Hangatnya Sambutan Para Penjaga Nilai: Catatan Lapangan Penelitian di Biak Numfor
Oleh: Srikandi Poncowati|Guru SMAN 1 Biak
_
Srikandi Dwi Poncowati adalah mahasiswa Program Doktor (S3) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang saat ini tengah melakukan penelitian mengenai Manajemen Pendidikan Keluarga Berbasis Kearifan Lokal Biak. Penelitian ini berangkat dari keyakinan bahwa keluarga merupakan ruang pendidikan pertama dan utama, sekaligus fondasi pewarisan nilai-nilai budaya yang membentuk karakter generasi muda. Dalam konteks Biak Numfor, nilai-nilai tersebut hidup, dijaga, dan diwariskan melalui peran tokoh adat serta struktur sosial yang masih berakar kuat hingga hari ini.
Proses pengumpulan data melalui wawancara mendalam bersama para tokoh adat di Biak Numfor menjadi pengalaman lapangan yang bukan hanya bernilai akademik, tetapi juga meninggalkan jejak personal yang membekas. Setiap perjumpaan menghadirkan kehangatan, keterbukaan, dan rasa kekeluargaan yang begitu terasa, sebuah pengalaman yang menegaskan bahwa penelitian tidak semata-mata tentang instrumen dan data, melainkan juga mengenai relasi, kepercayaan, dan kemanusiaan.

Wawancara pertama dilakukan bersama Drs. Yunus Yulius Omnisbah Mandibodibo, S.H, tokoh adat berusia 81 tahun. Beliau merupakan Ketua Lembaga Adat Biak Numfor Supiori versi pemerintah yang terdaftar secara resmi melalui Kesbangpol. Sejak tahun 2022, beliau memangku jabatan adat dari Keret Mandibodibo dan memimpin 14 keret. Dalam usia yang sarat pengalaman dan kebijaksanaan, beliau menerima peneliti dengan sikap tenang, ramah, dan penuh ketulusan. Setiap tuturan yang disampaikan terasa reflektif dan bernas, memperlihatkan kedalaman pandangan seorang penjaga nilai adat yang telah lama mengabdikan hidupnya bagi masyarakat Biak.

Wawancara kedua berlangsung bersama Bapak Herman Warwer (65 tahun), berasal dari Saba Oridek, Biak Timur. Perjumpaan ini terjadi di Dermaga BMJ, di sela-sela waktu keberangkatan beliau menuju Serui. Di tengah keterbatasan waktu dan suasana perjalanan, beliau tetap meluangkan kesempatan untuk berbagi pandangan dan pengalaman. Percakapan yang berlangsung singkat namun hangat itu menjadi potret nyata sikap kooperatif serta kepedulian tokoh masyarakat terhadap upaya akademik yang bertujuan menggali dan merawat kearifan lokal.

Narasumber ketiga adalah Bapak Sefnat Koibur (68 tahun), pimpinan adat Keret Koibur. Wawancara berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh keakraban. Beliau menyampaikan pandangan mengenai pendidikan keluarga, nilai tanggung jawab, serta peran adat dalam membentuk karakter generasi muda dengan bahasa yang sederhana namun kuat. Dari perjumpaan ini tampak jelas bahwa nilai-nilai pendidikan tidak selalu diwariskan melalui konsep formal, melainkan melalui keteladanan, kebiasaan, dan praktik hidup sehari-hari dalam keluarga serta komunitas.

Wawancara keempat dilakukan bersama Bapak Yan Piter Yarangga (60 tahun), Ketua Dewan Adat Biak di Tanah Papua. Dengan sikap terbuka dan penuh wibawa, beliau menerima proses wawancara sebagai bagian dari ikhtiar bersama menjaga identitas serta nilai luhur orang Biak. Pandangan beliau memperkaya perspektif penelitian, terutama dalam melihat keterkaitan antara adat, keluarga, dan pendidikan generasi muda di tengah tantangan zaman yang terus bergerak dan berubah.
Keempat perjumpaan ini bukan sekadar proses pengumpulan data, tetapi menjadi ruang belajar yang sarat nilai kemanusiaan. Keramahan, kebaikan, serta sikap kooperatif para narasumber mencerminkan kuatnya budaya Biak yang menjunjung tinggi relasi, rasa hormat, dan kebersamaan. Suasana wawancara yang hangat dan cair memungkinkan dialog berlangsung secara jujur, reflektif, dan penuh makna, memberikan energi tersendiri bagi peneliti dalam menjalani seluruh proses riset.
Melalui catatan ini, peneliti menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh narasumber yang telah menerima dengan penuh keterbukaan, meluangkan waktu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup. Keramahan dan kebaikan yang diberikan tidak hanya memperkaya penelitian ini secara substansi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur keluarga dan kearifan lokal Biak tetap hidup, relevan, dan menjadi sumber pembelajaran berharga bagi dunia pendidikan.