April 24, 2026

Laporan Tonnio Irnawan

Informasi bahwa Gus Dur bersama Ketua Umum DPP PDI – Megawati Sukarnoputri akan hadir dalam acara peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW beredar di kalangan massa pendukung Mega. Peringatan akan diadakan di halaman Bioskop Megaria – Jakarta, Ahad pagi 28 Juli 1996. Sejak Jumat (26/7) persiapan sudah dimulai. Halaman bioskop disapu dan diberi alas tikar. Jarak Megaria dengan kantor DPP PDI kurang lebih 100m. Karena Gus dan Mega akan hadir tentulah akan memancing ribuan orang datang. Gus Dur selama ini memberikan dukungan moral kepada Mega dalam konflik internal PDI. Beredar juga info bahwa Iwan Fals akan tampil di panggung Mimbar Bebas di Kantor PDI.

Mimbar Bebas seizin Pangdam V Jaya Mayjen Sutiyoso agar massa pro Megawati tidak turun ke jalan. Kebijakan ini diambil setelah terjadi peristiwa Gambir Berdarah, 20 Juni 1996. Saat itu massa PDI dan warga pro Megawati mengadakan aksi turun ke jalan dari Kantor DPP PDI ke Departmen Dalam Negeri yang letaknya dekat Istana Presiden Soeharto. Mereka ingin protes karena pemerintah dianggap mencampuri urusan internal partai dengan menaikkan Suryadi sebagai Ketua Umum PDI pada Kongres di Medan yang berlangsung ricuh. Padahal pada kongres sebelumnya Megawati Sukarnoputri yang dipilih sebagai ketua umum dan periode jabatannya belum berakhir. Kalau tidak salah hari itu Senin. Sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WIB massa mulai berjalan kaki melewati Jalan Diponegoro dan Jalan Imam Bonjol. Saya dan isteri berada dalam rombongan. Di depan kami ada beberapa polisi setengah berlari. Sengaja saya menjegal kaki kiri seorang polisi. Untungnya dia tidak jatuh hanya sedikit terhuyung.

Matahari musim kemarau cukup membakar kulit. Massa semakin panas. Di depan Stasiun Gambir massa dihadang polisi dan tentara antihuru hara. Di belakangnya terlihat beberapa panser. Massa menghentikan derap langkah. Aktor film terkenal Sophan Sophiaan berpakaian perlente berjas hitam naik ke atas kap mobil. Saya masih ingat karena memotret adegan ini dan fotonya hingga kini masih tersimpan di album. Rupanya ia mengambil inisiatif mengendalikan massa demonstran menghadapi hadangan polisi dan tentara. Entah bagaimana kejadiannya tiba – tiba aparat mulai membubarkan massa dengan kekerasan. Ada yang melawan, tapi lebih banyak yang mundur. Sebagian lari menyelamatkan diri termasuk saya hingga sampai di Bioskop Megaria. Sambil berlari atau berjalan cepat sebagian terlihat tertawa – tawa. Karena diajak berlari, sandal isteri saya putus. Selain lelah yang dirasakan adalah dahaga dan lapar. Lalu saya dan istri makan siang di sebelah bioskop.

Tersiar info ada beberapa orang tewas terlindas kendaraan aparat keamanan, tapi istilah kini itu hoax. Yang pasti belasan orang luka – luka.

Setelah Gambir Berdarah, gelombang protes dipindahkan lokasinya ke kantor DPP agar lebih tertib dan mudah dikendalikan. Bukannya mereda justru dari hari ke hari orang – orang dari mana saja bertambah banyak. Tanpa identitas jelas, sehingga sulit mengetahui siapa teman siapa lawan bahkan intel – intel turut berbaur. Suatu ketika seorang perempuan muda aktivis meragukan saya. “O itu Tonnio dari ISKA,” kata Budiman Sujatmiko kepada perempuan itu. Maklum saja saya berpakaian layaknya orang kantoran, berkulit rada kuning dan matanya tak sebesar kebanyakan orang.

Menurut pandangan saya tanpa keterlibatan warga khususnya anak – anak muda terutama mahasiswa, Mimbar Bebas tak berumur panjang. Bisa dimaklumi PDI adalah partai kecil yang minim SDM dan cuma punya sedikit dana. Apalagi PDI dipecah. Ada yang masuk kelompok Suryadi yang didukung pemerintah. Yang setia pada Megawati antara lain Jacob Nuwa Wea, Sophan Sophiaan, Mangara Siahaan, Noviantika Nasution, dr Suko Waluyo, Suparlan, Alex Litay. Haryanto Taslam, dan Roy BB Janis. Mereka inilah yang sering ada di Mimbar Bebas. Sayangnya ketika PDI kemudian memenangkan Pemilu sebagian mereka seperti Sophan, Roy, Novi, Taslam dan beberapa yang lain tidak lagi sejalan dengan Mega lalu mendirikan partai meski kemudian bubar jalan. Sophan bahkan mengundurkan diri dari Senayan.

Suasana Mimbar Bebas semakin semarak karena dukungan para mahasiswa misalnya dari Yayasan Pijar yang sebagian aktivisnya dari Kampus Universitas Nasional -Pasar Minggu. Kalau tak salah pegiatnya antara lain Daulay yang bertubuh subur dan brewokan serta seorang bernama Eko. Juga Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) yang dipimpin Munif Laredo, mahasiswa dari kampus di luar Jakarta. SMID yang paling sering turun ke jalan, sehingga para tokoh yang ada dalam rekaman intel. Setelah peristiwa Sabtu subuh berdarah, Munif diculik dan disiksa aparat . Beberapa minggu dalam sekapan tentara, Munif dilepas begitu saja. Lama setelah itu, dua kali saya bertemu dengan Munif yang kembali ke Pekalongan membuka usaha mebel milik keluarganya. Ia menjauhkan diri dari hiruk pikuk pergaulan yang berebutan kekuasaan setelah pemerintahan beralih. Dukungan besar juga datang dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang baru saja dibentuk anak – anak muda. Mimbar Bebas akhirnya menjadi panggung para politisi yang ingin tampil. PRD menjadi populer karena keterlibatannya dalam aksi mendukung PDI pro Mega.

Menurut saya, aksi menentang pemerintah mulai berani muncul pasca pemerintah mencabut SIUPP Majalah Tempo, Majalah Editor, dan Tabloid Detik beberapa tahun sebelumnya. Para wartawannya, seniman, intelektual, dan mahasiswa mulai berani turun ke jalan. Akibat kebijakan keras pemerintah terhadap kampus, mahasiswa memilih membentuk kelompok diskusi dengan aktivisnya seperti Deny JA dan Rizal Malaranggeng. Dari peristiwa – peristiwa inilah benih – benih perlawanan mulai disebarkan. Dosen UI – Dr Sri Bintang Pamungkas aktif memberi pendidikan politik kepada mahasiswa. Bintang lalu mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) yang usianya seumur tanaman jagung.

Sebagian wartawan yang medianya dibreidel, bergerak di bawah tanah antara lain menerbitkan majalah Independen yang dari diedarkan secara sembunyi – sembunyi. Berdiri juga Aliansi Jurnalis Independen (AJI), organisasi para wartawan setelah sekian dekade hanya PWI, wadah tunggal untuk para wartawan. Hingga kini AJI tetap eksis.

Megawati beberapa kali datang ke Diponegoro. Beberapa kali bertebaran info bahwa ketua umum akan memberikan pidato. Karena info ini ratusan orang sabar menunggu meski akhirnya seperti judul cerita : dia yang tak kunjung datang. Saya menyaksikan sekali Megawati naik mimbar menyampaikan pidato. Saya sempat memotret adegan Mega di mimbar dikelilingi antara lain : Jacob Nuwa Wea, Ridwan Saidi, Mangara Siahaan, Sri Bintang Pamungkas.

PERAYAAN EKARISTI

Sore turun. Maghrib tiba. Biasanya massa mulai pulang karena pintu pagar halaman kantor DPP dikunci agar tak ada lagi orang bisa masuk. Malam itu beda. Di dalam kantor PDI, Kamis (25/7/1996) mulai pukul 19.00 WIB ada perayaan ekaristi yang diselenggarakan teman-teman DPC Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Jakarta Timur dan Yayasan Kasimo. Setelah Partai Katolik difusikan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI), maka dibentuklah Yayasan Katolik. Kantornya di sebuah rumah tua berlantai dua di Jalan Kramat.

Yang mempersembahkan misa adalah Pastor Dr Niko Hayon, SVD yang tinggal di Wisma Soverdi, Jl Matraman Raya. Salah seorang pengurus DPC ISKA Jakarta Timur yakni Sdri Budiarti cukup dengan Romo Niko, sehingga dengan senang hati ia mau mempersembahkan misa.

Rencanya Kamis malam berikutnya akan ada misa di tempat yang sama. Kurang lebih pukul 9 malam, misa selesai. Kantor DPP PDI sepi dan akan mulai kembali didatangi massa pro Ketua Umum DPP Megawati, esok paginya biasanya mulai pukul 10 pagi dan bertambah ramai menjelang petang.

PENYERBUAN

Jumat siang (26/7/1996) ada seminar di Kampus Sekolah Tinggi Teologi (STT) di Jalan Proklamasj – Jakarta, sekitar 150 meter dari Kantor DPP PDI. Ratusan orang hadir. Jalanan di depan kampus hingga Kantor DPP PDI dipenuhi massa. Pedagang mencari rezeki. Mereka berjualan di kaki lima yang sebenarnya dilarang dipakai berjualan.

Sore pergi, malam datang. Tidak seperti biasanya malam ini sepanjang jalan di depan Kantor DPP PDI masih ramai. Ada yang pulang setelah dari pagi berada di sana, namun mereka digantikan yang lain. Beberapa hari sebelumnya sudah beredar isu bahwa kantor DPP akan diserbu. Malam isu tersebut semakin beredar. Kalangan jurnalis menerima info bahwa penyerbuan akan dilakukan usai acara internasional yang diadakan pemerintah di Jakarta. Karena isu ini ratusan anak muda diantaranya dari Indonesia Timur malam itu memutuskan berjaga-jaga di dalam kantor PDI. Mereka akan mempertahankan kantor. Kantor memang bangunan tua yang kondisinya membutuhkan perbaikan atau renovasi. Kantor ini adalah lambang kedaulatan partai. Bagi anak – anak muda yang sebagian besar bukan kader dan anggota PDI, pengambilalihan kantor atau apapun namanya merupakan upaya penghancuran demokrasi. Suasana malam terasa mencekam. Di tempat lain beberapa kilometer dari Jalan Diponegoro, persiapan penyerbuan dimatangkan. Namun massa di Jalan Diponegoro tak mengetahui.

Malam itu saya bersama isteri masih di sana dan bertemu P, teman ex PMKRI yang bekerja sebagai PNS. Teman – teman menyebut P kini bekerja sebagai intel. Ia menyuruh saya segera pulang. Saya mengerti maksudnya demi keselamatan diri saya dan memang ingin pulang karena esok masuk kantor. Sebelum pulang sempat bertemu dan berbincang singkat dengan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) – Budiman Sudjatmiko.

Hampir tengah malam ketika berdua, saya dan istri naik bus PPD 213 rute Grogol – Kampung Melayu yang melewati Jalan Diponegoro. PPD 213 adalah bus legendaris yang penuh sesak penumpang dan merupakan tempat favorit tukang copet beraksi.

SABTU KELABU

Sabtu pagi 27 Juli 1996 saya sudah di kantor di Wisma BCA , Jalan Sudirman. Tidak seperti biasanya kantor sepi. Telepon berdering memberi info kepada saya bahwa kantor PDI diserbu gerombolan orang. Segera saya telepon Pak Djohn Djelahut Tagung yang esok menjadi narasumber acara ISKA di Klender. Ia sudah menerima kabar dari orang lain. Rupanya berita penyerbuan ini telah tersebar, sehingga teman sekerja tak ada yang berani masuk kantor. Saya minta Darsono, sopir kantor mengantar saya ke Jl Diponegoro. Mobil diparkir jauh dari Diponegoro karena jalan-jalan diblokir tentara dan polisi. Kendaraan lapis baja di mana-mana. Puing-puing berserakan.

Semakin siang kian ramai. Massa mulai melempar batu ke arah polisi. Kami dikejar polisi Brimob. Menyelamatkan diri berlari melewati rel kereta api ke arah Tugu Proklamasi. Karena pasukan Brimob bersepatu lars dan membawa tameng, larinya lebih lambat daripada yang dikejar apalagi kami berlari di atas rel kereta yang berbatu. Selamat lalu saya menuju halaman Megaria sambil mengumpat polisi. Saat itu mulai terjadi pembakaran mobil dan gedung. Polisi menyerbu masuk halaman dan masuk ke dalam gedung bioskop dan mencari demonstran yang bersembunyi di sana. Saya sudah meninggalkan Megaria sebelum penyerbuan oleh polisi.

Bersama Dian Nusandari saya berlari ke arah RS Carolus. Saya berkenalan dengan Dian karena sama – sama sering berada di kantor DPP PDI lalu menjadi akrab. Di Jalan Salemba dari arah Kramat datang pasukan marinir dengan tank. Beda dengan polisi, massa tidak menyerang marinir karena mereka menunjukkan sikap simpatik.

Berdua Dian kami masuk halaman RS Carolus yang dipenuhi massa pendukung Mega yang lari kocar kacir dari arah Jalan Diponegoro. Polisi tidak bisa masuk karena pintu pagar halaman dikunci. Di sana saya bertemu dengan polisi yang saya umpat di Megaria. Ia masih mengenali saya. Untunglah seorang anak muda kelihatannya seorang wartawan mencegah polisi itu. Selamatlah saya.

Hampir maghrib saya terpaksa bergegas ke Samadi Klender karena Sabtu sore hingga Ahad sore ISKA Komda DKI bikin acara. Karena saya Ketua Dewan Pimpinan Cabang ISKA Jakarta Timur, saya ditunjuk sebagai panitia. Saya menghentikan sepeda motor dan minta boncengan hingga terminal Kampung Melayu dan melanjutkan naik metro mini. Kira-kira pukul 19.00 WIB saya tiba di Wisma Samadi. Teman-teman merisaukan saya. Mereka termasuk isteri telah lama menunggu. Saat itu HP masih barang mewah dan hanya sedikit orang yang punya, sehingga mengandalkan radio panggil (pager). Ini pun saya tidak punya. Dari Sabtu malam hingga berakhirnya acara di Samadi, Ahad sore kami tidak mengetahui perkembangan yang terjadi. Sepulangnya dari Klender ke rumah di Cawang, suasana Ahad malam mencekam.

Pasca 27 Juli 1996, kantor DPP rusak parah dan tak boleh lagi dipakai. Perjuangan dilanjutkan dari rumah tinggal Taufik Kiemas dan Megawati di Jalan Kebagusan dekat Pasar Minggu. Halamannya luas dan teduh karena rimbun pohon. Halaman ini yang tadinya sepi kini menjadi sebaliknya.

Dini hari Sabtu, 27 Juli 2025 atau 29 tahun setelah kejadian saat saya menulis catatan singkat ini saya bernyanyi dalam hati. Begini : “Mega pasti menang. Pasti menang. Pasti menang.” Lagu itu dahulu kerap dinyanyikan. Liriknya yang singkat diulang beberapa kali penuh semangat dan keyakinan bahwa itu akan tercapai.

Mega memang kemudian menang. Partai yang dipimpinnya hingga kini terus memenangkan Pemilu. Ia menjadi wakil presiden dan presiden. Mega pasti menang dan memang menang. Apakah rakyat pasti menang dan sudah menang? Ah ini lain cerita. Ini cerita lain.

Terima kasih,
Salam Perjuangan!!!