Jika Kelam Direngkuh Malaikat
Yusuf Achmad
Kutak tahu politik, atau trik dalam panggung publik,
Hanya tergelitik berita media yang berwarna kelam.
Seolah badai melanda malam, menggulung rasa tak berdaya.
Kucari warna lain, namun semuanya pekat,
Seperti kabut hitam yang melilit mentari,
Menelan harapan hingga luruh tanpa sisa.
Perusahaan-perusahaan besar, karyawannya berbaju putih,
Namun merah membara oleh api yang rakus.
Pendukungnya berdiri, memasang dada di depan badai,
Mengusung asa yang berderak,
Seperti menara angin di ambang roboh.
Teman-temanku serempak menghitamkan media,
Padahal seharusnya berwarna kuning keemasan,
Seperti matahari yang terbit membawa harapan,
Di bulan milik Tuhan.
Bulan yang bukan hitam atau pekat,
Namun dijaga malaikat terang benderang,
Penuh warna indah,
Bagai pelangi selepas hujan.
Namun kini, yang terlihat hanya berita korupsi menggila,
Menyulap hari menjadi malam tanpa bintang,
Meninggalkan jiwa yang letih dan tak lagi percaya.
Para koruptor tenang bernaung atas nama malaikat dan nabi,
Dengan pakaian bak ulama, penyejuk hati,
Namun dendang mereka adalah tangis rakyat.
Seperti bayangan menelan cahaya,
Menghisap semua yang suci dari terang.
Ingin kubangunkan Rendra, Artidjo Alkostar, dan Sely Martini,
Mengajak mereka memarahi gelap yang kian pekat.
Namun mungkin mimpi mereka lebih damai,
Dibanding kenyataan kita yang penuh luka.
Lalu dimanakah para penerus mereka?
Mungkinkah mereka terlelap, tersembunyi di balik abu harapan?
Atau kita, malaikat-malaikat kecil yang masih merengkuh,
Terus dan terus berteriak hingga mulut kukuh.
Meski ditiup badai, meski dilumat pekat yang angkuh,
Terus terbang tinggi cahaya lalu direngkuh
Mengguratkan harapan di tengah kehancuran.
Surabaya, 3-3-2025
catatan : (Puisi ini pernah disiarkan oleh PPIPM tanggal 6-3-2025)