Kemenag KKT Fasilitasi Mediasi GBI Milos dan Pemerintah Desa Lumasebu
Oleh : joko
Pertemuan Mediasi di Aula Kemenag Kepulauan Tanimbar Menyatukan Pemerintah, Tokoh Agama, dan Jemaat dalam Semangat Kasih dan Musyawarah, Mengedepankan Dialog, Merajut Kembali Keharmonisan Umat.
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, 28 Juli 2025 — Dalam suasana penuh harap dan semangat kebersamaan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Tanimbar (Kemenag KKT) menggelar pertemuan mediasi terbuka menyikapi persoalan antara jemaat GBI Milos Desa Lumasebu dan pemerintah desa setempat yang telah berlangsung selama lima tahun.
Bertempat di Aula Kantor Kemenag KKT, Jalan Ir. Soekarno, Saumlaki, pertemuan ini menjadi titik temu para pemangku kepentingan lintas sektoral, dengan tujuan mencari solusi terbaik yang menjunjung tinggi nilai keadilan, kerukunan, dan hak konstitusional beragama.
Pihak yang Hadir: Jemaat, Pemerintah Desa, dan Keamanan
Melalui surat undangan resmi bernomor 469/Kd.25.04.07/BA.00/0503/2025, Kepala Kantor Kemenag KKT, Aloysius Paskhalis Rumwarin, S.Fil, mengundang:
- Pengurus Jemaat GBI Milos Lumasebu
- Pimpinan Harian Majelis Jemaat GPM Lumasebu
- Kepala Desa Lumasebu
- Bhabinkamtibmas Desa Lumasebu.
Turut ditembuskan pula kepada Camat Kormomolin, Ketua Klasis GPM Tanimbar Utara, Kapolsek Kormomolin, dan Ketua GBI Wilayah Kepulauan Tanimbar.

Doa Pembuka: Hadirkan Kasih, Bukan Konflik
Pertemuan diawali dengan doa yang penuh makna dari Matheus Lewier, Kepala Seksi Bimas Kristen Kemenag KKT. Dalam doanya, ia menyerahkan segala dinamika yang terjadi kepada kuasa Roh Kudus.
“Tuhan, kuatkan kasih dalam hati kami. Damai-Mu yang menguasai segala keputusan. Beri kami kebijaksanaan dalam pertemuan ini,” ucapnya.
Kepala Kemenag KKT: “Dialog adalah Jalan Paling Manusiawi”
Dalam sambutannya, Aloysius Paskhalis Rumwarin menekankan bahwa masalah yang berlarut ini tidak boleh terus dibiarkan.
“Dosa terbesar manusia adalah bersikap acuh tak acuh. Mari kita jujur, saling menghargai dan mulai sesuatu yang baru. Jangan saling menyalahkan,” tegasnya.
“Saya akan turun langsung ke Lumasebu untuk berdialog. Ini masalah keluarga. Kita perlu solusi nyata.”

Stepanus Tia: “Kita Saudara, Ini Masalah Ego, Bukan Agama”
Stepanus Tia, Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Kemenag Provinsi Maluku, menyampaikan bahwa persoalan GBI Milos ini lebih disebabkan oleh miskomunikasi dan ego, bukan soal keyakinan.
“Ini bukan hal baru. Persoalan seperti ini juga terjadi di daerah lain. Yang penting kita selesaikan dengan kasih,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Kepala Desa pernah mengeluarkan surat keterangan mengenai aktivitas jemaat GBI Milos di Lumasebu.
Kepala Desa Lumasebu: “Kami Jamin Keamanan, Perlu Tatap Muka”
Silas Lambiombir, A.Md, Kepala Desa Lumasebu, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai pendekatan, termasuk pelibatan Linmas dalam menjaga ketertiban.
“Kami bersedia dialog dengan tokoh gereja, kami menjamin keamanan. Kami ingin transparansi di depan masyarakat,” ucapnya.

Suara dari Jemaat dan Pendeta GBI
Pdt. Johan Batmomolin menyampaikan bahwa selama ini pihaknya hanya ingin melayani jemaat tanpa ada maksud lain.
Sementara itu, Pdt. Heberth S. Wahilaitwan, Gembala Sidang GBI Milos Saumlaki, meminta kepastian dari Kepala Bidang Bimas Kristen Propinsi dan Kepala Kemenag KKT utk segera terbitkan Rekomendasi Pelayanan sebagai bentuk kepedulian dan sekaligus legalitas sebagai perwakilan pemerintah dalam mengurusi bidang keagamaan.
Secara Administrasi Pdt Helberth telah berusaha utk memenuhi semua syarat yang diminta oleh Kemenag termasuk Keterangan domisili Anggota Jemaat GBI MILOS Lumasebu di Desa Lumasebu yang telah diterbitkan oleh Kades Lumasebu-Silas Lambiombir.
“Ini tentang jiwa. Bagaimana kami bisa melayani jemaat, bahkan saat duka? Kami butuh kejelasan,” katanya.
Pdt. Yonas Anaktototi, S.Th, juga menegaskan bahwa bila tidak ada kejelasan, situasi ini berpotensi masuk ranah hukum.
Bhabinkamtibmas: “Ini Masalah Keluarga, Kita Butuh Pendekatan Emosional”
Aipda Yoseph Refualu, Bhabinkamtibmas Desa Lumasebu, menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan patroli pencegahan dan mendukung pendekatan damai.
“Kita semua satu keluarga. Jangan ada konflik,” ujarnya singkat namun tegas.

Doa Penutup: “Roh Kudus Pimpin Desa Lumasebu”
Doa penutup kembali dipimpin Stepanus Tia, yang menyerahkan seluruh proses kepada kuasa Tuhan.
“Kami percaya, hari ini adalah hari yang Tuhan janjikan. Tidak ada kuasa yang lebih besar dari Roh Kudus. Biar damai menaungi desa Lumasebu,” tutupnya.

Ramah Tamah dan Foto Bersama
Pertemuan ditutup dengan penuh kehangatan, saling berjabat tangan, dan sesi foto bersama, sebagai simbol harapan baru dan rekonsiliasi.
Mediasi ini menjadi bukti nyata bahwa semangat persaudaraan tetap hidup di tengah masyarakat yang plural.
Pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat diharapkan terus merawat kebersamaan, menjauh dari provokasi, dan menjadikan dialog sebagai jembatan perbedaan.