April 19, 2026
0b2309d1-a15d-484a-ac6b-93b7467e9f36_11zon

Oleh: Elza Peldi Taher

Kamis sore saya nyaris terjebak dalam kemacetan panjang di Cawang. Air naik hampir setinggu lutut di jalan raya. Beruntung saya lolos, sementara ratusan kendaraan terjebak untuk waktu yang lama. Hujan deras membuat orang terlambat pulang kantor, anak-anak sekolah basah kuyup dan kota berjalan tersendat. Namun di balik kesibukan menutup payung dan menghindari cipratan air, hujan justru mengajak manusiaberhenti—menepi sejenak, seperti seseorang yang ingin bicara panjang tetapi tak diberi waktu.

Hujan selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan.

Dari balik bunyi air yang menghantam mobil ketika melintasi Cawang kamis sore, ingatan saya melompat jauh ke masa kecil. Dulu, hujan bukan ancaman. Ia adalah undangan. Anak-anak berhamburan keluar rumah, berlari tanpa alas kaki, menengadahkan wajah ke langit. Kami mandi hujan dengan riang, membiarkan tubuh basah, tanah becek, dan pakaian kotor. Tak ada rasa takut. Tak ada peringatan berlapis. Pulang ke rumah, tubuh memang menggigil, tetapi wajah cerah—seperti baru menerima sesuatu yang menyegarkan jiwa.

Emak hanya mengomel sebentar. Lalu menyuruh kami berganti pakaian, minum teh hangat, dan tidur. Besoknya, kami bangun sehat. Hujan tak pernah dicurigai sebagai sumber penyakit. Ia justru dipercaya sebagai penawar panas dan debu, seolah tubuh anak-anak kala itu lebih bersahabat dengan alam.

Hari ini, pemandangan itu hampir tak tersisa. Anak-anak modern jarang—atau bahkan tak pernah—mandi hujan. Jangankan bermain di bawah guyuran air, terkena gerimis sebentar saja sudah dikhawatirkan jatuh sakit. Orang tua cemas, sekolah mengingatkan, iklan vitamin menawarkan kekebalan instan. Hujan berubah makna: dari sahabat menjadi tersangka.

Perubahan itu tentu bukan semata soal tubuh anak-anak yang katanya makin rapuh. Ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih luas. Relasi kita dengan alam telah berubah secara mendasar. Kita tak lagi hidup berdampingan dengannya, melainkan berusaha menguasainya. Alam tidak lagi dipandang sebagai rumah, tetapi sebagai objek eksploitasi. Sesuatu yang bisa ditebang, dipadatkan, dikeringkan, lalu ditinggalkan.

Hutan, yang dahulu menjadi penyangga hujan, kini menyusut drastis. Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia kehilangan jutaan hektare hutan alam. Deforestasi terjadi terutama di Sumatra dan Kalimantan—wilayah yang selama ratusan tahun menjadi benteng ekologis. Hutan hujan tropis yang seharusnya menyerap air dan menjaga keseimbangan, berubah menjadi lahan terbuka, perkebunan monokultur, atau kawasan tambang.

Ketika hutan hilang, tanah kehilangan daya serapnya. Air hujan yang dulu meresap perlahan kini jatuh ke permukaan keras: beton, aspal, dan tanah gundul. Sungai-sungai menyempit, aliran air dipercepat, dan kota-kota dibangun tanpa ruang bernapas. Maka hujan dengan intensitas yang barangkali sama seperti puluhan tahun lalu, kini dengan mudah menjelma banjir lokal hampir di mana-mana.

Hujan, sesungguhnya, tidak pernah berubah. Yang berubah adalah bumi tempat ia mendarat.

Di kota-kota, drainase sering dijadikan kambing hitam. Padahal persoalannya lebih mendasar: tata ruang yang mengabaikan ekologi. Kita membangun seolah air tidak pernah turun dari langit. Kita menguruk rawa, menutup tanah, dan meminggirkan sungai. Ketika hujan datang, kita menyalahkannya karena “terlalu deras”, seakan langitlah yang keliru.

Di titik inilah hujan berubah menjadi guru spiritual yang keras tapi jujur. Dalam dunia tasawuf, alam tidak pernah dipahami sebagai benda mati. Ia adalah ayat—tanda-tanda Tuhan yang hidup. Hujan disebut dalam banyak ayat sebagai rahmat. Tetapi rahmat tidak selalu hadir dalam bentuk yang nyaman. Kadang ia datang sebagai peringatan.

Para sufi mengajarkan bahwa alam adalah cermin batin manusia. Ketika batin dipenuhi keserakahan, alam kehilangan keseimbangannya. Ketika manusia melampaui batas, alam merespons dengan caranya sendiri. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai isyarat agar manusia kembali sadar.

Hujan yang turun berhari-hari ini, dalam kacamata tasawuf, adalah latihan sabar kolektif. Ia memaksa manusia berhenti—menepi di bawah jembatan, berteduh di emperan toko, menunggu air surut. Dalam dunia yang terobsesi pada kecepatan dan target, hujan mengajarkan satu hal yang jarang kita latih: menerima.

Menerima bahwa tidak semua bisa dikontrol. Menerima bahwa ada hukum alam yang tak bisa ditawar. Menerima bahwa manusia bukan pusat semesta.

Namun, kita sering gagal membaca pesan itu. Kita memilih mengutuk hujan, bukan bercermin. Kita marah pada langit, bukan pada cara kita memperlakukan bumi. Padahal dalam tradisi Islam, menjaga keseimbangan alam adalah bagian dari amanah manusia sebagai khalifah. Merusak alam bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi pelanggaran etis dan spiritual.

Anak-anak yang dulu mandi hujan sesungguhnya sedang belajar sesuatu yang tak tertulis di buku pelajaran: keberanian berjumpa dengan alam, kepercayaan pada tubuh, dan kegembiraan yang lahir dari kesederhanaan. Hari ini, ketika anak-anak makin terpisah dari tanah, lumpur, dan hujan, mungkin yang rapuh bukan hanya tubuh mereka, melainkan jiwa kolektif kita.

Kita hidup dalam rumah-rumah tertutup, berpendingin udara, terhubung layar, dan semakin jauh dari ritme alam. Kita kehilangan pengalaman basah, kotor, dan tak sempurna—pengalaman yang justru membentuk ketangguhan. Alam menjadi sesuatu yang harus dihindari, bukan dipahami.

Lalu apa yang bisa diharapkan?

Jawabannya barangkali tidak spektakuler. Tidak pula instan. Ia dimulai dari kesadaran sederhana bahwa alam bukan musuh dan bukan sekadar sumber daya. Ia adalah mitra hidup. Menjaga hutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi soal masa depan kemanusiaan. Merawat sungai bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan tindakan moral. Memberi ruang resapan air sama artinya memberi ruang napas bagi kota dan penghuninya.

Namun di titik ini, saya pun harus bercermin. Saya sadar, selama ini saya sering menuntut hujan agar bersahabat, tetapi lupa bertanya apakah saya sendiri sudah cukup bersahabat dengan alam. Saya mengeluh banjir, tetapi tetap hidup nyaman di atas jejak-jejak kerusakan yang tak selalu saya lihat setiap hari. Saya berharap hujan membawa berkah, tanpa sungguh-sungguh memastikan bumi tempat ia jatuh masih layak menerimanya.

Barangkali merawat alam tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa atau jargon besar tentang keberlanjutan. Ia bisa bermula dari tindakan kecil yang sering kita anggap remeh: membiarkan tanah tetap terbuka agar air meresap, tidak menguruk halaman demi parkiran, tidak membuang sampah ke selokan, dan berhenti memperlakukan sungai sebagai tempat pembuangan. Di sanalah adab kepada alam dilatih—pelan, sehari-hari, dan konsisten.

Dalam laku tasawuf, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Begitu pula dalam relasi dengan alam. Alam yang diperlakukan dengan adab akan memberi keseimbangan. Alam yang dipaksa melampaui batasnya akan memberi isyarat, bahkan peringatan. Hujan yang hari ini terasa mengganggu barangkali bukan sekadar soal cuaca, melainkan cermin dari cara kita hidup.

Mungkin tugas kita bukan menghentikan hujan, melainkan memastikan bumi cukup layak untuk menerimanya. Jika hujan adalah ayat Tuhan yang turun dari langit, maka merawat bumi adalah cara manusia menjawab ayat itu—bukan dengan retorika, melainkan dengan laku hidup yang lebih rendah hati dan beradab.

Ciputat 23 Januari 2026