April 17, 2026

”GILA”: Sepenggal Kalimat Inovasi Nyentrik dari Arahan Kabid Pendidikan Madrasah, H. Hendri Pani Dias pada RAKOR KKMA Sumbar

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Study Islam S3 UM Sumbar

Gerakkan Ide, Langsung Aksi. Tiga kata. Satu semangat. Dan satu dunia gagasan yang berdenyut di baliknya.

Di balik kepadatan agenda Rapat Koordinasi (RAKOR) Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) se-Sumatera Barat, Kamis, 28 Agustus 2025, yang dihelat di MAN 1 Padang Pariaman, terselip sepenggal kalimat yang menggah pikiran, menggelitik, dan menggugah kesadaran kolektif : “GILA”.

Kalimat ini bukan sembarang gumaman lepas atau celetukan santai. Ia keluar dari ruang batin dan pemikiran seorang pemimpin pendidikan yang sedang mencoba membongkar dinding rutinitas birokrasi dan menghidupkan kembali detak kreativitas dalam dunia madrasah : H. Hendri Pani Dias, S.Ag., M.Pd., Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat.

Makna di Balik“GILA”: Gerakkan Ide, Langsung Aksi

“GILA” sebuah akronim yang nyentrik namun jernih dalam makna :

Gerakkan Ide, Langsung Aksi.

Dalam lanskap birokrasi pendidikan yang kerap tersandera rutinitas, akronim ini bagai dentuman meriam dalam senyap. Ia menuntut pergeseran paradigma: dari diskusi tanpa tindak, ke eksekusi tanpa ragu. Dari gagasan yang mengendap di atas kertas, ke praktik yang hidup di ruang kelas dan lingkungan madrasah.

Ada dua lapisan dalam akronim ini :

1. Gerakkan ide seruan untuk membangkitkan kreativitas, merangsang pemikiran baru, dan menumbuhkan semangat berinovasi.

2. Langsung aksi – ajakan untuk tidak berhenti di ide, tapi menjemput kenyataan dengan tindakan yang konkret dan berdampak.

Ejaan ganda pada huruf L dalam “Langsung”tak sekadar gaya nyentrik, tapi bisa dimaknai sebagai penekanan : sebuah aksi yang bukan hanya cepat, tetapi juga luar biasa langsung, menyatu antara niat dan realisasi.

Paradoks yang Menginspirasi

Secara semantik, penggunaan kata “gila” tentu memantik kontroversi. Dalam konteks umum,“gila”identik dengan keganjilan, ketidakwarasan, bahkan penyimpangan. Namun di tangan seorang pemimpin visioner, kata ini dilucuti dari stigma negatifnya, kemudian dipulihkan sebagai simbol keberanian berpikir dan bertindak di luar kelaziman.

Paradoks inilah yang justru menjadi daya gedor retoris. Dengan“GILA” Hendri Pani Dias memperkuat kinerja kepala madrasah. Ia memberikan tantangan untuk melangkah lebih cepat.

Narasi Aksi : Inovasi di Tengah Keterbatasan

Bukan sekadar slogan kosong, ”GILA” telah menjelma jadi gerakan nyata. Di sejumlah madrasah di Sumatera Barat, terutama di pelosok dengan segala keterbatasannya, sejumlah kepala madrasah telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang inovasi, melainkan justru ruang kelahiran kreativitas.

 

Ada madrasah yang membangun laboratorium sains dari barang-barang daur ulang. Ada pula yang memanfaatkan teknologi sederhana untuk menciptakan sistem pembelajaran hybrid berbasis lokal. Beberapa bahkan mengubah halaman sempit madrasah menjadi ruang digital. taman edukasi yang melibatkan siswa dalam kurikulum hidup berkelanjutan.

Mereka adalah para “gila” dalam makna terbaik dari kata itu. Mereka bergerak. Mereka bertindak. Mereka merobek garis normal demi melahirkan hasil luar biasa.

Analisis: Inovasi sebagai Resistensi Struktural

Dari sisi ilmiah, gerakan “GILA” dapat dibaca sebagai bentuk resistensi terhadap stagnasi struktural. Sistem pendidikan yang sarat regulasi, kurikulum seragam, dan kendala anggaran sering menjadi alasan utama mandegnya perubahan. Dalam kerangka ini, inovasi yang dilakukan para kepala madrasah merupakan bentuk perlawanan terhadap determinasi struktural.

Melalui pendekatan grassroots innovation, gagasan-gagasan besar justru lahir dari akar rumput dari madrasah kecil di lembah atau lereng bukit, bukan dari menara gading akademik. Ini menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu butuh teknologi tinggi atau dana besar, tetapi lebih membutuhkan keberanian berpikir dan bertindak nyentrik.

 

Penutup : ”GILA” sebagai Identitas Gerakan Madrasah Masa Depan

 

“GILA” bukan sekadar akronim. Ia adalah identitas baru, semangat baru, dan cara pandang baru dalam membangun madrasah yang relevan dengan zaman. Di tengah perubahan sosial, teknologi, dan tantangan global, madrasah harus menjadi ruang yang hidup bukan museum nilai, tapi taman gagasan.

 

Arahan Hendri Pani Dias, dengan satu kata itu, telah menggetarkan lanskap narasi pendidikan madrasah khususnya tingkat MA di Sumatera Barat. Sebab dalam satu kalimat yang “gila” ia menyuntikkan harapan, membakar semangat, dan menantang setiap insan madrasah untuk menjadi agen perubahan, bukan korban keadaan.

Dan mungkin, di masa depan, ketika sejarah mencatat kebangkitan madrasah di Sumatera Barat, semuanya bermula dari satu kata:

“GILA.”jadilah i spirasi sepanjang hari.