Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Ketika Deras Menggulung

Puisi Esai
Era Nurza

Air itu datang seperti dendam yang lama dipendam
Dari hulu yang tak lagi kuat menahan beban
ia meluncur membawa serpihan batang akar tanah dan nasib manusia
Di Sumbar malam menjadi saksi ketika bumi membuka retakan seperti dada yang tak sanggup lagi menahan tangisnya sendiri
Bukit runtuh tanpa suara peringatan
Pohon-pohon tumbang seperti para penjaga tua yang akhirnya menyerah pada usia

Di lembah rumah-rumah hanyut terbawa arus
seperti mimpi yang dicabut tanpa pamit Jembatan-jembatan yang selama ini menjadi penghubung pulang
roboh dalam sekejap
menyisakan patah yang menganga di tengah sungai yang menghitam

Air berlumpur datang dari segala arah mengetuk pintu tanpa izin
memasuki ruang tamu kamar dapur
menghapus jejak kehidupan yang dibangun dengan sabar bertahun-tahun
Di banyak tempat hanya atap-atap yang tersisa
seperti kepala yang masih mencoba menghadap langit
memohon agar duka ini berhenti bertambah

Orang-orang berdiri di tepi arus yang menggila
memanggil nama yang tak kunjung menjawab
Jeritan bercampur dengan gemuruh air menciptakan bahasa baru
bahasa kehilangan yang tak sempat dirumuskan

Anak-anak menggenggam tangan ibu mereka begitu erat
seakan takut dunia akan hanyut sekali lagi
Namun meski malam itu begitu gelap
ada cahaya kecil yang muncul dari tubuh manusia
Dalam pelukan antarwarga
dalam tangan-tangan yang menolong tanpa menunggu aba-aba
dalam doa-doa yang meluncur di balik getar bibir yang pucat

Betapa pun dilanda luka
tidak pernah kehabisan keberanian untuk tetap berdiri
Di balik lumpur yang menelan langkah
ada keteguhan yang pelan-pelan bangkit Orang-orang mulai membersihkan puing meski air masih mengalir di sekitar kaki mereka
Mereka tidak sekadar mencari barang yang hilang
tetapi mencari bagian diri yang masih bisa diselamatkan

Bencana ini memang merobek banyak hal
tanah rumah bahkan harapan
Tetapi ada yang tidak dapat dihanyutkan oleh arus paling ganas sekali pun
keyakinan bahwa manusia bisa bangkit dari apa pun
selama mereka saling menggenggam

Sumbar akan mengenang hari ketika semuanya rubuh
Juga akan mengenang hari ketika ia bangkit lagi
Dari lumpur dari deras dari langit yang patah
bangkit dengan napas berat
tetapi dengan hati yang lebih kokoh
dan pada akhirnya
ketika air merenggut hampir segalanya
cahaya manusia tetap menemukan caranya untuk kembali menyala

Padang, 27 November 2025