BIG STONE
Rizal Tanjung
–
langit hari ini seperti layar ponsel
terkunci pada notifikasi terakhir:
ancaman
di atas kota
yang sibuk mengunggah mimpi
dan mengunduh kecemasan,
sebuah batu raksasa menggantung—
tidak jatuh
tidak juga pergi
ia hanya ada
seperti trauma kolektif
yang kita simpan di folder “nanti saja”.
—
gedung-gedung menjulang
seperti grafik ambisi
yang terus naik
tanpa tahu kapan crash
orang-orang berlari
dengan sepatu bermerek
dan doa yang belum sempat di-update
mereka menyebutnya kemajuan
padahal itu hanya algoritma
yang memelihara lapar
dan batu itu—
ah, batu itu—
diam seperti admin semesta
yang menonton timeline manusia
tanpa ikut berkomentar.
—
Big Stone.
namanya seperti judul film kiamat
atau headline media
yang sengaja dibikin kapital
agar kita takut
tapi siapa yang sebenarnya besar?
batu itu?
atau ego kita
yang lebih keras dari asteroid?
aku melihat lubang-lubang di tubuhnya
seperti pori-pori dosa
tempat sejarah bersembunyi
ia tidak marah
ia tidak berteriak
ia hanya menggantung
seperti pertanyaan Tuhan
yang belum kita jawab.
—
kota di bawahnya tetap menyala
café tetap penuh
musik tetap keras
tangan-tangan tetap sibuk memotret langit
untuk story 15 detik
“guys, lihat itu! gila banget!”
lalu tertawa
seolah-olah maut adalah filter
yang bisa dipilih:
clarendon atau valencia.
—
aku berdiri di trotoar
merasakan jantungku berdetak
seperti jam dinding tua
yang tahu sesuatu akan jatuh
mungkin bukan batu itu
mungkin bukan gedung-gedung
mungkin bukan dunia
mungkin
yang akan runtuh adalah ilusi
bahwa kita pusat semesta.
—
Big Stone adalah metafora
tentang hati yang terlalu lama mengeras
tentang cinta yang tak lagi mengalir
tentang doa-doa yang kita tunda
karena meeting lebih penting
ia menggantung
tepat di atas kesibukan kita
seperti kalimat “cukup”
yang tak pernah kita ucapkan
pada diri sendiri.
—
aku membayangkan
jika batu itu jatuh
bukan ledakan yang paling mengerikan
tapi sunyi setelahnya
sunyi
yang membersihkan
sunyi
yang membuat manusia akhirnya kecil
dan kecil adalah satu-satunya ukuran
yang bisa mendekat pada Tuhan.
—
wahai Batu Besar
apakah engkau ancaman
atau justru rahmat yang tertunda?
apakah engkau azab
atau hanya cermin raksasa
yang memantulkan betapa rapuhnya kita?
aku ingin percaya
bahwa engkau tidak jatuh
karena kasih masih bekerja
bahwa ada tangan tak terlihat
yang menahanmu
seperti ibu menahan amarah
agar anaknya sempat belajar.
—
kota ini terlalu percaya pada beton
terlalu yakin pada angka
terlalu sibuk pada trending topic
padahal satu batu saja
cukup untuk meruntuhkan semua asumsi.
Big Stone
adalah jeda
jeda di antara napas
jeda di antara dosa
jeda di antara manusia
dan kesadarannya sendiri.
—
jika suatu hari engkau benar-benar turun
biarlah yang pecah pertama
bukan kepala
bukan jendela
bukan menara
tapi kesombongan
biarlah yang hancur
adalah rasa “aku paling”
biarlah yang tersisa
hanya debu
dan satu kalimat sederhana:
kita kecil.
dan dalam kecil itu
barangkali
kita akhirnya menemukan
yang Maha Besar.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.