April 26, 2026

KEPEMIMPINAN YANG MEMBUMI: MEMBANGUN PENDIDIKAN DENGAN HATI DAN HORMAT

Oleh: Dr.Balthasar Watunglawar, S. Pd., MAP., SH.

Di tengah tantangan kompleks dalam dunia pendidikan dan pemerintahan saat ini, kebutuhan akan sosok pemimpin yang tidak hanya cakap secara teknis tetapi juga matang secara moral dan spiritual menjadi semakin mendesak. Pemimpin yang mampu menggerakkan perubahan bukan melalui kekuasaan semata, melainkan dengan keteladanan, empati, dan keberanian melayani. Di sinilah relevansi buku “Kepemimpinan yang Membumi: Membangun Pendidikan dengan Hati dan Hormat” karya Dr. Karnadi menjadi sangat penting untuk diangkat ke ruang publik.

Buku ini bukan sekadar teks akademik atau panduan manajerial. Ia merupakan refleksi mendalam dari seorang praktisi sekaligus pemikir yang memadukan pengalaman, etika, dan spiritualitas ke dalam narasi kepemimpinan yang nyata. Dalam pandangan Dr. Karnadi, kepemimpinan sejati tidak dilahirkan dari keinginan untuk menguasai, melainkan dari hasrat untuk melayani dan memanusiakan. Di sinilah letak keunggulan utama buku ini—ia membumi dalam praktik, dan meninggi dalam nilai.

Salah satu tokoh yang memberikan penghargaan tinggi terhadap buku ini, Dr. Balthasar Watunglawar, menegaskan bahwa karya ini mampu menjembatani pemikiran konseptual dan praktik di lapangan. Menurutnya, buku ini bukan hanya relevan bagi para akademisi atau pendidik, melainkan juga wajib dibaca oleh seluruh pemimpin—baik di lembaga pendidikan, birokrasi, maupun sektor swasta—yang ingin dihormati dan disayangi oleh orang-orang yang mereka pimpin.

Di dalam buku ini, Dr. Karnadi menyuguhkan sembilan bab penuh makna, mulai dari urgensi kepemimpinan yang membumi, pentingnya empati dan kehadiran otentik, hingga tantangan moral dan spiritual dalam dunia pendidikan. Setiap bagian ditulis dengan bahasa yang reflektif, humanis, dan tidak menggurui. Ia mengajak pembaca untuk merenung, bukan sekadar menerima teori. Ia menyentuh hati, bukan hanya logika.

Buku ini juga menyuarakan nilai-nilai luhur yang lama terabaikan dalam praktik kepemimpinan kontemporer: kesederhanaan, penghormatan, keadaban, dialog, dan keberanian untuk menghadirkan keadilan dengan kasih. Di saat dunia menyaksikan krisis keteladanan, buku ini hadir sebagai suara jernih yang mengingatkan kita bahwa kekuasaan harus diiringi dengan akal budi dan hati nurani.

Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan agar buku “Kepemimpinan yang Membumi: Membangun Pendidikan dengan Hati dan Hormat” ini dibaca oleh seluruh pejabat publik, kepala sekolah, dosen, manajer perusahaan, aktivis sosial, hingga mahasiswa yang kelak akan menjadi pemimpin. Bukan semata untuk mencari inspirasi, tetapi untuk menata kembali cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak dalam ruang-ruang kepemimpinan kita.

Jika kita ingin institusi pendidikan kita menjadi tempat yang membentuk manusia utuh, jika kita ingin birokrasi menjadi alat pelayanan yang bermartabat, jika kita ingin masyarakat tumbuh dalam rasa saling percaya—maka kita membutuhkan pemimpin yang membumi. Pemimpin yang hadir, mendengar, menguatkan, dan menginspirasi.

Mari kita mulai dari satu langkah sederhana: membaca buku ini, dan membiarkan hati kita disentuh oleh kebijaksanaan di dalamnya.

***