Kurikulum Berbasis Cinta: Dari Kebebasan Menuju Pembelajaran Bermakna dan Menyentuh Jiwa
(Perubahan Paradigma dari Kumer Ke KBC)
Oleh : Dafril, Tuanku Bandaro
Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Study Islam S3 UM Sumbar
Di tengah denyut perubahan zaman yang terus mengalir deras, pendidikan Indonesia mengalami metamorfosis yang tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga spiritual dan kultural. Kurikulum Merdeka telah membuka gerbang kebebasan belajar, memberikan ruang bagi peserta didik untuk bertumbuh sesuai dengan minat dan bakatnya. Namun, hadirnya Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi angin segar yang membawa dimensi baru—dimensi afektif yang menghidupkan kembali rasa, ruh, dan kasih dalam seluruh proses pembelajaran.
1. Paradigma Pembelajaran: Dari Merdeka Belajar ke Cinta Belajar
Kurikulum Merdeka mengedepankan kebebasan: membebaskan guru dari tekanan administratif dan membebaskan peserta didik dari kurikulum yang kaku. Namun KBC menambahkan satu unsur kunci yang menggerakkan seluruh sendi kehidupan: cinta. Cinta kepada Tuhan, kepada sesama, kepada alam, dan kepada ilmu menjadi fondasi baru yang menyentuh dan menghidupkan ruang kelas yang sebelumnya dingin dan kering dari rasa.
Implikasi: Guru tidak lagi hanya sekadar fasilitator, tetapi menjadi penanam rasa, pelukis jiwa, pembangun karakter, dan penyiram benih spiritualitas dalam ladang hati muridnya.
2. Nilai Dasar: Penekanan pada Ekoteologi dan Humanisasi
Jika Kurikulum Merdeka membentuk pelajar Pancasila dengan profil yang kokoh secara nalar dan karakter, maka KBC menyuntikkan unsur cinta kasih, empati, dan kepekaan terhadap sesama dan lingkungan.
Implikasi: Pembelajaran bukan lagi soal siapa paling cerdas, tetapi siapa paling penyayang. Bukan sekadar mengasah otak, tetapi juga membasuh hati dan membentuk manusia yang utuh—yang berpikir dan merasa, yang cerdas dan peduli.
3. Ekologi sebagai Ruang Belajar
Kurikulum Merdeka telah memperkenalkan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) dengan ragam tema. Namun KBC melangkah lebih dalam dengan menjadikan alam sebagai guru sejati. Sungai menjadi lembaran buku, angin menjadi bisikan hikmah, dan tanah menjadi papan tulis yang sunyi namun penuh makna.
Implikasi: Proyek P5 tidak sekadar tugas tematik, tetapi menjadi perjumpaan eksistensial antara manusia dan semesta. Menanam, membersihkan lingkungan, hingga merenung di bawah rimbun pepohonan kini menjadi bagian kurikulum yang menyucikan diri.
4. Spiritualitas sebagai Inti Pendidikan
Dalam Kurikulum Merdeka, spiritualitas hadir dalam pelajaran agama dan P5, namun dalam KBC, ia menjadi inti kurikulum, bukan pelengkap. Cinta Ilahiah dihadirkan dalam setiap aktivitas belajar—sebagai napas, cahaya, dan arah.
Implikasi: Belajar menjadi jalan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa), tafaqquh (pendalaman makna), dan taqarrub (pendekatan diri kepada Ilahi). Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan perjalanan ruhani menuju kearifan dan kedamaian.
5. Interaksi Guru-Murid Berbasis Kasih
Kurikulum Merdeka mendorong asesmen formatif dan diferensiasi. KBC melangkah lebih hangat, dengan membangun relasi kasih antara guru dan murid. Relasi yang tidak menekan prestasi, tetapi menumbuhkan keberanian dan percaya diri.
Implikasi: Guru menjadi pembimbing jiwa, bukan sekadar pengajar konten. Ia hadir bukan hanya dengan kurikulum, tetapi dengan pelukan, doa, dan cahaya cinta yang menguatkan langkah setiap anak.
6. Inovasi Praktik: Surau, Teras, dan Alam sebagai Laboratorium
Jika Kurikulum Merdeka masih berpusat di sekolah, maka KBC membebaskan ruang belajar: surau, lumbung, teras, kebun, sungai, dan rumah ibadah menjadi laboratorium kehidupan. Di situlah nilai-nilai hakiki ditanamkan dan dijalani.
Implikasi: Pendidikan menjadi membumi, membaur, dan menyatu dengan denyut nadi kehidupan sehari-hari. Anak tidak hanya belajar untuk ujian, tetapi untuk kehidupan.
7. Pengembangan Modul dan Silabus: Berbasis Cinta
Modul ajar dalam Kurikulum Merdeka berbasis capaian kompetensi. KBC menyusunnya dengan nada cinta, menyentuh afeksi siswa, menyelipkan harapan, doa, dan kasih dalam setiap indikator pembelajaran.
Implikasi: Modul tidak hanya berbicara tentang kompetensi minimum, tetapi kemanusiaan maksimum. Setiap halaman adalah pesan kasih, bukan sekadar instruksi tugas.
Penutup: Menyatukan Ruang dan Jiwa
Kurikulum Merdeka telah membuka ruang, KBC menghidupkan jiwa dalam ruang itu. Seperti kendaraan dan bahan bakar, keduanya dapat bersinergi. Yang satu membebaskan langkah, yang satu menggerakkan hati.
”Jika Kurikulum Merdeka adalah jalan raya yang terbuka lebar,
Maka Kurikulum Berbasis Cinta adalah arah mata angin yang membimbing ke tujuan hakiki: manusia yang bijak, lembut, dan penuh kasih.
Pendidikan bukan lagi tentang menjawab soal dengan benar, tetapi menjawab hidup dengan cinta. Inilah saatnya pendidikan Indonesia naik kelas—dari Merdeka Belajar menuju Cinta Belajar. Dari pengetahuan ke hikmah, dari kompetensi ke welas asih.