April 18, 2026
Rizal

Oleh: Rizal Tanjung

Ketika berita itu jatuh,
ia tidak sekadar suara—
ia adalah meteor yang menabrak jantung siang,
mengoyak langit yang pura-pura tenang.

Nama itu meluncur dari bibir para penyiar
seperti doa yang terbalik arah:
Ali Khamenei—
sebuah gunung tua yang tiba-tiba runtuh
di antara padang pasir sejarah.

Di gedung-gedung kaca
di Washington
dan di lorong-lorong cahaya
di Tel Aviv,
gelas-gelas kristal berciuman pelan,
senyum-senyum tipis disimpan rapi
seperti pisau yang baru diasah.

Mereka mengira naga telah mati
karena kepala telah terpisah dari badan.
Padahal kekuasaan bukan naga,
ia adalah hutan.
Dan hutan tak pernah habis
hanya karena satu pohon tumbang.

Wahai dunia,
kau terlalu sering percaya
bahwa sejarah bekerja seperti matematika:
satu dikurangi satu sama dengan nol.

Padahal sejarah adalah luka terbuka,
ia berdarah ke segala arah.

Kematian satu lelaki tua
adalah pintu yang dibuka
pada ruang-ruang paling gelap
di bawah tanah.

Di Teheran,
malam tidak lagi hitam—
ia menjadi merah.

Bayang-bayang bergerak lebih cepat
daripada doa yang sempat diucapkan.
Di ruang-ruang tanpa jendela,
peta-peta digelar,
senjata dibersihkan,
dan kesetiaan diukur dengan ketakutan.

Islamic Revolutionary Guard Corps
bukan sekadar pasukan—
mereka adalah sungai bawah tanah
yang mengalirkan besi dan rahasia.

Jika dulu ada tangan tua
yang menahan derasnya arus,
kini bendungan telah retak.

Siapa yang akan memegang kemudi
di turunan sejarah yang curam?
Siapa yang berani berkata
“cukup”
ketika darah sudah menjadi bahasa paling fasih?

Di Lebanon,
Hezbollah
mendengar kabar itu
seperti anak yang kehilangan ayah
di tengah rumah yang terbakar.

Di Yaman,
Houthi movement
mengangkat kepala ke langit,
dan langit menjawab dengan dentuman.

Martir—
kata itu seperti api kecil
yang dilempar ke ladang gandum kering.

Ia membakar bukan hanya tanah,
tetapi ingatan.
Ia mengubah politik menjadi takdir,
mengubah strategi menjadi sumpah.

Roket bukan lagi sekadar besi,
ia menjadi doa yang marah.
Drone bukan lagi mesin,
ia menjadi burung besi
yang membawa dendam di paruhnya.

Dan di antara semua nadi dunia
ada satu selat sempit
yang menahan napas bumi:
Selat Hormuz.

Ia seperti leher yang dicekik
oleh tangan tak terlihat.

Dari sanalah minyak mengalir
seperti darah hitam peradaban.
Jika ia tersumbat,
jantung ekonomi bergetar.

Harga-harga melonjak
seperti kuda liar yang lepas dari kandang.
Pasar-pasar panik,
grafik-grafik menjerit.

Di negeri jauh bernama Indonesia,
di warung kopi pinggir jalan,
orang-orang tak mengerti geopolitik—
mereka hanya tahu
bensin makin mahal,
beras makin tipis,
dan perut anak-anak
tak bisa diisi dengan teori.

Satu rudal di langit Persia
bisa menjelma antrean panjang
di SPBU Jakarta.

Sejarah ternyata lebih dekat
daripada yang kita kira.

Lalu bayang-bayang nuklir
mengintip dari balik bukit.

Fatwa-fatwa bisa terkubur
bersama tubuh yang membacanya.
Ketakutan melahirkan logika baru:
“Jika kau tak punya taring,
kau akan terus diinjak.”

Dan dunia berdiri di tepi jurang
yang menganga seperti mulut raksasa.

Di utara,
Vladimir Putin
menatap peta dengan mata dingin.

Di timur,
Xi Jinping
menghitung jarak dan waktu
seperti pemain catur yang sabar.

Setiap kekacauan adalah peluang.
Setiap api adalah distraksi.

Dunia bukan hanya tentang perang;
ia tentang siapa yang memetik
keuntungan dari abu.

Dan kita—
rakyat biasa,
yang tak pernah duduk di meja perundingan,
yang tak pernah menyentuh tombol peluru kendali—
hanya bisa merasakan getarannya.

Kita adalah rumput
yang terinjak ketika gajah-gajah bertarung.

Kita adalah pasir
yang beterbangan
setiap kali tank melintas.

Mereka menyebutnya “presisi.”
Mereka menyebutnya “operasi bersih.”

Tapi sejarah tahu,
tak ada perang yang benar-benar bersih.
Ia selalu meninggalkan
bau hangus
di rambut anak-anak.

Wahai dunia,
kau rapuh seperti kaca
yang retaknya tak terlihat
hingga cahaya menembusnya.

Kematian satu pemimpin
bukan akhir cerita—
ia adalah lonceng yang membangunkan
iblis-iblis yang tertidur.

Dan kita berdiri di tepi abad
yang gemetar,
menyaksikan anak-anak kecil bersetelan jas
bermain korek api
di gudang mesiu bernama peradaban.

Apakah mereka tahu
bahwa api tak pernah memilih korban?

Bahwa ketika piramida runtuh,
batu-batunya tak hanya menimpa musuh,
tetapi juga tangan
yang mendorongnya?

Di langit yang tak lagi biru,
aku melihat dunia
seperti papan catur raksasa
yang bidaknya mulai bergerak liar.

Tak ada lagi aturan yang pasti.
Tak ada lagi garis yang aman.

Yang tersisa hanyalah
doa-doa yang tercekik,
harga-harga yang merangkak naik,
dan manusia-manusia kecil
yang berharap badai
tak sampai merobohkan atap rumah mereka.

Sebab dalam zaman seperti ini,
kita belajar satu hal:

Bahwa kekuasaan sering kali merasa diri Tuhan,
padahal ia hanyalah bayangan
yang gemetar
di bawah cahaya sejarah.

—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.