“HUJAN AIR MATA”: Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi "HUJAN AIR MATA": Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Editor: Leni Marlina. Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No.925-350 (Asisted by AI).
Editor: Leni Marlina
/1/
HUJAN AIR MATA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Langit menundukkan kepalanya,
menumpahkan
hujan air mata ke jalan-jalan,
yang telah hilang.
Tiang-tiang rumah
tenggelam seperti doa yang belum selesai,
kampung halaman
asal kejujuran
terkubur dalam tubuh sungai yang tak lagi jinak.
Tapi tanah ini tidak meminta belas kasihan.
Ia menyimpan sabar dalam akarnya,
mengerti bahwa air yang menghancurkan,
adalah air yang juga akan melahirkan kembali.
Kami bukan yang akan menyerah,
kami adalah yang akan tumbuh kembali,
dengan cabang lebih kuat,
dengan akar lebih dalam.
Padang, Sumatera Barat
2015
/2/
HUJAN DI LANGIT SORE
Puisi oleh Novrizal Sadewa
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen International Community]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
ada banyak cerita tentangmu
tapi tidak mampu kutuliskan
memandangmu adalah kerinduan
seperti kopi yang kau suguhkan
aku larut dalam cangkir cangkir waktu
kita berlayar
dalam kedalaman hati masing-masing
Padang, Sumatera Barat
Maret 2025
/3/
DIMANA KAMPUNGKU DULU?
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di mana kampungku dulu?
— di bawah sana.
Aku melihatnya dari perahu yang bukan perahu,
atap yang bukan atap,
gelombang yang membawa aroma rumah-rumah
yang lupa berpulang.
Seseorang di tepi arus meneriakkan namaku.
Tapi namaku tenggelam lebih dulu,
bersama sejarah,
yang kini hanya puing tanpa lidah.
Aku mengapung di atas janji yang karam,
menunggu tangan yang tak pernah sampai.
Di mana kampungku dulu?
Mengapa raib begitu saja?
Mengapa ia lebih rapuh dari sebuah janji?
Kampungku, kampungmu juga.
Apakah kita hanya akan mengenangnya
seperti bayangan yang larut dalam arus?
Tidak.
Mari kita bangun kembali,
bukan dengan janji, bukan dengan kata-kata,
tapi dengan tangan yang saling menggenggam,
dan keyakinan yang tak bisa dibanjiri dusta.
Padang, Sumatera Barat
2015
/4/
HUJAN PAGI INI
Puisi oleh Anto Narasoma
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Palembang, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
kembali kau tiba
memercik rasa haus yang membawa aku
ke jutaan kemiskinan
di kolong jembatan dan tempat pembuangan harga diri
begitu banjir air matamu
ketika tiba di pagi penuh doa, yang berjajar dalam kalimat kebencian atas ribuan hati yang korup
dari percikan air matamu ke dalam ingatan, hanya pertamina yang mengepakkan sayap
ke kubangan sampah kemiskinan bagi sembilan perampok cairan pertalite
o, kini kau datang lagi
setelah kau cuci daya ingat yang ikhlas itu nenghitung-hitung jumlah kekayaan BLBI dalam catatan perampokan di dalam saku celana tukang parkir
sebab,
rangking catatan para perampok berbaju jabatan itu hatinya berlumpur tebal
maka,
sebusuk cerita itulah
pada akhirnya,
hujan pagi ini mencuci hatiku untuk menatap
bangkai-bangkai busuk
yang menggelapkan cahaya negeriku paling padat korupsi ini
Palembang
Sumatera Selatan
8 Maret 2025
/5/
TANAH BASAH
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Halaman pertama adalah tanah basah.
Halaman kedua adalah sungai yang tak lagi punya arah.
Halaman ketiga adalah kaki-kaki yang terjebak dalam kelam.
Tangan manusia menggali kalimat-kalimat yang tenggelam.
Tapi lumpur lebih dulu menulis ulang cerita mereka.
Air membaca sunyi,
meninggalkan nama-nama yang berubah menjadi hening.
Dan kitab ini tak pernah selesai,
karena setiap banjir adalah bab baru,
yang menelan apa yang dulu mereka bangun.
Padang, Sumatera Barat
2015
/6/
HUJAN MALAM INI
Puisi oleh Novrizal Sadewa
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen International Community]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku telah bertudung hujan malam ini
menyusuri sisa kembara bersamamu
Pada buram kaca jendela
dan desau dedaunan
aku melihat buliran bening
menjelaga dari matamu
Kita diam tanpa suara
Lalu setangkai mawar
kau tancapkan di antara igaku
aku jatuh bersimbah rindu
dan hujan menghapus wajahmu
lipatan kelam membungkus lukaku
Samsul Bahri atau Datuk Maringgih
Ah, terkadang lelaki harus menurut kata hati
Padang, Sumatera Barat
November 2023
—————————————–
Novrizal lahir di Lintau, Sumatera Barat tahun 1972. Penulis pernah bekerja di sejumlah media, antara lain The Jakarta Post, Majalah Gatra, Metro TV, dan ANTV, sekarang staf pengajar di Prodi Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang
/7/
Sungai yang Mengunyah Kota
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sungai ini bukan sungai,
ia adalah rahang yang merobek kota,
mengunyahnya seperti nisan yang lupa dihafal.
Kami berdiri di tepian, melihat rumah-rumah kami jatuh ke dalamnya,
atap-atap berputar seperti doa yang tersesat,
jalan-jalan menggulung menjadi tulang yang tak lagi punya arah.
Batu-batu pecah menjadi aksara yang tak sempat kami baca,
dan nama-nama kami larut sebelum sampai ke bibir mereka.
Mereka, yang berbicara dari menara tinggi,
menyebut ini hanya siklus alam,
hanya air yang kembali ke tempatnya.
Mereka mengangkat gelas, menyeruput kopi,
sementara kami menadah hujan dengan telapak kosong.
Sungai telah melahap semuanya,
meninggalkan kita dengan mulut yang mengunyah sunyi,
dan kata ‘kenapa’ yang berkali-kali tenggelam tanpa jawaban.
Padang, Sumatera Barat
2015
/8/
PERJALANAN
Puisi oleh Muslimin
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]
perjalananku sungai-sungai keruh
lumpur sampah peradaban lenguh
sawah tegal kerontang
gersang dibeton menghilang air hujan
bukit gunung suwung
ditebang kerakusan tanpa jeda
tuna samudera
dirompak tanda tangan di bawah meja
kelana belantara
dibabat habis tanpa sisa
sasar kota-kota
tanpa tata menggeram gerah
damai lesap layang retas
sembunyi entah tak terdetak
hingga iqomah merdu mengharu
air wudhu dingin menggayuh
sujudku hening
meski sedetik
syahdu
Brondong-Lamongan
Jawa Timur
24 Desember 2024
—————————————
Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan, 20 Mei 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 di MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.
/9/
SUNGAI YANG MENELAN
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah tanah yang basah,
mengingat jejak-jejak kecil yang pulang dengan doa,
menyimpan akar yang merapal zikir sunyi
di bawah tubuh-tubuh yang tak lagi sempat berpulang.
Lalu engkau datang,
bukan sebagai hujan,
bukan sebagai angin,
tapi arus yang menyalin ulang nasib kami
tanpa bertanya,
tanpa menoleh.
Engkau menyusuri tubuh kami dengan rakus,
menggulung sawah yang kami jaga sejak zaman leluhur,
mencabut pepohonan yang selama ini menghafal nama-nama kami,
menyapu rumah-rumah yang lahir dari tangan kami sendiri.
Kami berusaha bertahan,
menjadi tanah yang menggenggam akar meski dicabut,
menjadi daratan yang tetap bernapas meski dipijak,
menjadi sungai yang merawat alirannya sendiri.
Tapi mereka—
mereka berdiri di tepian,
menonton kami seperti adegan yang bisa diulang,
mencatat air mata kami sebagai angka dalam laporan,
mengubah duka kami menjadi judul berita yang akan mereka lupakan.
Kami tak ingin menjadi berita.
Kami ingin menjadi pagi yang bisa kembali membuka jendela,
menjadi kampung yang tak harus mengenang dirinya dalam genangan.
Kami adalah tanah yang luka,
tapi luka ini takkan menjadikan kami,
lumpur yang hancur lebur.
Kami akan tumbuh kembali,
karena sungai hanya bisa menelan,
tapi tak bisa mengingat.
Kami yang akan mengingat.
Kami yang akan menulis ulang takdir kami sendiri.
Padang, Sumatera Barat
2015
/10/
Gelap di Balik Hidup Gemerlap
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Alarm telah berbunyi
Korupsi makin menjadi-jadi
Rakyatpun menjadi histeri
Indonesia gelap
Makin gulita
Bagai kehidupan
Tanpa cahaya
Mata hati telah buta
Tiadakah lagi masa depan
Walaupun bayangan
Tiada harapan
Selain kegelapan
Makin kelam
Indonesia suram
Mahasiswa memekik geram
Ekonomi bangsa terancam
Alarm lekaslah diam.
Banda Aceh
27 Febuari 2025
———————————–
Zulkifli merupakan penulis/penyair senior kelahiran Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.
/11/
SELAMAT PAGI, DUNIA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Selamat pagi, dunia—
kau yang berkedip di sekarat fajar,
kami bangkit dari reruntuhan malam,
menggenggam bara dalam genggaman purba,
mengeja tanah dengan luka-luka yang tak habis menganga.
Kami anak-anak gunung,
lahir dari rahim batu yang bergetar,
disusui gemuruh, dibesarkan debu,
berjalan di antara retak bumi
dan menamai setiap celahnya sebagai takdir.
Lihatlah, sungai menulis sajaknya di tubuh lembah,
luka-luka menguap menjadi kabut pagi,
dan gunung, dengan matanya yang berjelaga,
berbisik kepada kami:
tetaplah berdiri.
Kami tidak menghindari badai,
kami berdamai di dalamnya.
Kami tidak mengutuk bumi,
kami membacanya seperti kitab tua.
Karena tanah ini bukan sekadar rumah,
ia adalah perjanjian,
dan kami adalah saksi yang tak akan terhapus banjir,
tak akan tenggelam di antara puing-puing waktu.
Selamat pagi, dunia—
jika kau ingin mendengar kami,
jangan cari suara di angin,
bacalah denyut kami di tubuh bumi.
/12/
Hujan Es Negeri Tropis
Puisi oleh
Oka Swastika Mahendra
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Yogyakarta, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Langit tropis
Dahulu hangat
Kini hujan es
Mengguyur tanah retak
Sejuk merajuk bumi
Mengetuk genting
Meretak kaca kaca
Tak lagi mendamaikan
Tapi membekukan jiwa
Semua sedang mencari arah
Dahulu matahari
Sahabat pagi
Sekarang dia bersembunyi
Dalam kabut tebal
Tuhan mencipta dunia
Dengan penuh kasih
Kini alam menyapa bumi marah
Melihat langkah liar manusia
Perilaku berubah
Bergejolak seperti ombak
Arah yang tak menentu
Di mana kini cinta terperosok
Menjadi sumpah serapah dan amarah
Kehidupan kebersamaan negeri
Dahulu saling mengisi
Kini terkoyak oleh tamak
Ego diri dan tindakah kebodohan mulai menjalar
Hutan yang nyanyikan rindu
Kini terdiam terbakar
Panas hati dan kebodohan kita
Burung-burung yang terbang
Bebas lepas melintas langit biru
Sekarang menanggung beban
Udara saling curiga yang kian berat
Laut yang dahulu ibu sungai sungai
Pemberi hidup ikan dan biota
Kini menelan pesisir yang dahulu ramah
Tanah subur makmur
Pencukup kehidupan
Kini kering keronang
Tak ada yang tumbuh baik
Manusia sang
Makhluk mulia
Berganti rupa
Menjadi monster serakah
Mengejar kemewahan
Tinggalkan nilai hidup
Menyirami bumi dengan darah
Memuja kebencian dan kelalaian
Apa yang terjadi?
Pada hati nurani kita?
Apa yang tersisa
Pada dinding kebohongan?
Tangan yang dahulu memberi
Kini berprofesi merampas
Mata yang dahulu memandang dengan kasih
Kini terpejam sambil tangannya kejam
Hujan es ini
Bukan hanya cuaca
Tapi peringatan
Yang terlambat kita dengar
Tuhan menangis dalam diam
Menunggu manusia
Kembali pada jalan-Nya
Hujan es negeri tropis
Adalah bisikan akhir zaman
Jika kita tak berubah
Kita akan menjadi bekunya
Yogjakarta
11 Maret 2025
———————————
Oka Swastika Mahendra (lahir di Yogyakarta, 22 November 1958) adalah seniman yang menekuni teater, sastra, dan seni rupa. Sejak 1979, ia aktif di Teater Alam, serta bergabung dengan Gores Warna, Royal House Cultural Activity, dan Satupena DIY.
Karyanya meliputi naskah drama seperti Lesungan, Ki Bagus Rangin, Roro Jonggrang, Ontran-Ontran Balung Buto, Intrik di Sangiran, dan Menjaga Warisan, serta puisi yang terangkum dalam Demonstrasi, Aku Melihat Bumi Dari Langit, Membaca Bali, Membaca Banyuwangi, dan Membaca Indramayu (dalam proses).
Padang, Sumatera Barat
2015
/13/
Ketika Tuhan Datangkan Hujan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku berdoa meminta jawaban,
lalu langit membuka mulutnya dan turun sebagai hujan.
Aku bertanya,
apakah ini hukuman atau peringatan?
Tapi hujan tidak berbicara, hanya terus jatuh.
Aku melihat rumah-rumah hanyut,
tapi tak ada yang melawan.
Aku melihat anak-anak berpegangan pada doa,
tapi doa mereka tak bisa mengapung.
Ketika Tuhan datangkan hujan.
Mungkin karena kita tak dengar suara-Nya dalam keheningan.
Padang, Sumatera Barat
2015
/14/
SIKLUS KEHIDUPAN
Puisi oleh Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Siklus kehidupan
Pagi,
ini telah pagi lagi
Dulu,
masa telah berlalu
Kemarin,
kita masih bermain
Hari ini,
mereka telah pergi
Senja,
entah siapa pula
Takdir,
harapan terakhir.
Banda Aceh
15 Maret 2025
——————————
Zulkifli merupakan penulis/penyair senior kelahiran Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.
/15/
SUNGAI YANG DIAM
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di tanah ini,
sungai pernah mengalir dengan lembut,
menyusuri bumi seperti jemari cahaya,
menawarkan pelipur bagi dahaga yang jujur.
Namun kau datang, merantai arusnya,
membungkam lengkungannya dengan tembok batu,
mengubah alirannya menjadi jalan paksaan,
hingga ia lupa cara menyapa laut.
Tapi tanah berbisik padanya:
“Bersabarlah, wahai sungai, waktumu akan tiba.”
Maka kini ia kembali,
bukan sebagai ibu yang mengasuh,
melainkan sebagai arus yang menuntut haknya.
Ia meruntuhkan kota-kota yang merampasnya,
menyapu istana yang menahannya,
mencabut akar yang mengkhianatinya,
menelan jalan-jalan yang dulu menindasnya.
Kau kira ia telah melupakan takdirnya,
mengira diamnya adalah tunduk,
padahal ia hanya menanti,
seperti seekor naga di dalam kabut,
menyimpan nyala di dadanya,
menunggu saat untuk membakar dusta
agar keadilan kembali mengalir.
Padang, Sumatera Barat
2015
/16/
WAHAI HUJAN
Puisi oleh
Ramli Djafar ( Xie Zhongli )
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC, ACC SHILA; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hujan
Engkau datang begitu saja
Tiada pemberitahuan
Tanpa aba-aba sedikitpun
Aku takut menjadi basah
Aku takut terjadi banjir
Ataupun tanah longsor
Tetapi
Nun jauh disana
Saudaraku petani bersorak riang
Begitu gembira
Menyambut kedatanganmu
Sawah mengering
Ladangpun sudah kering kerontang
Kemarau seperti membelit
Membuat petani tiada daya
Wahai hujan
Engkau ternyata begitu dirindukan
Tetapi
Ada lagi kisah yang tak bisa dilewatkan
Saudaraku petani garam berkeluh kesah
Engkau leburkan kegembiraan mereka
Terpana
Tak berdaya
Tenggelam dalam permenungan
Menunggu
Menanti
Engkau berhenti menyirami bumi ini
Wahai hujan
Apa yang kau rasakan
disaat engkau dirindukan orang ?
Ataupun
Disaat keluh kesah terhadap dirimu ?
Padang, Sumatera Barat
Maret, 2024
———–‐—————————‐
Ramli Djafar merupakan anggota aktif PPIPM-Indonesia dan penulis aktif Satu Pena Sumbar, anggota Kreator Era AI Sumbar, juga merupakan anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; dan Poetry-Pen International Community. Sejumlah puisinya sudah diterbitkan dalam bahasa Cina di jurnal puisi ACC Shanghai International Literary Association (ACC SHILA).
/17/
Ketika Kau Kembali Dengan Rindu
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau kembali dengan rindu,
tapi rumah ini tak lagi ada.
Yang tersisa hanya abu,
dan aku yang masih menunggunya menjadi rumah kembali.
Di antara puing dan lumpur,
aku masih mengingat suara orang-orang yang tak sempat pulang.
Mereka tak pernah pergi,
hanya berubah menjadi angin yang berbisik di sela-sela reruntuhan.
Engkau bertanya, “Kenapa kau tetap di sini?”
Aku tersenyum, “Karena seseorang harus tetap mengingat.”
Padang, Sumatera Barat
2015
/18/
Kemuliaan-Mu Yang Tertinggi
Puisi oleh Nuris Fatmawati
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jateng, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Jauh di dasar,
aku tenggelam,
melukis air mata sepanjang
waktu,
mencari dalam
kehampaan.
Ketakutanku berkata,
menghitung hari—
duka, derita, beban, dan
terutama dosa,
dosa yang tak terlihat.
Engkau menyaksikan
segalanya yang
kusembunyikan.
Tuhan, aku tahu Engkau telah mendengar kisah ini,
aku tahu Engkau telah
melihat perbuatanku,
aku tahu aku telah berdosa,
bukan sekadar dosa,
tapi aku tersesat
dalam ketakutanku sendiri.
Aku mencari perlindungan
di jalan-Mu,
menghitung berkah yang
tak terhitung
dengan hati yang berdarah.
Di sisi ini, aku terus berjalan,
butuh cinta-Mu lebih,
butuh rahmat-Mu lebih,
butuh limpahan berkah-Mu
menjaga diriku—
dengan segala ketakutanku.
Oh, Allah Yang Maha Tinggi,
Mohon tuntun aku ke dalam Cahaya-Mu—
Nuurun ‘ala Nuur.
Temanggung, Jawa Tengah,
3 Maret 2025
———————————–
Nuris Fatmawati kelahiran Temanggung – Jawa Tengah, 20 Oktober 1982. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami bahasa daerah (Jawa), hobi menulis dengan huruf-huruf Carakan (Jawa). Memiliki 20-an karya solo berbagai genre dan 60-an karya antologi berbagai genre. Lulusan SMK YPM 5 Panjunan-Sukodono, Sidoarjo- Jawa Timur tahun 2000. Anggota Satupena Jawa Tengah. Memiliki beberapa nama pena dikarenakan mengembangkan hobi menulisnya di platform online.
/19/
DOA-DOA YANG BARU TIBA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di sini, di bawah air,
ada doa-doa yang baru tiba,
menemukan batu nisan yang sudah hanyut.
Mereka mengetuk kuburan-kuburan yang tak lagi berisi,
bertanya,
“Masihkah kalian mendengar?”
Tapi air lebih dulu menjawab,
dengan gelombang yang membisiki kita,
bahwa tak semua doa menemukan alamatnya.
Padang, Sumatera Barat
2015
/20/
Ketika Alam Menuntut Keadilan
Puisi oleh Lily Yovita
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kicau burung tak lagi mengalunkan melodi indah
Sumbang tertutup hingar bingar kehidupan
Ayam tak lagi berkokok di pagi hari
Karena mentari tak lagi memberi pertanda
Alam yang dulu indah dan damai,
Kini terluka karena keangkuhan manusia
Eksploitasi membabi buta
Merenggut segala yang ada
Pohon tak sempat lagi menua
Sungai yang jernih, keruh oleh propaganda
Saat keseimbangan dihancurkan
Alam menuntuk keadilan
Bencana datang tiba tiba,
Melukai mereka yang tak berdosa
Tangisan bumi merusak segalanya
Bersama gemuruh alam memberi pertanda
Aku takkan diam jika kau tak bisa di percaya
Padang
Sumatera Barat
2 Januari 2025
——————————————
Lily Yovita, M.Pd., merupakan anak dari pasangan M. Yazif Djalil (Alm) dan Aswita. Merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Lahir di Bukittingi tahun 1976. Setelah menyelesaikan S‐1 pada jurusan Kependidikan Matematika FPMIPA Universitas Negeri Padang pada tahun 2000, penulis mengabdi sebagai guru bantu di SMP Negeri 32 Padang sejak tahun 2003. Status sebagai PNS baru pengarang dapatkan pada tahun 2006. Pada tahun 2010, pengarang mendapatkan beasiswa S‐2 di Universitas Negeri Padang pada jurusan Teknologi Pendidikan dengan Prodi Pendidikan Matematika.
Di SMP Negeri 32 Padang, pengarang dipercaya sebagai wakil kurikulum sejak tahun 2015 -2023. Pada tahun 2020, pengarang terpilih mejadi salah seorang guru penggerak angkatan 1 dari Kota Padang. Kemudian pada tahun 2023 menjadi Pengajar Praktik Guru Penggerak Angkatan 93 Kota Padang.
Tanggal 29 Desember 2023, penulis dilantik menjadi pengawas SMP Kota Padang.
Karya penulis sebelumnya juga tergabung dalam 7 buku antologi Bersama guru-guru di Indonesia dan 1 buah buku solo (Kumpulan Puisi) yang berjudul “Awal yang Mengakhiri”.
/21/
Dilahirkan Kembali oleh Luka
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Negeri ini selalu dilahirkan kembali oleh luka.
Gunung yang muntah, laut yang menelan, langit yang menangis.
Dan setiap kali ia bangkit,
ia menatap ke langit,
bertanya kapan siklus ini berakhir.
Tapi Tuhan hanya memberi kita tanah yang tak pernah tenang,
mungkin karena kita sendiri yang lupa bagaimana menjadi rumah bagi sesama.
Padang, Sumatera Barat
2015
/22/
Di Tanah yang Dulu harum Namanya
Puisi oleh Ahkam Jayadi
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Makassar, Kreator Era Ai]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di tanah yang dulu harum namanya,
Tertulis janji dalam saksi sejarah,
Tapi kini rapuh,
terkikis luka,
Oleh tangan rakus tanpa
marwah.
Mereka yang duduk di
singgasana,
Bersumpah atas nama
rakyat jelata,
Namun diam-diam
menimbun harta,
Menghisap negeri hingga
merana.
Hukum dijual,
keadilan mati,
Pasal-pasal tunduk pada
ilusi,
Kebenaran diukur dengan
rupiah,
Nurani tenggelam dalam
ambisi.
Akar rumput menjerit di lorong gelap,
Menanti pagi yang tak
kunjung tiba,
Sementara,
tikus-tikus berdasi,
Berdansa di atas
derita bangsa.
Sampai kapan ini?
Sampai kapan ini, kan terus
terjadi?
Sampai kapan kita
diam membisu?
Jika tak ada yang
berani bersuara,
Maka tanah yang dulu
harum namanya,
akan karam selamanya.
Tak seorang pun dari kita,
menginginkannya terjadi,
negeri ini dibangun dengan keringat darah dan air mata perjuangan para pahlawan,
bukan dari warisan nenek moyang mereka.
Makassar, Sulawesi Selatan
2025
—————————————–
Ahkam Jayadi merupakan akademisi hukum tinggal di Makassar, anggota Satupena Makassar.
/23/
Banjir dan Ramadhan di Jendela Kota
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di dasar waktu yang mengalir tanpa tepian,
kami sujudkan rindu ke pangkuan sunyi,
kami masuki mihrab tanpa dinding,
tanpa kubah, tanpa lengkung azan—
hanya gema napas yang berserah.
Kami gelar sajadah yang kena lumpur,
di lantai yang hanyut bersama doa-doa,
atap yang bocor membaca langit,
tangan-tangan kecil menangkup kelaparan,
sementara Ramadhan menyala di jendela kota
yang tak pernah basah oleh duka kami.
Air naik bersama kesabaran,
menjilati tembok yang mulai rapuh,
menghapus jejak kaki ayah
yang pergi mencari rezeki
di lorong-lorong yang lupa pada namanya.
Waktu tak lagi hitam-putih,
fajar dan senja melebur dalam dekapan,
tapi di rumah yang tinggal setengah,
hanya dingin yang menghapal tubuh,
hanya langit yang mendengar rintihan.
Kami tepis bayang yang tak kekal,
sebab cahaya bukan sekadar kilau,
melainkan juga sesuatu
yang didendangkan angin ke setiap ufuk,
dan meski kami tertinggal di bawah air,
doa kami tetap melayang ke atas.
Maka, biarkan langkah kami tak menoleh,
sebab segala yang ditinggalkan
telah menjadi akar langit,
dan segala yang dituju
adalah cahaya yang tak bertepi.
Padang, Sumatera Barat
2015
/24/
Jejak yang Terhapus
Puisi oleh Linda Rosalina
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada jejak di lorong sunyi,
terukir dalam gerak yang
tak henti.
Membimbing angin muda menari,
mengajarkan irama dalam harmoni.
Di antara langkah yang
bersahaja,
terjalin makna dalam
cahaya.
Bukan sekadar nama di
lembaran resmi,
tapi nafas yang
menghidupi.
Lalu datang gelombang
tanpa suara,
menyapu jejak tanpa
bertanya.
Katanya,
demi keselarasan,
namun yang tersisa
hanyalah kehilangan.
Kini bayang-bayang tumbuh
di sudut lain,
megah namun,
tak berakar dalam.
Sebab yang terhapus,
bukan sekadar peran,
melainkan jiwa yang tak
tergantikan.
Padang
Sumatera Barat, 2023
—————————————–
Linda Rosalina adalah seorang akademisi, dokter, dan penulis yang aktif di bidang kesehatan serta memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai humanisme. Ia merupakan dosen di Universitas Negeri Padang (UNP) yang berkontribusi dalam berbagai penelitian ilmiah dan pengembangan ilmu kedokteran. Selain kiprahnya di dunia akademik dan medis, Linda juga memiliki ketertarikan besar pada sastra, khususnya puisi, yang ia gunakan sebagai medium refleksi dan ekspresi pemikiran. Baginya, puisi bukan sekadar karya seni, tetapi juga sarana untuk menyeimbangkan jiwa, menggali makna kehidupan, serta menyuarakan kepekaan terhadap realitas sosial dan kemanusiaan.
/25/
BERTAHAN MESKIPUN HANYA SISA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tak ada keajaiban yang datang mengetuk pintu kita.
Tak ada pelukan yang berkata:
sudah, istirahatlah.
Kita harus menjadi tangan yang menguatkan diri sendiri,
menjadi bahu untuk menampung beban yang tak dibagi.
Kadang kita bertanya dalam sunyi,
berapa lama lagi kita harus begini?
Tapi dunia tak memberi jawaban,
ia hanya terus menguji, menguji,
dan menguji,
seakan ingin melihat kapan kita runtuh.
Tapi jika mereka menunggu kita roboh,
mereka akan menunggu selamanya.
Karena kita adalah sisa-sisa manusia yang menolak hilang,
api yang memilih untuk tetap menyala,
meskipun angin derita terus menerpa.
Padang, Sumatera Barat
2015
/26/
LENTERA IMAN
Puisi oleh Dilla, S.Pd.
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hembusan angin zikir menggema
Lentera iman menuntun langkah yang lemah
Bulan mulia menyapa
Lautan kasih membentang di setiap iftar syukur
Di bulan rahmat, air mata taubat mengalir
Lentera ramadan membakar suluh di lorong sunyi
Gapai cinta Ilahi dalam pelukan malam sunyi
Menyatu dalam tahajud panjang damai dalam abadi
Jiwa-jiwa bersujud khusyuk menyentuh hati
Perjalanan panjang menuju cahaya Ilahi
Bulan sabit berbisik, menuntun langkah
Memanggil jiwa merintih resah
Dalam sujud, air mata jatuh
Hati rapuh dalam sunyi
Zikir lirih menyentuh langkah
Dalam kepasrahan hidup
Ada harap terpendam
Damai berlabuh mengiringi cinta pada sang Maha Kuasa
Bukittinggi, Sumatera Barat
Ramadhan ke-5 2025
——————————————
Dilla, S.Pd. lahir di Bukittinggi, pada tanggal 8 Juni 1981. Beralamat di Jl. H. Abdul Manan No. 49, Simpang Guguk Bulek, Bukittinggi. Saat ini mengajar di SMPN 2 Bukittinggi. Telah menerbitkan 6 buku tunggal dan puluhan buku antologi. Aktif menulis di berbagai media Massa cetak dan online dalam dan luar negeri. Penulis bisa dihubungi melalui email, dillaspd6@gmail.com, facebook: Espede Dilla, Instagram: @dilla.spd dan telegram: dilla S.Pd blog: www.dillaspd.my.id
/27/
KITA MASIH ADA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita sudah jatuh berkali-kali.
Sudah hancur,
sudah pecah,
sudah dikubur dalam kelelahan yang lebih gelap dari malam.
Tapi entah kenapa,
kita masih ada.
Mungkin kita sudah mati dalam cara yang tak terlihat.
Mungkin yang tersisa dari kita hanya sisa-sisa keinginan
untuk tidak hilang begitu saja.
Dunia telah melemparkan kita ke dalam jurang terdalam,
tapi lihatlah—bahkan di dalam kegelapan,
kita tetap menemukan cara untuk berdiri.
Kita adalah reruntuhan,
tapi kita bukan abu.
Kita adalah sisa-sisa yang menolak musnah di tangan mereka.
Padang, Sumatera Barat
2015
/28/
Aku dan Kau Dalam Skenario Semesta
Puisi oleh
Anies Septivirawan
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Bening bola mata
itu adalah hamparan bumi
bagi kata-kata
Ketika segerombolan gerimis pagi datang
menawarkan sepotong rembulan
engkau harus menempuh
jalan gelisah panjang nan melelahkan
bersama mesin waktu
kita berjalan
kita terjebak skenario semesta
kita bertemu
mendobrak pintu gerbang mimpi
kita bersatu
atas nama hukum alam
alam telah menyatukan
ada hingga tiada
Situbondo, Jawa Timur
Februari 2025
/29/
Sungai yang Menolak Menjadi Kuburan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di tanah ini,
sungai telah menjadi kuburan bagi mereka
yang tidak sempat menyelesaikan doanya.
Tetapi lihatlah—
air tetap mencari jalannya sendiri,
memotong batu,
membelah tanah,
menciptakan jalan pulang bagi mereka
yang belum sempat berpulang.
Ramadhan adalah sungai itu,
yang tidak akan membiarkanmu hanyut,
tetapi akan membawamu kembali
ke tempat di mana namamu masih disebut dengan utuh.
Padang, Sumatera Barat
2015
/30/
Pelabuhan Hati Bahagia Diri
Puisi oleh Mira Salsabila
[PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tersenyum merekah hati bahagia dalam gelombang hidup nan mulai indah
hati belari kencang menuju
pelabuhan kebahagiaan di samudra penantian
Tiada tara nikmat hidup yang ku rasa kala hati bahagia menuju pelabuhan indah walau gelombang duka itu ada namun gelombang suka selalu mengiringi setiap langkah indahku di dunia
Jangan pikir diri manusia jadi sempurna namun raih asa yang berguna terus maju dan penuh usaha
Tiap bait bait doa yakinlah Kuasa-Nya membersamai kita
Pelabuhan hati bahagia diri
Semangat lah terus mengalir bagai luas samudra yang buat diri ini tenang
Bahagia bersama gelombang kehidupan yang selalu membayangi akan adanya setiap ujian.
Lewat doa doa terbaik hati lapang
Ujian terlewati dalam senyuman
Jangan takut menghadang badai gelombang yang menerjang
Kuasa-Nya diri dan hati jadi tenang
Kini ku temukan pelabuhan indah bernama kebahagiaan di luasnya samudra hati yang tetap selalu penuh kesabaran demi gapai kebahagiaan diri
Hari-hari indah seolah tak mau pamit pergi
Kebahagiaan hati selalu bersemayam dalam diri ini
Pada Illahi Rabbi zat yang Maha Tinggi pinta ku jagalah selalu diri ini
buat hatiku bahagia selalu hilang kan ribuan duka yang mungkin akan menyerbu
Kuatkanlah selalu aku
Ku yakin atas segala Kuasa-Mu
Padang, Sumatera Barat
13 Maret 2025
——————————–‐——–
Mira Salsabila, M.Pd. adalah seorang akademisi dan penulis yang lahir di Padang tahun 1983. Berpijak pada dua dunia—agama dan sastra—ia membangun fondasi keilmuannya dengan menempuh dua gelar sarjana: S1 Bahasa dan Sastra Inggris di IAIN Imam Bonjol Padang (2007) serta S1 Pendidikan Agama Islam di STAI Yastis Padang (2015). Ketekunannya dalam studi agama membawanya meraih beasiswa AGPAII Sumatera Barat untuk melanjutkan S2 di Universitas Islam Sumatera Barat, yang ia selesaikan pada 2023. Saat ini, ia melangkah lebih jauh dengan menempuh S3 dalam bidang yang sama melalui jalur beasiswa alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, dengan perkuliahan dimulai pada 2025.
/31/
Kesabaran yang Tak Bisa Dilarutkan Air
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sungai ini tahu segalanya,
tentang langkah-langkah yang tenggelam,
tentang kampung yang menghilang dari peta,
tentang hujan air mata yang tak ada ujungnya.
Ia mengalir membawa cerita—
bukan cerita mereka yang hanyut,
tetapi kita yang tetap berdiri,
meski kehilangan tanah di bawah kakinya.
Banjir boleh datang,
membawa kehancuran sebagai bahasa tunggalnya,
tapi kita telah menerjemahkannya,
menjadi kesabaran yang tak bisa dilarutkan air begitu saja.
Padang, Sumatera Barat
2015
———————————————
Kumpulan puisi di atas (no. 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, 15, 17, 19, 21, 23, 25, 27, 29, 31) awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2015. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)