“KAMI AKAN TERUS ADA”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Oleh Leni Marlina
–
/1/
KAMI AKAN TERUS ADA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami adalah urat yang menegang di punggung dunia,
menahan beban yang tak pernah dinamai.
Kami adalah tanah yang diinjak ribuan langkah,
tak ada yang bertanya—berapa luka yang tertanam?
Kami adalah tangan yang menjahit siang ke malam,
menyulam cahaya dari sisa-sisa lilin yang padam.
Kami adalah bayangan yang menopang tubuh peradaban,
tetapi siapa yang menoleh ke belakang?
Tapi dengarlah—
kami bukan angin yang berlalu,
kami bukan suara yang meredam sendiri.
Kami adalah gema yang melawan sunyi,
kami adalah pijakan yang takkan runtuh.
Karena jejak yang kami tinggalkan,
mungkin terlewat dalam catatan sejarah,
tetapi janji bahwa kami pernah ada—
dan akan terus ada,
tercatat dalam udara, air, tanah, bahwa kami takkan pernah menyerah.
Padang, Sumatera Barat
2014
/2/
Tulang yang Dijadikan Batu Pijakan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Langkah-langkah berat melintas di punggungnya,
menghancurkan tulang yang sudah lama berhenti menjerit.
Ia adalah jalan setapak yang tak pernah diingat,
sebuah permadani yang diinjak tanpa pernah ditatap.
Tulangnya bukan lagi miliknya,
sudah lama berubah menjadi pondasi
bagi gedung-gedung yang tak pernah ia masuki.
Namun, lihatlah,
anak-anaknya melangkah lebih tinggi,
dan ia tidak menyesali hancurnya tubuhnya,
karena dari puing-puingnya,
sebuah jembatan telah berdiri.
Padang, Sumatera Barat
2014
/3/
Mesin yang Tidak Pernah Dimatikan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ia seperti roda gigi yang tak pernah berkarat,
dipaksa bergerak bahkan ketika oli dalam tubuhnya mengering.
Ia melumat waktu,
menggiling diri sendiri,
menjadi bagian dari sistem yang menelannya utuh.
Ia tidak memiliki tombol ‘berhenti’,
karena siapa yang akan peduli jika mesinnya terbakar?
Ia hanya tahu satu hal:
bergerak, bertahan, bekerja, dan menghilang.
Sekarang, lihatlah,
anak-anaknya tumbuh di luar pabrik yang menelannya,
dan itu cukup—
karena mereka adalah satu-satunya hasil produksi
yang ia inginkan.
Padang, Sumatera Barat
2014
/5/
Berjuang Untuk Bunga yang Mekar
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau lahir sebagai kuncup,
tetapi jari-jari tak dikenal memetikmu sebelum waktunya.
Kau dijadikan hiasan di jendela orang lain,
dipaksa mekar di tempat yang tak mengenali akarnya.
Kelopak-kelopakmu tak sempat jatuh,
hanya dihancurkan oleh tangan yang tak peduli pada musim.
Wanginya dimiliki orang lain,
sementara batangmu dibiarkan mengering tanpa pemakaman.
Kini, kami menyaksikan,
anak-anakmu tumbuh liar di tanah yang lebih adil,
dan akhirnya,
kau – bunga yang tak pernah mekar itu,
menemukan kehidupanmu
di kelopak generasi berikutnya.
Padang, Sumatera Barat
2014
/5/
Sungai yang Takkan Menyeret ke Arus yang Sama
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau bagaikan sungai,
mengalir dari mata air yang tak dikenal,
menyapu kota-kota yang tak pernah mengingatnya.
Kau mengangkat beban kapal yang lebih berat dari hidupmu,
tetapi tetap tak berhak memiliki dermaga.
Airmu yang jernih untuk orang lain,
tetapi berlumpur di tubuhmu sendiri.
Kau menampung harapan orang lain,
tetapi tak pernah bisa mencicipi kejernihanmu sendiri.
Sekarang, kau bisa tersenyum,
anak-anakmu tidak tenggelam dalam arus yang sama,
karena kau memastikan bahwa sungai ini
tidak akan menyeret mereka ke hilir yang sama.
/6/
Menyala Bukan Untuk Diri Sendiri
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ia menyala bukan untuk dirinya sendiri,
tetapi untuk menyalakan rokok di bibir majikannya.
Ia membakar dirinya,
menjadi abu sebelum sempat menjadi nyala.
Ia adalah lilin yang dinyalakan di ruang keserakahan,
tetapi malaikat takkan lupa menuliskan namanya.
Ia tidak memiliki pilihan,
karena api tidak pernah bertanya ingin terbakar atau tidak.
Sekarang, ia bernafas lega,
anak-anaknya tumbuh tanpa asap,
tanpa abu di paru-paru mereka.
Dan itu cukup,
karena ia telah membakar dirinya untuk sesuatu yang lebih dari sekadar nyala.
Padang, Sumatera Barat
2014
/7/
CERMIN
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ia adalah cermin yang hanya dipakai untuk menilai orang lain,
tetapi tidak pernah diperiksa untuk dirinya sendiri.
Ia menangkap bayangan,
tetapi tak ada yang melihat siapa yang membersihkan debunya.
Setiap goresan di tubuhnya adalah sejarah,
tetapi tak ada yang membaca.
Setiap retakan adalah luka,
tetapi ia tetap berdiri,
karena cermin yang pecah tak pernah dianggap berharga.
Namun, lihatlah,
anak-anaknya tidak tumbuh dalam pantulan yang sama,
karena ia memastikan bahwa mereka belajar melihat,
bukan hanya dipantulkan.
Padang, Sumatera Barat
2014
/8/
Laut yang Tak Punya Pilihan Menjadi Daratan
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ia adalah samudra yang menelan badai,
tetapi di peta dunia, ia hanya disebut sebagai ‘perairan asing’.
Ia menggendong kapal-kapal yang membawa emas,
tetapi namanya tak pernah dicetak dalam sejarah.
Ia menumbuhkan mutiara di dasarnya,
tetapi tangannya tak pernah menyentuh kemewahan yang ia lahirkan.
Ia pasrah, tetapi bukan karena kalah—
karena laut tidak memiliki pilihan untuk menjadi daratan.
Namun, lihatlah,
anak-anaknya menulis ulang peta itu,
dan kali ini,
namanya tidak akan dihapus lagi.
Padang, Sumatera Barat
2014
/9/
Bayangan yang Melangkah Sendiri
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ia adalah bayangan dari sesuatu yang lebih besar,
dipaksa mengikuti tanpa pernah ditanya apa yang ia inginkan.
Ia berada di belakang,
tetapi tanpa ia,
tak akan ada bentuk yang jelas di depan.
Ia berjalan lebih panjang dari pemiliknya,
tetapi tetap tak diakui sebagai nyata.
Ia hanya ada saat ada cahaya,
tetapi tak pernah diberi hak untuk berdiri sendiri.
Namun, lihatlah,
anak-anaknya tidak lagi menjadi bayangan,
karena ia memastikan bahwa mereka akan menjadi cahaya
bagi dunia yang terlalu lama hidup dalam kegelapan.
Padang, Sumatera Barat
2014
/10/
GEMA KITA TETAP ADA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita telah menjadi suara yang tak terdengar,
tetapi gema kita tetap ada.
Kita telah menjadi kaki yang menopang dunia,
tetapi dunia tak pernah menulis nama kita.
Kita telah menjadi tulang punggung peradaban,
tetapi sejarah menuliskan nama orang lain.
Kita telah menjadi udara di ruang yang mereka hirup,
tetapi mereka tak pernah sadar siapa yang membangunnya.
Namun, lihatlah,
kita tidak menunggu dunia mengingat kita.
Karena jejak kita telah tertanam dalam setiap hal yang tak bisa mereka hancurkan.
Anak-anak kita tidak perlu tahu luka kita,
mereka hanya perlu berjalan lebih jauh,
agar kita tidak pernah sia-sia.
Padang, Sumatera Barat
2014
/11/
Meskipun Hilang Lenyap
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Bila kami tak lagi terdengar,
dengar kami dalam detak jantung anak-anak kami.
Bila kami tak lagi terlihat,
lihat kami dalam langkah mereka yang tak tertahan.
Kami tidak membutuhkan prasasti
untuk diingat oleh dunia yang melupakan.
Kami telah menulis diri kami sendiri
di kelopak pagi, di napas yang tak menyerah,
di tangan-tangan kecil yang menggenggam masa depan
tanpa gentar, tanpa ragu.
Kami bukan nama yang akan disebut di buku-buku sejarah,
tapi kami adalah denyut yang membuatnya terus tertulis.
Kami bukan api yang dinyalakan untuk dirayakan,
tapi kami adalah nyala yang tetap hidup,
bahkan setelah semua lampu dipadamkan.
Kami telah menanam makna di tanah peradaban,
dan meskipun kami hilang lenyap—
suara kami akan terus bergema di negeri ini.
Padang, Sumatera Barat
2014
——————————————
Kumpulan puisi berjudul “KAMI AKAN TERUS ADA” (puisi no. 1-11) awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2014. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
——————————————
Silahkan baca juga kumpulan puisi “KAMI TERUS ADA” di atas dalam bahasa Inggris dengan meng-klik link official berikut: