“Guru SMK YPK 1 Pariwisata Biak Keluhkan Kepemimpinan Kepala Sekolah: Ada Pengkotak-kotakan, Oknum TNI Ganggu Proses Belajar”
Dilaporkan oleh Paulus Laratmase
–
Biak – suaraaanaknegerinews.com|Kepemimpinan Kepala SMK YPK 1 Pariwisata Biak, Riana Puspita Sarie, S.Pd., Gr., M.Pd., M.Si, kini tengah disorot oleh sejumlah guru dan tenaga kependidikan. Mereka menyuarakan keresahan terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai tidak efektif, terutama karena adanya praktik pengkotak-kotakan dalam manajerial sekolah yang disebut-sebut menghambat mutu pendidikan.
Kepala sekolah idealnya menjadi motor penggerak dalam menciptakan semangat kolektif, kedisiplinan, serta etos kerja yang tinggi bagi seluruh komponen sekolah. Namun, di SMK YPK 1 Pariwisata Biak, suasana internal justru dinilai tidak sehat karena munculnya perlakuan berbeda terhadap sebagian guru.
“Sudah sejak beberapa waktu ini suasana kerja menjadi tidak kondusif. Ada perlakuan berbeda terhadap guru-guru tertentu. Seakan-akan ada kelompok yang lebih dekat dengan pimpinan dan mendapat perlakuan istimewa, sementara yang lain kurang diperhatikan,” ungkap Markus Ampang, S.Pd, salah satu guru, dalam pertemuan dengan Pengurus Wilayah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Tanah Papua.
Lebih lanjut, Markus menegaskan bahwa ketidaksetaraan tersebut mencakup komunikasi, pembagian tugas, hingga kesempatan pengembangan profesional. Hal ini berimbas pada turunnya semangat kerja guru dan akhirnya berdampak pada mutu layanan pendidikan bagi siswa.
“Kepemimpinan bukan sekadar posisi, tapi tanggung jawab moral untuk mengayomi semua pihak. Kalau hanya memotivasi satu kelompok saja, yang lain akan merasa dikesampingkan. Padahal semua guru punya tanggung jawab yang sama dalam mendidik anak-anak,” tambahnya.
Tak hanya itu, minimnya keterlibatan guru dalam pengambilan keputusan dan tertutupnya komunikasi manajerial juga memperburuk situasi. Sejumlah inisiatif penting seperti pengembangan kurikulum dan program tahunan berjalan tidak optimal karena tidak adanya kerjasama lintas unit kerja.
Parahnya lagi, para guru juga mengeluhkan kehadiran seorang oknum TNI yang hampir setiap hari berada di lingkungan sekolah, dan dianggap sangat mengganggu kenyamanan proses belajar-mengajar.
“Sekolah kami setiap hari didatangi seorang yang berprofesi sebagai TNI. Kehadiran oknum ini sangat mengganggu kenyamanan para guru dan siswa dalam proses belajar-mengajar,” tegas Markus.
Karena keluhan mereka tidak mendapat tanggapan positif dari Pengurus Sekolah Wilayah (PSW) YPK Biak Numfor, sejumlah guru akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan permasalahan ini langsung kepada Bupati Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, S.H., M.M, pada 9 April 2025.
“Kami bersyukur dan berterima kasih karena Bapak Bupati menerima kami dengan sangat ramah dan mendengarkan semua keluhan yang kami sampaikan,” ucap Markus.
Menurutnya, tanggapan Bupati sangat tegas. Ia langsung memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan Biak Numfor agar mengingatkan Kepala Sekolah untuk tidak lagi membiarkan oknum TNI masuk ke lingkungan sekolah. Jika masih terjadi, maka akan dilaporkan langsung ke pihak pimpinan TNI untuk ditindak secara tegas.
Kondisi ini menunjukkan adanya krisis kepemimpinan yang berpotensi merusak iklim pendidikan. Padahal, sekolah mestinya menjadi tempat yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan profesional semua pihak yang terlibat.
Para guru berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap gaya kepemimpinan kepala sekolah saat ini. Ruang dialog yang terbuka dan setara sangat diperlukan untuk mengembalikan keharmonisan di lingkungan SMK YPK 1 Pariwisata Biak.
“Mari kita kembalikan semangat kebersamaan. Sekolah ini milik kita bersama, dan siswa-siswa kita layak mendapatkan pendidikan terbaik dari tenaga pendidik yang bekerja dalam suasana yang harmonis,” tutup Markus Ampang, S.Pd.