Hadiah di Tengah Lautan Harapan—Suara Buruh Maluku dari Monas
Oleh : joko
http://suaraanaknegerinews.com | Jakarta, 1 Mei 2025. Matahari belum sepenuhnya tinggi, namun Lapangan Monas sudah disesaki ribuan buruh dari berbagai penjuru negeri.
Di antara lautan topi merah dan spanduk berwarna-warni, berdiri seorang pria yang datang dari Timur Indonesia—Dimas Luanmase, Ketua Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Provinsi Maluku.
Ia berdiri tegap, membawa harapan dari pulau-pulau yang kerap tak terdengar dalam hiruk-pikuk kebijakan pusat.
Hari itu bukan sekadar upacara, bukan hanya peringatan, hari itu adalah momentum: ketika suara buruh bukan hanya menggema, tapi benar-benar didengar.
Presiden Prabowo Subianto, hadir langsung di tengah-tengah massa, menyampaikan sesuatu yang tak biasa.
Bukan sekadar pidato seremonial, tapi sebuah pengumuman penting: pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional.
“Saya ingin memberikan hadiah kepada kaum buruh hari ini. Saya akan segera membentuk Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional,” ucapnya lantang di atas panggung, suaranya disambut tepuk tangan dan sorak sorai dari ribuan pekerja.
Dimas, yang menyimak dari barisan depan, mengangguk penuh haru, di balik sorot matanya, ada rasa lega sekaligus tekad.
Ia tahu benar perjuangan kaum buruh tidaklah mudah, terlebih di daerah-daerah seperti Maluku, yang kerap berada di ujung perhatian Nasional.
“Kami, buruh dari timur, menyampaikan terima kasih, baru enam bulan menjabat, Presiden telah menunjukkan keberpihakan nyata,” ujar Dimas, sesaat setelah pidato berakhir.
Baginya, kebijakan ini bukan sekadar janji, sebelumnya sudah ada Desk Ketenagakerjaan, lalu Satgas PHK.
Dan kini, langkah yang lebih strategis dan menyeluruh: dewan yang bisa menjadi wadah formal untuk menyuarakan kebutuhan buruh dari Sabang sampai Merauke.
Namun Dimas sadar, janji tinggal janji jika tidak dikawal, maka ia menyerukan, tak hanya kepada pemerintah, tapi kepada rekan-rekannya sesama buruh:“Inilah yang harus kita dukung dan kawal bersama, agar bukan hanya terbentuk, tapi juga bekerja nyata.”
Hari itu, di tengah langit Jakarta yang cerah dan semangat yang menyala, sebuah lembar baru dalam perjuangan buruh Indonesia mulai ditulis.
Dan dari pulau-pulau di timur hingga gedung-gedung tinggi di ibu kota, harapan itu kini punya nama: Kesejahteraan yang Diperjuangkan Bersama.