🏝Butir Butir Pasir Di Laut🏖🏝
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
Siapa yang tahu soal masa depan? Bagaimana kita bersikap pada apa yang belum pasti di depan?
Inilah pertanyaan yang menghantui dunia kita saat ini yang semakin kompleks banyak tantangan. Ditekan oleh tantangan jaman, kita yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai manusia yang beraqal justru seringkali berubah menjadi pengecut yang selalu gelagapan.
Itulah yang terjadi di Indonesia. Banyak orang khawatir akan masa depan hidupnya. Bisnis asuransi dan Artificial Intelligence (AI) masa depan mulai menjamur dan membuat banyak orang terjerat di dalam jaring-jaringnya. Baik sebagai individual warga negara, ataupun sebagai bangsa, kita takut akan masa depan, dan kehilangan pegangan dasar, yaitu Allah Ta’ala. Pemilik Bumi dan seluruh Alam Semesta.
Nilai-nilai dasar yang membuat kita manusiawi lenyap tak terasa. Di hadapan tantangan ketidakpastian, kita membuang nilai-nilai hidup yang membuat kita berharga pada awalnya. Kita menjadi pengecut-pengecut yang takut pada gerak dunia, sehingga mulai tergantung pada AI.
Pada akhirnya kita pun lenyap, karena lupa akan identitas asali kita.
Di dalam hidup mayoritas yang kita alami bukanlah peristiwa besar, melainkan peristiwa yang biasa-biasa saja. Kita menjalani rutinitas yang selalu sama. Rasa jemu pun datang tak diminta. Di dalam kejemuan semua yang kita anggap berharga seolah tak lagi bermakna. Dan AI kita jadikan Rajanya Manusia.
Di sisi lain kita seringkali mengalami peristiwa-peristiwa luar biasa, entah mengalami krisis kegagalan, atau keberhasilan yang menyenangkan hati. Dunia seolah dihempas ke arah-arah ekstrem, tanpa bisa kita kuasai. Hati terus dipenuhi dengan sensasi. Hari- hari pun terasa berwarna-warni.
Ketika kita jemu, krisis, ataupun ceria di dalam keberhasilan, kita seringkali lupa tentang nilai-nilai dasar hidup yang sejati. Akibatnya kebingungan pun tercipta, dan merusak ketenangan diri. Tujuan hidup sejati yang terlupa, dan orang sibuk pada hal-hal yang tidak sejati. Pada akhirnya ia merasa hampa dan tak bahagia.
Supaya itu tak terjadi, ada dua hal yang tetap harus dijaga, yakni kesetiaan pada nilai-nilai dasar hidup, dan kemampuan untuk bertahan menghadapi gejolak, ataupun kejemuan. Nilai-nilai hidup adalah yang membuat kita awalnya menjadi manusia, dan bukan binatang ataupun tumbuhan. Adapun nilai-nilai itu adalah hormat pada martabat manusia, keteguhan hati di tengah badai ataupun kejemuan, keberanian menyatakan apa yang benar, dan keberanian untuk bertindak apa yang baik, lepas dari apapun yang mengancam. Tanpa nilai-nilai hidup itu, kita tidak bisa disebut sebagai manusia seutuhnya.
Manusia perlu untuk selalu menjadi pemilik tujuan hidup, apapun yang terjadi. Ia tidak pernah boleh menjadi alat bagi tujuan apapun di luar dirinya. Manusia bukan barang ataupun alat yang bisa dimanfaatkan. Inilah nilai pertama yang selalu harus dipegang.
Di Indonesia manusia seringkali dimanfaatkan. Manusia seringkali menjadi alat bagi tujuan-tujuan tertentu di luar dirinya, entah sebagai alat pencari uang, atau peraih kekuasaan. Seperti hewan ataupun tumbuhan, manusia diperas demi kepentingan manusia lain yang merasa lebih punya kekuatan. Ini tidak boleh dibiarkan.
Di sisi lain keteguhan hati juga amat diperlukan, supaya orang bisa mencapai tujuan hidupnya. Keteguhan hati tergambar di dalam kesetiaan pada prinsip dan profesi, lepas dari apapun yang ada di depan mata. Keteguhan hati adalah integritas manusia yang membuat ia terus utuh dan berharga di dalam hidupnya.
Di Indonesia kita seringkali tak punya keteguhan hati yang cukup perkasa. Yang kita punya adalah pertimbangan jangka pendek yang akan segera melepaskan keteguhan hati pada prinsip hidup, ketika kesempatan datang menarik mata. Kita adalah para pencari kesempatan di tengah kesempitan hidup, dan tak pernah beranjak menjadi bijaksana. Ini juga tidak bisa dibiarkan terus ada.
Dengan kesadaran yang mendalam akan martabat manusia, serta dibarengi keteguhan hati di dalam krisis ataupun kejemuan, orang akan dimungkinkan untuk selalu memilih apa yang baik, dan bertindak yang benar di dalam hidupnya. Dengan bekal ini orang tak perlu takut akan masa depan yang tak pasti, dan kesulitan yang selalu ada. Nilai-nilai ini akan menyelamatkan hidupnya, dan membuatnya tumbuh menjadi bijaksana.
Tanpa penghormatan pada martabat manusia dan keteguhan hati, orang akan terombang-ambing di dalam gerak jaman. Integritas dirinya akan lenyap, dan ia akan nilai-nilai sejati hidupnya. Pada akhirnya ia akan hancur dan tak berdaya. Oleh karena itu ia perlu berubah, dan mengingat kembali apa yang sungguh penting di dalam hidupnya, sebelum semuanya terlambat.
Inilah jalan untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Di dalam proses orang akan memperoleh banyak hal yang berharga. Kesulitan akan datang namun bahagia pun akan turut serta. Di akhir hidup orang akan bisa berkata pada dirinya, saya telah menjalani hidup dengan baik, dan saya bahagia. Saya rasa itulah tujuan hidup setiap manusia.
Ayat-ayat ini menunjukkan akal adalah anugerah dari Allah yang harus digunakan untuk berpikir dan memperoleh pengetahuan.
1) QS.3 Ali Imran ayat 190-191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
2) QS.6 Al-An’am ayat 151: ” … dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (akhir ayat)
3) QS.9 At-Taubah ayat 122: “Dan tidak sepatutnya bagi mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk mendalami pengetahuan (agama) mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaum mereka apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga diri.”
4) QS.2 Al-Baqarah ayat 73: “Lalu Kami berfirman: ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota badan binatang itu.’ Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya supaya kamu mengerti.” (penutup ayat)
5) QS.65 Ath-Thalaaq ayat 10: “… Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
Fungsi akal menurut Al-Qur’an :
• Memahami tanda-tanda kebesaran Allah: Akal digunakan untuk merenungkan ciptaan alam semesta dan hukum-hukum-Nya.
• Membedakan kebaikan dan keburukan: Akal berfungsi sebagai filter moral untuk menghindari perbuatan yang dilarang, seperti yang ditegaskan dalam QS. Al-An’am ayat 151.
• Mencapai pengetahuan: Akal bersama indra dan hati adalah alat untuk memperoleh pengetahuan objektif.
• Mencegah hawa nafsu: Akal bertindak sebagai penghalang nafsu agar manusia tidak mengikuti kehendak yang buruk.
🙏Semoga Dapat Dipahami oleh Manusia Yang Berakal