Indonesia Terhormat Pidato Jahja Datoek Kajo di Volkraad
Oleh: Novita sari yahya
–
Indonesier atau Indonesia terhormat Jahja Datoek Kajo ( Yahya Datuk Kayo ) menyebut dirinya di sidang Volkraad.
Inlander penyebutan kolonialisme Belanda pada pribumi sebagai status kelas terjajah
Kebanggaan berbahasa Indonesia di Volkraad wujud dari Indonesia terhormat
Pidato Jahja Datoek Kajo tanggal 21 Oktober 1927, menguncang Volkraad. Jahja Datoek Kajo dengan tegas berucap: “Berbahsa Melajoelah! [S]eandainja ada diantara toean-toean jang […] tidak setoejoe dengan pembitjaraan saja ini saja harap toean toean soedi menegornja dalam bahasa Melajoe.”
Pidato Jahja Datoek Kajo dalam Bahasa Melayu di Volkraad menunjukan Bahasa adalah identitas bangsa.
Dari Koto Gadang ke Volkraad.
Angku Demang Jahja Datoek kajo bertekad memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan pendidikan secara
Studenfonds dan sekolah di Kota Gadang .
Pengalaman berkunjung ke Pulau Jawa memberikan pencerahan kepada Jahja bahwa melalui pendidikan jalan mencapai kemerdekaan.
Koto Gadang terkenal desa 1000 dokter dan kelompok terpelajar pejuang kemerdekaan
Memperjuangkan kepentingan masyarakat Minangkabau di Volkraads
Jahja Dateok Kajo gigih memperjuangkan kepentingan rakyat Minangkabau. Pidato pertamanya pada tanggal 16 Juni 1927 di Volksraad membahasakan perjuangan Jahja unruk kepentingan rakyat Minangkabau.
Melawan penjajahan kolonialisme Belanda dengan berbahasa Melayu di Volkraad.
Pidato bahasa Melayu di Volkraad menimbulkan kemarahan dan kebencian Belanda.
Pers Pribumi menjulukinya “Djago Bahasa Indonesia di Volksraad”.
Perlawanan di Volkraads melalui bahasa Melayu merupakan sebuah sikap yang merefleksikan penentangan Yahya terhadap segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi bahasa
Perlawanan Jahja Datoek Kajo terhadap Kolonialisme Belanda
Perlawanan Jahja Dateok Kajo terhadap kolonialisme Belanda menjadi tekad ketika “Tragedi Paladangan” tahun 1919. Kejadian ini ditulis dan dilaporkannya kepada atasan akibat perlakuan militer kolonialisme Belanda di Tragedi Padalangan.
Jahja menyakini akan timbulnya perlawanan dari dalam lingkaran pemerintahan kolonial itu sendiri. Perlawanan di lakukan Jahja saat menjadi anggota Volksraad.
Biografi Jahja Datoek Kajo pembentukan kepemimpinan demokratis dan visioner
Pada 1 Agustus 1874. Lahir pemimpin visioner dari desa di kaki Bukit Singgalang Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat bernama Jahja Datoek Kajo. Putra asli Minangkabau yang mengelorakan otokritik di Volkraad.
Yahya bekerja di birokrasi Belanda sejak usia 14 tahun. Sebagai leerling schrijver atau calon juru tulis di kantor Kontrolir/Residen Bukittinggi selama 7 tahun.
Bakat cemerlang dan kecerdasan Jahja di usia 21 tahun, sudah dipercaya menempati jabatan sebagai Tuanku Laras IV Koto.
Kepemimpinan visioner di usia muda menduduki satu posisi tertinggi dalam struktur sosial Minangkabau.
Pemgetahuan akan penting pendidikan merubah cara pandang pemuda desa di kaki gunung Singgalang.
Menduduki jabatan penting di birokrasi kolonialis Belanda tetap menjaga kesadaran Jahja untuk menjaga harkat dan martabatnya sebagai orang Minangkabau. Ia tetap merasa sebagai bagian bangsa Indonesia—yang telah dijajah Belanda selama ratusan tahun.
Perlakuan kolonialis Belanda terhadapa masyarakat Minangkabau terutama pemberlakuan pajak penyebab Jahja berselisih paham dengan atasannya, setahun kemudian ia dipindahkan ke Payakumbuh.menjabat hingga 1918. Posisi Demang di Padang Panjang (1919-1928), kemudian Air Bangis (1928-1929)..
Rumah Adat penghargaan masyarakat Koto Gadang atas jasa Jahya Datoek Kajo memajukan nagari Koto Gadang .
Pendirian waterleiding inisiatif Jahja Datuk Kayo, karena tingginya kebutuhan masyarakat untuk memperoleh air bersih di Nagari Koto Gadang
Inisatif Yahya Datuk Kayo mendirikan Studiefonds Koto Gadang tahun 1909.
Belajar dari kepemimpinan Jahja Datoek Kajo yang demokratis dan progresif
Satu sifat yang mulia sekali pada Jahja yaitu ”tiada hendak kaya seorang dan tiada hendak pandai seorang”. Pekerjaan membangun Nagari Koto Gadang di lakukan Yahya dengan gotong royong bersama masyarakat seperti Perusahaan Tanah, bertani.
Sambutan Jahja Datoek Kajo peresmian Rumah Adat cerminan kepemimpinan demokratis dan progresif.
Tanggung jawab Jahja sebagai penghulu, sebagai mamak, dengan keselamatan dan kesentosaaan penduduk serta negeri, memajukan negeri dan membimbing penduduknya.
“Kalau kaya hendaknya sama¬sama kaya begitu pula didalam ilmu pengetahuan, kalau boieh sama¬sama pandai dan pintar” …pidato Jahja Datoek Kajo peresmian Rumah Adat Koto Gadang.
Pemberian Rumah Adat Koto Gadang kepada Jahja Datoek Kajo atas jasanya bahwa manusia mati meninggalkan nama baik dan catatan sejarahnya.
Dirimu yang akan meninggalkan catatan sejarahmu dan sejarah nama baik bagi masyrakat.
“Hendaklah berbuat baik tarhadap negeri supaya hati kita mulia dan ternama. Kalau tabungan kita sudah berbuah mas, penduduknya sudah turut bertuah dan mulia, orang berkeliling pemandangannya bertambah pada negeri kita. Jadi segala usaha dapat sokongan dan berhasil. Di situlah datangnya nama itu yaitu tuah kalau sepakat, celaka kalau bersilang”..Pidato Jahja Datoek Kajo menerima Balai Adat Pemberian Anak Nagari Koto Gadang
Jahja Datoek Kajo mengajarkan dan memberikan contoh bagaimana kepemimpinan yang adil dalam keputusan dan keterpihakan kepada rakyat.
Jahja Datoek Kajo menghadiahkan kembali Balai Adat Koto Gadang pemberian masyarakat Koto Gadang menjadi hak milik Nagari dan masyarakat Koto Gadang.
Balai Adat Koto Gadang berdiri megah dengan tulisan mengenang jasa Jahja Datoek Kajo.
Jahja Datoek Kajo pemimpin visioner, gigih memajukan masyarakat Koto Gadang, memperjuangkan masyarakat Minangkabau di Volkraad dan menggelorakan Indonesier di Volkraad.
Referensi.
Kekritisan Jahja Dateok Kajo berada di Volksraad. dapat disimak dalam teks-teks pidatonya yang disalin kembali oleh Azizah Etek dkk. dalam Kelah Sang Demang: Jahja Datoek Kajo; Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1939 (Yogyakarta: LKiS, 2008).