April 20, 2026
Islamic nuance in Indonesia based on the article

Yusuf Achmad

Keadilan adalah salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh manusia. Keadilan adalah kondisi dimana setiap orang mendapatkan hak dan kewajiban yang seimbang tanpa diskriminasi atau penindasan. Keadilan adalah prinsip yang harus ditegakkan dalam segala bidang kehidupan, baik sosial, politik, ekonomi, maupun hukum.

Namun, apakah kita sudah berbuat adil pada diri sendiri? Apakah kita sudah menghargai dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita? Apakah kita sudah tidak membandingkan diri kita dengan orang lain yang mungkin lebih beruntung atau lebih sengsara dari kita? Apakah kita sudah tidak mengeluh atau menyalahkan Allah atas segala kesulitan atau keterbatasan yang kita alami?

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk merefleksikan makna keadilan diri dalam kehidupan ini. Tulisan ini juga akan mengajak pembaca untuk berbuat adil pada diri sendiri dengan banyak bersyukur dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Batasan pembahasan tulisan ini adalah hanya mengambil contoh keadilan diri dalam konteks agama Islam.
Keadilan diri adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan rasa hormat dan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai makhluk Allah yang memiliki hak dan kewajiban. Keadilan diri juga berarti menyadari dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita tanpa melihat kekurangan atau kelebihan orang lain.

Salah satu cara untuk berbuat adil pada diri sendiri adalah dengan banyak bersyukur terhadap apapun yang dikaruniakan Allah kepada kita. Bersyukur adalah ungkapan rasa terima kasih dan puas atas nikmat-nikmat Allah, baik yang berupa materi maupun non-materi. Bersyukur adalah sikap yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 7:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’”
Ayat ini menunjukkan bahwa bersyukur adalah salah satu kunci untuk mendapatkan nikmat Allah yang lebih banyak lagi. Sebaliknya, mengingkari nikmat Allah adalah salah satu sebab untuk mendapatkan azab Allah yang sangat pedih. Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur atas segala nikmat Allah, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Salah satu nikmat Allah yang sering kita lupakan atau anggap biasa saja adalah nikmat Islam. Islam adalah agama yang sempurna dan lurus, yang mengajarkan kita untuk beriman dan bertakwa kepada Allah, serta berbuat baik kepada sesama makhluk. Islam adalah agama yang memberikan kita petunjuk dan hikmah, serta menjaga kita dari kesesatan dan kekufuran. Islam adalah agama yang membawa kita ke surga dan menjauhkan kita dari neraka.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. berkata:
“Nikmat mana lagi yang lebih besar dari pada nikmat Islam?”
Ucapan ini menunjukkan bahwa nikmat Islam adalah nikmat yang paling besar dan paling utama bagi kita. Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur atas nikmat Islam dengan cara mengamalkannya sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Salah satu cara untuk mengamalkan Islam adalah dengan tidak membandingkan diri kita dengan orang lain. Membandingkan diri dengan orang lain adalah sikap yang tidak baik dan tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena dapat menimbulkan rasa iri, dengki, sombong, atau rendah diri. Membandingkan diri dengan orang lain juga berarti tidak menghargai dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.

Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 32:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan nikmat-nikmat-Nya kepada setiap orang sesuai dengan usaha dan takdir-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat merubah atau menentang takdir Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu menerima dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah dengan cara berusaha dan berdoa sesuai dengan kemampuan dan keadaan kita.

Salah satu doa yang dapat kita panjatkan untuk bersyukur atas nikmat-nikmat Allah adalah doa Nabi Sulaiman as.:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku karunia untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml: 19)

• Doa ini menunjukkan bahwa bersyukur atas nikmat-nikmat Allah tidak hanya dengan ucapan atau perasaan, tetapi juga dengan perbuatan atau amal saleh. Amal saleh adalah segala perbuatan yang baik dan benar sesuai dengan syariat Islam, seperti shalat, zakat, puasa, Amal saleh adalah segala perbuatan yang baik dan benar sesuai dengan syariat Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, jihad, berdakwah, berilmu, berakhlak, dan lain-lain. Amal saleh adalah bukti dari rasa syukur kita kepada Alloh atas nikmat-nikmat-Nya, serta cara untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan mendapatkan ridha-Nya.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keadilan diri adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan rasa hormat dan penghargaan terhadap diri sendiri sebagai makhluk Alloh yang memiliki hak dan kewajiban. Keadilan diri juga berarti menyadari dan mensyukuri nikmat-nikmat Alloh yang telah diberikan kepada kita tanpa melihat kekurangan atau kelebihan orang lain. Oleh karena itu, kita harus berbuat adil pada diri sendiri dengan banyak bersyukur dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Bagi yang ingin berbuat adil pada diri sendiri, penulis menyarankan untuk:
• Meningkatkan kesadaran dan penghargaan terhadap nikmat-nikmat Alloh yang telah diberikan kepada kita, baik yang besar maupun yang kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
• Menyampaikan rasa syukur kepada Alloh dengan ucapan, perasaan, dan perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Islam.
• Menghindari sikap iri, dengki, sombong, atau rendah diri terhadap orang lain yang mungkin lebih beruntung atau lebih sengsara dari kita.
• Mengamalkan Islam dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan dan keadaan kita.