menyentuh lewat estetika dan nilai budaya.
Didasarkan pada temuan di Desa Canggal di Kedu, Jawa Tengah, pada tahun 732 Masehi, Prasasti Canggal, yang ditulis dalam huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta, menunjukkan bahwa agama Hindu dan agama Buddha Mahayana telah hadir di Kudus sejak abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Pada tahun 1530, Sunan Kudus, salah satu dari sembilan wali, atau Wali Songo, mulai menyebarkan ajaran Islam di Kudus. Pada tahun tersebut, dia mendirikan Masjid Agung Kudus di desa Kerjasan. Sunan Kudus menghabiskan banyak waktu di Kudus dan membuatnya menjadi pusat dakwah utama. Bahkan di Kudus.
Kita bisa membayangkan tantangan yang dihadapi Sunan Kudus saat memutuskan tidak menyembelih sapi di wilayah dakwahnya. Dalam masyarakat Islam, sapi adalah hewan kurban yang sah. Namun bagi umat Hindu, sapi adalah makhluk suci. Pilihan untuk tidak menyembelih sapi bisa dianggap sebagai bentuk kegagalan dalam mempertahankan syariat secara utuh. Tapi justru dari kegagalan itulah lahir tepo seliro, nilai luhur yang menjadikan Islam di Kudus begitu inklusif dan diterima.
Larangan menyembelih sapi bukanlah pelemahan ajaran, melainkan strategi untuk memenangkan hati. Sunan Kudus tidak ingin menang dalam debat, tetapi menang dalam simpati. Ia tahu, Islam tidak akan bertahan lama jika datang sebagai pemutus, bukan penyambung. Maka, ia memilih gagal dalam menunjukkan otoritas, agar berhasil dalam membangun empati.
Tradisi Buka Luwur di makam Sunan Kudus adalah bentuk lain dari pelestarian nilai yang lahir dari kegagalan dalam mempertahankan kesakralan secara fisik. Tidak semua orang bisa mengakses makamnya. Maka kain putih dipasang bukan hanya untuk perlindungan, tapi juga untuk menjaga agar makam tidak dijadikan objek pemujaan yang berlebihan. Ini adalah pelajaran bahwa kegagalan menjaga kesucian dengan tembok bisa diatasi dengan simbol.
Nilai kegagalan juga tercermin dalam sejarah Menara Kudus yang pernah mengalami kerusakan parah akibat gempa. Bangunan itu runtuh sebagian, retak, dan harus diperbaiki. Dalam bahasa arsitektur, ini adalah kegagalan struktur. Tapi masyarakat tidak menyerah. Mereka merawat, memperkuat, dan melestarikan. Keruntuhan tidak menjadi alasan untuk melupakan. Justru dari reruntuhan itu, muncul kesadaran akan pentingnya menjaga, merawat, dan menghargai warisan.
Seni tembang Maskumambang dan Mijil yang diajarkan oleh Sunan Kudus juga membawa pesan kegagalan manusia dalam memahami kehidupan. Maskumambang menggambarkan kesedihan manusia yang belum mengenali Tuhannya. Ini adalah kegagalan dari segi spiritual. Tapi dari kegagalan itu, manusia diajak untuk menemukan kembali arah hidupnya. Mijil menjadi pengingat bahwa hidup penuh cobaan dan ujian, tapi setiap langkah yang dijalani dengan niat baik akan mengantar pada makna sejati.
Wayang klitik yang digunakan Sunan Kudus dalam dakwahnya juga menampilkan tokoh-tokoh yang tidak selalu menang. Pandawa kalah, Rama tersesat, dan manusia berbuat salah. Tapi kegagalan tokoh-tokoh itu tidak menjadi akhir cerita. Justru dari kegagalan itu muncul nilai-nilai kesetiaan, kesabaran, dan keberanian memperbaiki diri. Ini bukan sekadar pertunjukan budaya, tapi cermin dari kenyataan hidup manusia.
Sunan Kudus sadar, Islam bukan sekadar syariat yang harus ditegakkan, tetapi juga rahmat yang harus dirasakan. Gagal mengajarkan Islam secara literal tidak berarti gagal secara hakiki. Justru karena ia bersedia gagal di satu sisi, ia berhasil di sisi yang lebih luas. Ia membangun masyarakat yang damai, inklusif, dan bersatu dalam perbedaan.
Kita hidup di zaman yang sering kali memuja keberhasilan instan dan mencela kegagalan sebagai aib. Tapi sejarah Sunan Kudus mengajarkan sebaliknya. Gagal itu manusiawi. Bahkan terkadang, kegagalan adalah bentuk tertinggi dari pencapaian, jika ia mampu melahirkan kebijaksanaan dan ketulusan hati.
Menara yang runtuh pernah berdiri goyah, namun kini kokoh karena dirawat. Keyakinan yang semula berbeda kini hidup berdampingan karena dihormati dan saling menghormati. Sunan Kudus tidak hanya menyebarkan agama, ia membangun peradaban yang lahir dari kesadaran bahwa jalan damai lebih penting dari jalan menang.
Dalam dunia modern, kita mungkin akan menilai pendekatan Sunan Kudus sebagai kurang strategis, terlalu lembut, atau bahkan kompromistis. Tapi sejarah membuktikan, hasilnya justru abadi. Ia gagal mengislamkan masyarakat secara masif dalam sekejap, tetapi ia berhasil mewariskan Islam yang hidup dalam nadi budaya dan hati masyarakat hingga kini.
Kita bisa belajar bahwa kegagalan bukan akhir, tetapi pertanda bahwa kita perlu pendekatan baru. Mungkin kita gagal memahami orang tua kita, pasangan, atau teman. Tapi dari kegagalan itu, kita bisa lahir sebagai pribadi yang lebih terbuka. Seperti Sunan Kudus, yang gagal menaklukkan tapi berhasil merangkul, kita pun bisa belajar memilih mana yang lebih bernilai. Memaksa? atau menyentuh?.
Dunia tidak butuh lebih banyak pemenang debat, tapi lebih banyak penyambung hati. Sunan Kudus mengajarkan bahwa keikhlasan menerima kegagalan adalah langkah awal menuju kemenangan sejati kemenangan yang tidak meninggikan diri, tapi memanusiakan sesama.
Bironasi pribadi
Bironasi terinspirasi dari kisah Sunan Kudus yang mengubah kegagalan menjadi keberhasilan dalam merangkul, bukan menaklukkan. Ini bukan sekadar lembaga formal, tetapi cara pandang dan kerja yang mengakar pada kearifan lokal dan menembus sekat-sekat regional, menjadi pondasi harmoni nasional. Seperti Sunan Kudus yang rela mengalahkan egonya dengan tidak menyembelih sapi demi menghormati keyakinan Hindu, bironasi adalah kesadaran bahwa menyentuh hati lebih penting daripada menang debat. Dari kegagalan Sunan Kudus dalam menegakkan syariat secara kaku, lahirlah tepo seliro yang menjembatani perbedaan. Dalam dunia modern, bironasi menjadi strategi menghadirkan Islam yang ramah dan membangun inklusi lintas budaya. Ia mengajarkan bahwa harmoni nasional terbangun dari pengakuan akan keanekaragaman budaya, dari dialog yang memanusiakan sesama, dan dari keikhlasan menerima kegagalan sebagai jalan menuju kebijaksanaan.