April 21, 2026
g4

Oleh Gutamining Saida
(Guru di SMPN 3 Cepu Kabupaten Blora)

Selepas subuh, udara segar menyapa. Langit masih gelap, namun cahaya remang mulai terlihat di ufuk timur.

Aku melangkah menuju Masjid Al Mujahidin. Pukul 05.00 WIB, jalanan masih lengang. Langkahku perlahan menelusuri jalan kecil yang kuhafal lekuk-lekuknya.

Di keheningan pagi, suara hadroh dari masjid terdengar samar. Alunan yang menenangkan hati, seolah memanggilku untuk segera tiba.

Ketika tiba di halaman masjid, suasana sudah ramai. Ibu-ibu berbagai usia berdatangan, beberapa membawa anak kecil, yang lain bersama teman-teman.

Senyuman hangat panitia menyambutku di pintu masuk. Satu paket sarapan diberikan dengan penuh keramahan, membuatku merasa dihargai.

Aku memilih duduk di sudut masjid, tempat nyaman untuk bersandar. Dari sini, aku menyaksikan tarian sufi yang diiringi hiburan hadroh.

Seorang muslimah dengan gaun putih anggun berjilbab oranye mulai menari. Putaran tubuhnya yang anggun mengikuti irama hadroh menciptakan suasana khusyuk.

Warna-warni jilbab dan gamis para jamaah menambah semarak. Anak-anak yatim duduk di depan, ditemani ibu-ibu yang sabar menenangkan mereka.

Kajian pagi itu disampaikan oleh KH. Innama Muhsin, seorang ustaz dari Pati. Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah.

Beliau memulai dengan pesan, “Dekat-dekatlah dengan kyai. Orang yang dekat dengan kyai akan tertular kebaikannya.”

Beliau mengibaratkan manusia seperti kerikil yang menjadi berharga saat tercampur dengan beras atau kedelai. Lingkungan baik memuliakan manusia.

KH. Innama juga mengingatkan keistimewaan bulan Rajab. “Semoga kita dipertemukan lagi dengan bulan Rajab di tahun mendatang,” pesannya.

Kata-katanya menusuk hati, membuatku merenungi cepatnya waktu berlalu. Betapa penting menghargai setiap momen yang dimiliki.

Di tengah kajian, tarian sufi kembali tampil. Gerak anggun penari diiringi lantunan hadroh menciptakan harmoni yang memukau.

KH. Innama kemudian membahas kematian. “Kematian pasti terjadi. Bedanya hanya pada waktu dan caranya,” katanya dengan nada lembut.

Beliau mengingatkan tanda-tanda kematian seperti rambut memutih dan penglihatan kabur. Semua itu peringatan akan batas waktu kita di dunia.

“Sekarang kita memikul jenazah, besok kita yang dipikul. Kehidupan ini hanyalah giliran,” ucapnya. Pesan itu menyentuh hatiku.

Di akhir kajian, beliau berpesan, “Jadilah manusia yang bermanfaat. Sekecil apa pun amal baik kita, itu adalah tabungan akhirat.”

Pukul tujuh pagi, kajian selesai. Jamaah mulai meninggalkan masjid satu per satu, pulang dengan hati yang tenang.

Langit telah terang, mentari menyapa lembut. Kajian pagi ini menjadi pengingat akan pentingnya ilmu dan waktu yang kita miliki.

Dalam perjalanan pulang, pesan sang ustaz terus terngiang. Aku merasa lebih dekat dengan Allah dan tujuan hidup yang sejati.

Saat tiba di rumah, suara hadroh dan bayangan tari sufi masih terpatri. Langkah kecil pagi ini memberi dampak besar bagi jiwaku.

Cepu, 12 Januari 2025