April 18, 2026
rizal1

Rizal Tanjung

langit hari ini seperti layar ponsel
terkunci pada notifikasi terakhir:
ancaman

di atas kota
yang sibuk mengunggah mimpi
dan mengunduh kecemasan,
sebuah batu raksasa menggantung—

tidak jatuh
tidak juga pergi

ia hanya ada
seperti trauma kolektif
yang kita simpan di folder “nanti saja”.

gedung-gedung menjulang
seperti grafik ambisi
yang terus naik
tanpa tahu kapan crash

orang-orang berlari
dengan sepatu bermerek
dan doa yang belum sempat di-update

mereka menyebutnya kemajuan
padahal itu hanya algoritma
yang memelihara lapar

dan batu itu—
ah, batu itu—
diam seperti admin semesta
yang menonton timeline manusia
tanpa ikut berkomentar.

Big Stone.

namanya seperti judul film kiamat
atau headline media
yang sengaja dibikin kapital
agar kita takut

tapi siapa yang sebenarnya besar?
batu itu?
atau ego kita
yang lebih keras dari asteroid?

aku melihat lubang-lubang di tubuhnya
seperti pori-pori dosa
tempat sejarah bersembunyi

ia tidak marah
ia tidak berteriak
ia hanya menggantung

seperti pertanyaan Tuhan
yang belum kita jawab.

kota di bawahnya tetap menyala

café tetap penuh
musik tetap keras
tangan-tangan tetap sibuk memotret langit
untuk story 15 detik

“guys, lihat itu! gila banget!”

lalu tertawa
seolah-olah maut adalah filter
yang bisa dipilih:
clarendon atau valencia.

aku berdiri di trotoar
merasakan jantungku berdetak
seperti jam dinding tua
yang tahu sesuatu akan jatuh

mungkin bukan batu itu
mungkin bukan gedung-gedung
mungkin bukan dunia

mungkin
yang akan runtuh adalah ilusi
bahwa kita pusat semesta.

Big Stone adalah metafora

tentang hati yang terlalu lama mengeras
tentang cinta yang tak lagi mengalir
tentang doa-doa yang kita tunda
karena meeting lebih penting

ia menggantung
tepat di atas kesibukan kita

seperti kalimat “cukup”
yang tak pernah kita ucapkan
pada diri sendiri.

aku membayangkan
jika batu itu jatuh

bukan ledakan yang paling mengerikan
tapi sunyi setelahnya

sunyi
yang membersihkan

sunyi
yang membuat manusia akhirnya kecil
dan kecil adalah satu-satunya ukuran
yang bisa mendekat pada Tuhan.

wahai Batu Besar

apakah engkau ancaman
atau justru rahmat yang tertunda?

apakah engkau azab
atau hanya cermin raksasa
yang memantulkan betapa rapuhnya kita?

aku ingin percaya
bahwa engkau tidak jatuh
karena kasih masih bekerja

bahwa ada tangan tak terlihat
yang menahanmu
seperti ibu menahan amarah
agar anaknya sempat belajar.

kota ini terlalu percaya pada beton
terlalu yakin pada angka
terlalu sibuk pada trending topic

padahal satu batu saja
cukup untuk meruntuhkan semua asumsi.

Big Stone
adalah jeda

jeda di antara napas
jeda di antara dosa
jeda di antara manusia
dan kesadarannya sendiri.

jika suatu hari engkau benar-benar turun

biarlah yang pecah pertama
bukan kepala
bukan jendela
bukan menara

tapi kesombongan

biarlah yang hancur
adalah rasa “aku paling”

biarlah yang tersisa
hanya debu
dan satu kalimat sederhana:

kita kecil.

dan dalam kecil itu
barangkali
kita akhirnya menemukan
yang Maha Besar.


Sumatera Barat, Indonesia, 2026.