KETIKA DAMAI MENJADI RACUN
Oleh Herry Tjahjono
–
Begitu mudah mereka datang,
merangsek tanpa undangan,
mempersekusi atas nama mayoritas, merusak atas nama izin.
Sore itu di Cidahu, bukan hanya vila yang mereka porak-porandakan–tapi sebuah retret rohani untuk anak: muara iman, harapan, dan pelajaran tentang Indonesia yang katanya “beradab.”
Anak-anak yang sedang belajar tentang kasih, mendadak dipaksa belajar tentang sakit hati, ketakutan, dan kebencian.
Lalu, seperti biasa–pelaku dan korban dijajarkan–seolah sama-sama lelah. Padahal yang satu “berdarah”, yang satu cuma “merasa terganggu”.
Damai–kata yang dulu suci–
kini seperti racun dalam gelas,
dihidangkan manis tapi “mematikan keadilan”.
Damai, terlalu sering hanya menjadi nama lain atau alias dari “selesai tanpa solusi.” Terlalu sering negara datang telat, atau datang, hadir, hanya untuk memastikan: “ada damai di sana”.
Lalu kita bertanya:
Mengapa intoleransi begitu berani?
Mengapa persekusi begitu santai?
Karena dari waktu ke waktu, negara tak benar-benar menindak, hanya menenangkan, hanya meredakan, tak pernah menyembuhkan.
Itulah racunnya.
Ketika damai dijadikan jalan pintas, ketika negara menjadi permisif. Dan kita pun terus menanam luka dengan tangan yang gemetar, dalam hening yang pura-pura bahagia.
Jangan ajarkan anak-anak itu tentang damai, kalau yang mereka saksikan adalah kezaliman yang disenyapkan.
Herry Tjahjono