May 18, 2026

Kepala MAN Kota Sawahlunto Resmi Buka Kokurikuler Bertema Ekoteologi

IMG-20260518-WA0168

Sawahlunto (Humas), 18 Mei 2026

Halaman MAN Kota Sawahlunto, Senin (18/5/2026), ketika Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro, secara resmi membuka kegiatan Kokurikuler MAN Kota Sawahlunto Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga 21 Mei 2026 itu mengusung tema Ekoteologi sebagai ikhtiar membangun kesadaran spiritual dan kepedulian lingkungan di kalangan peserta didik.

Pembukaan kegiatan berlangsung khidmat dan penuh semangat, dihadiri oleh seluruh koordinator dan fasilitator kegiatan kokurikuler, serta seluruh siswa Fase E dan Fase F. Dalam kesempatan tersebut Kepala Tata Usaha Yurmaini dan Wakil Kepala Bidang Kurikulum Oky Loly Weny turut mendampingi jalannya acara.

Sebagai simbol dimulainya kegiatan, dilakukan penyerahan bibit tanaman kepada para koordinator yang didampingi fasilitator masing-masing. Penyerahan bibit itu menjadi penanda lahirnya semangat baru dalam merawat bumi sebagai amanah Tuhan, sekaligus bentuk nyata dukungan terhadap program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia tentang penguatan nilai-nilai ekoteologi di lingkungan madrasah.

Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro dalam Sambutannya menegaskan bahwa madrasah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan kesadaran moral, spiritual, dan tanggung jawab terhadap alam semesta.

“Melalui kegiatan kokurikuler bertema ekoteologi ini, kita ingin membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memahami bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah,” ujar Dafril Tuanku Bandaro.

Nuansa kegiatan terasa berbeda. Deretan bibit tanaman yang tersusun rapi di hadapan peserta seakan menjadi bahasa sunyi yang mengajarkan harapan bahwa setiap tunas yang ditanam hari ini adalah doa panjang bagi masa depan bumi. Di bawah langit Sawahlunto yang teduh, para siswa tampak antusias mengikuti rangkaian pembukaan, seolah menyadari bahwa mereka sedang diajak memasuki ruang pembelajaran yang lebih luas dari sekadar dinding kelas.

Kegiatan kokurikuler ini dirancang sebagai wadah penguatan karakter dan pembelajaran kontekstual. Melalui pendekatan ekoteologi, para siswa diajak memahami hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai-nilai itu akan diwujudkan melalui berbagai aktivitas edukatif, kolaboratif, dan berbasis lingkungan selama empat hari pelaksanaan.

Tidak sekadar seremoni, kegiatan tersebut menjadi penegasan bahwa madrasah hadir sebagai pelopor perubahan sosial dan lingkungan. Dari halaman sederhana itu, tumbuh keyakinan bahwa pendidikan sejati bukan hanya melahirkan generasi yang pandai berbicara tentang masa depan, tetapi juga generasi yang mau menanam, merawat, dan menjaga kehidupan.

Kontributor: Nofri Hendra

Editor : DTB