Oleh: Rizal Tanjung
–
Kekasihku,
Tiadalah rindu yang lebih besar
Dari pada sendiri berdua—
Seperti bayang dalam pelukan cahaya
yang tak pernah bersentuh,
seperti malam yang mengecup pagi
tanpa sempat berucap selamat tinggal.
Aku adalah angin yang menunggu napasmu
di celah dedaunan sepi,
penunggu sunyi di altar takdir
yang kaulintasi dalam diam.
Tiadalah rindu yang lebih bernyawa
dari pada doa yang tak bersuara,
yang menatapmu dari jauh
tanpa menuntut arah pulang.
Cinta kita—
bukan api yang membakar
tapi bara yang sabar,
menunggu dipeluk hujan
agar tak padam sia-sia.
Tiadalah cinta yang lebih kudus
dari pada yang tak menuntut sorga,
yang tak mencatat dosa,
yang lahir dari luka,
dan tumbuh menjadi bunga
di taman waktu yang tak bernama.
Dan pengungkai itu adalah aku:
pena sunyi yang menulis namamu
di langit-langit malam,
angsa luka yang berenang
dalam danau matamu yang nyalang.
Cintaku,
Cinta kita,
panggillah aku—
seperti fajar memanggil embun,
seperti bumi memanggil hujan,
seperti nyawa memanggil tubuhnya yang hilang.
Aku akan datang,
dengan langkah yang tak berbunyi,
dengan hati yang penuh puisi,
dan cinta yang tak akan pernah selesai
menyebut namamu.
Sumatera Barat,2025