April 23, 2026

Geliat GeLiMa MAN Kota Sawahlunto Mulai Terlihat

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro

Kepala MAN Kota Sawahlunto & Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam S3 UM Sumba

 

Dalam lembar-lembar waktu yang senyap namun sarat harap, sebuah gerakan mulai menggeliat dari lereng sejarah Sawahlunto yang tua kota tambang yang kini menyimpan bara semangat baru di balik debu-debu masa silam. Bukan lagi batu bara yang diangkat dari perut bumi, melainkan gagasan, kreasi, dan literasi yang mulai ditambang dari jiwa-jiwa muda yang belajar dan mendidik di Madrasah Aliyah Negeri Kota Sawahlunto. Namanya: GeLiMa Gerakan Literasi Madrasah.

Gerakan ini bukan sekadar seremonial yang lahir dari wacana-wacana hampa. Ia lahir dari kesadaran kolektif bahwa madrasah harus menjadi pusat peradaban ilmu, bukan sekadar institusi formal penghafal teks. Dan momentum itu tiba pada tanggal 23 Juli 2025, ketika Dr. H. Dedi Wandra, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto, secara resmi melaunching GeLiMa dengan semangat dan harapan yang melampaui peluncuran biasa sebuah deklarasi kultural bahwa literasi adalah jalan panjang menuju kemajuan umat.

Literasi: Bukan Sekadar Membaca, Melainkan Mencipta

Sehari setelah dilaunching, dua siswa yang tak hanya membaca tapi telah mencipta menyerahkan buku hasil karya mereka langsung kepada Ka.Kankemenag. Ini bukan sekadar simbolis, melainkan metafora bahwa generasi madrasah kini tak lagi duduk pasif di belakang meja. Mereka menulis, menyuarakan ide, dan menyusun makna. Dalam dunia yang semakin berisik oleh informasi, mereka memilih untuk menjadi pencipta makna, bukan pengikut tren.

Tak berhenti di sana, para guru mulai menggeliat dari keheningan. Pena yang lama terdiam kini mulai menari di atas kertas. Artikel demi artikel mulai ditulis tentang pendidikan, agama, dan kemanusiaan. Lomba menggambar antar siswa bertema kemerdekaan pun digelar, seakan mengukuhkan bahwa literasi tidak hanya berwujud tulisan, tetapi juga visual, simbol, dan ekspresi jiwa.

Lalu datanglah kabar menggembirakan itu: Siti Meyrizqa Fathin Zahra, siswa kelas XII Fase F2, meraih Juara 3 Lomba Cipta Puisi Tingkat Provinsi Sumatera Barat. Sebuah prestasi yang bukan hanya angka dalam daftar lomba, tetapi manifestasi konkret bahwa GeLiMa bukan utopia, melainkan realitas yang sedang tumbuh.

GeLiMa bukan sekadar program instan yang lahir dari kegandrungan terhadap“branding” pendidikan. Ia memiliki stimulus ilmiah yang kokoh, berpijak pada tradisi keilmuan Islam klasik. Dalam sejarah Islam, literasi adalah gerakan ruhaniah sekaligus intelektual. Dari tradisi kitabah di zaman Nabi, penyusunan mushaf oleh para sahabat, hingga ledakan karya-karya ilmiah para ulama di era Abbasiyah semuanya menunjukkan bahwa membaca dan menulis bukan hanya aktivitas akademik, melainkan ibadah.

Dalam semangat ini, GeLiMa tidak hanya bertujuan menjadikan siswa pandai menulis, tapi juga menjadikan mereka insan yang menghayati makna tulisannya—berakar dalam nilai-nilai tauhid, adab, dan cinta ilmu. Ini pula yang menjadi alasan mengapa guru-guru kini mulai menyusun proposal untuk program Mayres (Madrasah Youth Research School) sebuah upaya untuk menjadikan madrasah sebagai rumah riset bagi generasi muda Islam.

Peluang: Lentera yang Menyinari Jalan

Ada beberapa peluang strategis yang menjadi alas bagi GeLiMa untuk terus bergerak maju:

1. Sumber Daya Insani yang Antusias dan Potensial

Siswa dan guru di MAN Kota Sawahlunto menunjukkan antusiasme luar biasa. Energi ini adalah modal awal yang sangat penting, bahkan lebih penting dari sekadar dana.

2. Ekosistem Literasi yang Mulai Terbangun

Dengan adanya program, lomba, dan publikasi karya, GeLiMa telah menciptakan atmosfer yang kondusif bagi lahirnya budaya menulis dan berpikir kritis.

3. Dukungan Lembaga Resmi dan Pemerintah

Kementerian Agama melalui Kakankemenag memberi dukungan penuh. Ini membuka peluang untuk mendapatkan fasilitas, program lanjutan, bahkan kerjasama lintas lembaga.

4. Posisi Geostrategis Kota Sawahlunto

Kota ini kecil tapi historis. Jika literasi tumbuh di sini, ia akan menjadi ikon transformasi pendidikan dari pinggiran.

Tantangan: Batu Ujian di Jalan Panjang

Namun seperti jalan dakwah dan perjuangan mana pun, GeLiMa pun tak sepi dari tantangan:

1. Infrastruktur Digital dan Akses Publikasi

Tantangan utama adalah kurangnya fasilitas publikasi yang memadai. Madrasah perlu menjalin kerjasama dengan penerbit dan platform digital agar karya siswa dan guru bisa menembus ruang yang lebih luas.

2. Konsistensi dan Budaya Baca yang Lemah

Membudayakan literasi bukan pekerjaan semusim. Ini perlu strategi jangka panjang agar tak menjadi euforia sesaat.

3. Kurangnya Pelatihan Literasi Profesional

Guru-guru masih banyak yang butuh pelatihan teknis menulis ilmiah maupun sastra. Tanpa peningkatan kapasitas, gerakan ini bisa stagnan.

4. Kecenderungan Pragmatis dalam Pendidikan

Tekanan nilai, ujian nasional, dan masuk perguruan tinggi seringkali membuat literasi dianggap kegiatan tambahan, bukan kebutuhan pokok.

Madrasah Sebagai Menara Gading Peradaban

GeLiMa adalah lentera kecil yang bisa menjadi obor besar. Jika dirawat, disiram dengan semangat dan ilmu, serta dilindungi dari badai pragmatisme, ia akan tumbuh menjadi gerakan peradaban. MAN Kota Sawahlunto bisa menjadi model bahwa madrasah bukan hanya tempat menghafal kitab, tetapi juga menggerakkan pena, membuka cakrawala, dan mengukir sejarah baru dari pinggiran ranah Minangkabau.

Mari kita rawat GeLiMa bukan hanya sebagai gerakan, tapi sebagai niat suci: bahwa literasi adalah jalan jihad kita hari ini. Dengan pena yang jujur, kalimat yang bermakna, dan jiwa yang teguh, kita nyalakan obor ilmu dari kota tua yang kini kembali muda Sawahlunto

Sawahlunto, Agustus 2025