May 10, 2026

Puisi-Puisi Zulkifli Abdy: “Jangan Sebut Kami Kawan”

LENI

/1/

JANGAN SEBUT KAMI KAWAN

Puisi: Zulkifli Abdy

Jangan sebut kami kawan
Walaupun kita bukan lawan
Tetapi kita tidak pernah sejalan
Kini kau berada di istanamu
Dalam gemerlap cahaya lampu
Kami ini hanya rakyat jelata
Yang telah terbiasa menderita
Di kegelapan yang nestapa
Katamu kita bersaudara

Jangan sebut kami kawan
Jika hatimu masih tertawan
Suara kami telah memberi jalan
Bagimu menuju singgasana
Kami sedang dilanda bencana
Mata nanar menatap hampa
Engkau tak tiba membalut luka
Hanya janji-janji pelipur lara
Bukankah kita sebangsa.

(Banda Aceh, 18 Januari 2026)

/2/

KAYU MISTERI

Puisi: Zulkifli Abdy

Kala
banjir
Tentang
kayu-kayu
gelondongan
Tatkala ditanya
siapa yang punya
Tiada yang mengaku
Tetapi setelah terdampar
Ternyata ada yang menjemput.

(Beranda, 13 Januari 2026)

/3/

ISRA’ MI’RAJ

Puisi: Zulkifli Abdy

Isra’ Mi’raj..,
Nabi besar
Muhammad
Sekejap mata
Sekilas cahaya
Sehening malam
Sekelebat langkah
Dari Masjidil Haram
Menuju Masjidil Aqsa
Nun di tanah Palestina
Menjelang Nabi memulai
Perjalanan yang fenomena
Melintas langit di malam hari
Menyinggahi Sidratul Muntaha
Lalu kembali ke bumi membawa
Perintah supaya menunaikan shalat
Isra’ Mi’raj, peristiwa nan sarat hikmah.

(Banda Aceh, Jumat 16 Januari 2026)

/4/

PILOT DI UJUNG TAKDIR
(Rintihan Pilu Seorang Istri)

Zulkifli Abdy

Kekasih..,
Beribu kali kau pergi
Menembus awan
Aku selalu cemas
Tapi cemas yang tidak terbukti
Setiap kali kulepas kau pergi
Setiap itu pula kau kembali
Aku dan anakmu menanti
Selamat datang pelita hati

Kekasih..,
Kali ini kau pun mengudara
Berpayung langit kelabu
Aku merasa lebih cemas
Tapi ini kecemasan yang jadi nyata
Di pegunungan Bulusaraung sana
Kau pergi untuk selama-lamanya
Aku dan anak kita kini berduka
Selamat jalan pejuang keluarga.

(Banda Aceh, 20 Januari 2026)

Tentang Penulis: Zulkifli Abdy (PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena, KEAI, dll)

Zulkifli Abdy merupakan seorang penulis senior dan penyair, berasal dari Jambi dan menetap di Aceh sejak tahun 1970. Lulusan Ilmu Komunikasi, ia menekuni dunia kepenulisan secara autodidak sejak masa muda.

Karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi, mencerminkan semangat sastra yang mendalam. Bagi Zulkifli, menulis bukan sekadar profesi—melainkan sarana untuk mencurahkan perasaan, menggantikan halaman-halaman buku harian pribadi, tempat ia menuangkan pikiran dan pengalaman dengan penuh ketulusan.