Hujan di Jendela
Oleh Yusuf Achmad
–
Di jendela kayu masuk tubuh ini. Tangan dan kaki bertautan.
Mata jelalatan. Di antara garis lurus air hujan. Deras turun
diiringi suara. Keras memukul-mukul.
Di atas tepat pada atap seng. Di atas ubun-ubun dan cita. Serta
nestapa yang terkurung dalam.
Bingkai dinding gedek. Berbaring kami dipeluk amben tua.
Ringkih dimakan keluhan ayah-ibuku.
Di dalam jendela air hujan bersuara. Menyapa, menggerakkan
hati. Merogoh harapan akan masa depan.
Lalu lirih suara doaku mengiringi. Satu, satu, seribu bahkan
berjuta butir air hujan. Di depanku pohon sawo menjulang
rindang memandang.
Di belakang buah mangga bergerombol bergelantung bilang.
Biar hujan mendengar lalu menyebar.
Melihat komat-kamit bibirku tak henti mengiringinya. Yang
berujud air mengalir pada pelupuk mata nenekku. Dan ceria
tawa adik-adikku tak berbunyi, beku. Disaksikan lantai tanah
bergeronjal gubukku. Doa itu adalah nyanyian tanpa jeda.
Berirama senada harapan.
Harus diulang dan diulang. Agar tetap tak hilang.
Pintaku padamu. Pembuat hujan.
27-7-2023