May 1, 2026
narasoma19

Oleh Anto Narasoma

PELUKIS naturalis Francis abad ke-19, Jules Batien-Lepage, begitu hebat memindahkan keaslian alam dan manusia yang menjadi motif kreativitasnya ke dalam corak lukisannya.
————-

Menurut Jules, agar fokus alam dan manusia yang dijadikan mode itu pindah secara estetik ke dalam lukisannya, ia harus lebur secara kreatif untuk memahami nilai rasa di dalam dirinya.

Tak heran jika sejumlah lukisan naturalisnya begitu indah, legend, dan memperlihatkan keindahan pedesaan dengan wanita desa yang sederhana.

Bisa jadi, pelukis maturalis dari Palembang ini secara tak sadar mengikuti cara pelukis pendahulunya itu itu.

Apabila Julies Bastien-Lepage lebih cenderung melukis alam dan sosok manusia, Jeppy tampaknya lebih memilih keindahaan alam secara terbuka.

Palembang sebagai lokasi kelahiran dan pemukimannya sarat air (sungai dan air jeram), maka hasil corat-coretnya lebih banyak menggambarkan kondisi sungai (musi).

Seperti lukisan rumah-rumah penduduk di pinggiran sungai (Kalurahan 7 Ulu Kecamatan Seberang Ulu Palembang), tampak indah dan alami.

Rumah-rumah panggung yang sederhana, memperlihatkan suana air sungai (Sungai Musi) yang dalam kondisi tidak pasang. Sedangkan di depan rumah terdapat sepotong jembatan kayu ke arah sungai.

Jembatan ini biasa digunakan untuk mandi dan mencuci oleh warga kampung itu. Tampak dari kejauhan, tampak dua orang sedang mencuci pakaian.

Tradisi masyarakat sehar-hari ini digambarkan Jeppy dengan situasi yang nyaris sempurna. Dari genangan air berwarna kecokelatan, serta kadar kebeningan airnya terlukis dengan baik.

Proses Kreatif
Kalau menelisik dari proses kreatifnya, Jeppy lebih cenderung membangun persepsi lewat nilai rasa yang tinggi (feel). Sebab pemindahan obyek alam ke dalam lukisannya itu terkesan begitu dalam.

Sebab dari gagasan pertama ia menggoreskan kuas di atas kanvas, dikotomi kepuasan batinnya, mampu memindahkan obyek luar ke dalam lukisannya secara natural.

Karena itu segala aspek terkecil dari ide yang pelukis tangkap, secara intrinsik mampu ia terjemahkan sebagai gambaran naturalisme yang sejuk ketika dipandang.

Apalagi dari unsur terkecil yang pelukis gambarkan, tampak hidup dan melengkapi segala gambaran obyek alam yang menjadi fokus idenya.

Meski tiap orang (pelukis) memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, namun kelebihan pelukis Jeppy justru mampu menyerap detil-detil situasi yang ia tangkap ke dalam lukisannya secara estetika.

Dari gaya artistik yang kental itu, maka setiap fase yang ia kerjakan (waktu melukis) mampu memperlihatkan nilai-nilai gambaran obyek yang realis (seperti sesungguhnya).

Jeppy tampak begitu akurat memperhatikan setiap rincian ruang, warna air sungai, papan, tiang kayu, serta bias cahaya matahari di tengah-tengah gelapnya cahaya, akibat fisik rumah yang menghalanginya.

Dari kemampuan teknis, setiap detil di sudut-sudut obyek lukisan begitu diperhatikan Jeppy. Tampaknya optimismenya tentang realita yang ia lihat, langsung ditangkap dan diolahnya menjadi gambaran realistik.

Itu artinya, dari celah-celah tiang kayu, sehingga tiap detilnya terlihat adanya lekukan yang estetis.

Sebagai pelukis maturalis, tampaknya Jeppy sangat komitmen dengan kemurnian obyek yang ia garap. Memang, tak mudah untuk melukiskan kemurnian obyek di lapangan, kemudian secara teknis ia transfer ke dalam karyanya.

Makanya kekaguman orang-orang terhadap lukisan naturalis sangat besar. Misalnya memandang karya seorang master pelukis Basuki Abdullah.

Karena setiap lukisan di atas kanvas dengan cat dasar, dan bisa juga mennggunakan cat akrilik, akan memperlihatkan gambaran naturalistik yang alami. (*)

© penulis adalah seniman dan jurnalis

Palembang
21 Juli 2023