Gelisah atau Bahagia
Yusuf Achmad
Ketika dihadapkan dengan pilihan antara merasa gembira atau gelisah, kebanyakan orang pasti akan memilih untuk merasa gembira. Sebab, perasaan gembira seringkali diasosiasikan dengan kesehatan fisik dan mental yang baik, yang salah satu faktornya adalah pola makan. Seseorang yang menjalani pola makan yang baik dan benar cenderung akan merasa lebih sehat dan bugar, yang pada akhirnya membawa perasaan gembira. Sebaliknya, pola makan yang tidak teratur dan tidak sehat dapat menyebabkan perasaan gelisah bahkan hingga penyakit ringan atau berat.
Konsep bahwa hidup seharusnya diisi dengan kegembiraan dan kebahagiaan selalu kita dengar. Pernyataan ini hampir tidak pernah disertai dengan ajakan untuk merasa gelisah dalam hidup. Namun, bagi penulis dan pekerja seni, perasaan gelisah justru bisa menjadi sumber inspirasi yang penting. Dari kegelisahan tersebut, karya-karya besar dan monumental seringkali tercipta. Bahkan, ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang yang merasa gelisah cenderung memiliki harapan hidup yang lebih panjang dibandingkan dengan yang tidak (meskipun penelitian ini perlu diverifikasi lebih lanjut).
Bagi seseorang yang merasa gelisah dengan amal perbuatannya karena merasa belum maksimal dalam beribadah, kegelisahan ini dapat memotivasinya untuk terus memperbaiki diri. Setelah memperbaiki ibadahnya, kegelisahan tersebut mungkin akan beralih ke amal perbuatan di lingkungan sosialnya, dan ia akan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Kegelisahan semacam inilah yang sebenarnya kita butuhkan jika memilih untuk merasa gelisah. Kegelisahan yang positif, yang tidak berlebihan dan tidak berkonotasi negatif. Bukan kegelisahan karena belum terpenuhinya kebutuhan materi atau peningkatan status sosial-ekonomi semata. Bukan pula kegelisahan untuk mencapai cita-cita dunia saja. Kegelisahan yang sehat adalah yang mendorong kita untuk terus memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, sambil tetap merasakan kegembiraan dalam hidup.