Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Resensi Puisi
Oleh: Paulus Laratmase

Pengantar

Puisi “Hening yang Tak Memiliki Waktu” karya Leni Marlina menghadirkan lanskap batin yang melampaui  perasaan. Ia tidak berhenti pada estetika liris, melainkan menyingkap suatu bentuk kesadaran eksistensial manusia yang hidup di antara ruang sunyi dan waktu yang abadi. Seperti gema yang memantul di balik pikiran, puisi ini mengundang pembacanya untuk berhenti sejenak, menyelam ke dalam “hening,” suatu keadaan yang bukan ketiadaan, melainkan keberadaan dalam bentuk paling murni.

Dalam konteks filsafat, gagasan ini menemukan resonansi yang mendalam dengan pemikiran René Descartes, filsuf rasionalis Prancis yang menegaskan “Cogito ergo sum,” aku berpikir maka aku ada. Descartes melihat eksistensi manusia dari kemampuan untuk berpikir. Pikiran adalah bukti tertinggi bahwa manusia ada, bahwa jiwa adalah substansi yang berdiri sendiri.

Puisi Leni Marlina, ketika dibaca dengan kacamata Descartes, menjadi semacam meditasi filosofis: ia menggambarkan manusia yang mencari eksistensi melalui kesadaran, cinta, dan doa. “Hening yang tak memiliki waktu” adalah ruang batin di mana cogito menemukan bentuk spiritualnya, yakni saat berpikir menjadi doa, dan kesadaran menjadi kasih.

“Kami datang bukan dari masa lalu…” — Lahir dari Kesadaran, Bukan Waktu

Puisi dibuka dengan larik:

“Kami datang bukan dari masa lalu,
melainkan dari hening yang tak memiliki waktu.”

Baris ini menandai pernyataan ontologis: subjek puitik tidak didefinisikan oleh sejarah, waktu, atau pengalaman empiris. Ia tidak “lahir dari rahim bumi”, tetapi “dari detak kasih yang menembus segala nama.” Dengan kata lain, asal-usul eksistensi manusia bukanlah materi, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: cinta, kesadaran, dan jiwa.

Di sinilah ide Descartes tentang substantia cogitans menemukan relevansinya. Dalam Discours de la méthode (1636), Descartes menulis bahwa bahkan jika tubuh tidak ada, pikiran tetap ada; pikiran tidak bergantung pada ruang dan waktu. Jiwa manusia adalah substansi yang berdiri sendiri dan menjadi dasar bagi keberadaannya

“Mengumpulkan serpih luka menjadi cahaya” — Kesedihan sebagai Jalan Kesadaran

Larik berikutnya berbunyi:

“Kami berkelana bersama angin,
mengumpulkan serpih luka,
dan menampungnya menjadi cahaya
agar dunia tahu:
bahkan kesedihan pun dapat berdoa.”

Puisi ini menghadirkan ide spiritual yang mendalam: Penderitaan menjadi sarana untuk menemukan makna terdalam kehidupan. Dalam pandangan Descartes, berpikir tidak hanya berarti bernalar logis. Berpikir berarti  merefleksikan keberadaan diri. Keraguan, kesedihan, dan penderitaan justru menandai momen paling otentik dari berpikir, karena dari sanalah manusia menyadari bahwa ia ada.

“Serpih luka” dalam puisi ini dapat dibaca sebagai simbol dari proses keraguan metodis Descartes yakni saat segala kepastian diruntuhkan agar kebenaran sejati ditemukan. Sementara “menampungnya menjadi cahaya” merupakan bentuk transendensi: kesadaran manusia menjelma terang setelah melewati penderitaan.

Leni Marlina mengajarkan bahwa bahkan kesedihan bisa berdoa. Artinya, berpikir tidak berhenti pada logika, tetapi meluas menjadi doa, menjadi bentuk kontemplasi eksistensial. Dalam kerangka Cartesian, ini adalah saat di mana cogito berpadu dengan amor: berpikir yang dilandasi kasih.

“Kami hanya bayangan yang belajar memantulkan terang” — Manusia dan Refleksi Diri

“Kami bukan utusan,
bukan pula penebus.
Kami hanya bayangan yang belajar memantulkan terang,
hati yang masih berdebu
namun masih percaya kepada langit.”

Larik ini mempertegas dimensi epistemologis dari puisi. Dalam sistem Descartes, pengetahuan sejati hanya datang dari ide yang clara et distincta—jelas dan nyata. Bayangan adalah metafora bagi pikiran manusia yang masih samar, belum mencapai kejernihan mutlak. Namun, upaya “belajar memantulkan terang” menandai gerak menuju kejelasan itu: usaha manusia memahami kebenaran di tengah keterbatasan.

“Hati yang masih berdebu” menunjukkan bahwa manusia belum sempurna; tetapi keyakinan “kepada langit” menandakan keberanian untuk terus berpikir, terus mencari kebenaran. Dalam bahasa Descartes, inilah dubito ergo cogito, cogito ergo sum, aku ragu maka aku berpikir, aku berpikir maka aku ada. Leni Marlina menempatkan manusia dalam proses pencarian spiritual yang paralel dengan proses berpikir rasional.

“Ketika manusia melupakan kemanusiaannya…” — Etika Eksistensial dan Cogito Spiritual

“Ketika manusia melupakan kemanusiaannya,
kami tetap menyebut nama satu sama lain dalam diam.”

Di sini, penyair membawa puisi pada dimensi etis. Ia tidak hanya berbicara tentang eksistensi, tetapi juga tanggung jawab antar-manusia. Dalam dunia yang melupakan kemanusiaan, suara lembut “kami” yang tetap menyebut nama satu sama lain menjadi simbol solidaritas eksistensial, suatu bentuk kasih yang bertahan di tengah kehancuran moral.

Bagi Descartes, pikiran adalah dasar semua kebenaran; tetapi bagi Leni Marlina, pikiran harus ditopang oleh kasih agar tidak kehilangan kemanusiaannya. Ia melengkapi cogito dengan dimensi spiritual yang lebih lembut: berpikir tidak hanya membuktikan eksistensi, tetapi juga menghidupkan cinta.

Ketika dunia menutup pintunya, “kami mengetuk dari dalam dada yang remuk” sebuah gambaran puitis tentang kesadaran manusia yang menolak menyerah. Ia berpikir, merenung, berdoa, dan pada akhirnya menemukan makna baru:

“Cinta tak pernah hilang, hanya berganti wujud.”

Ini adalah bentuk tertinggi dari ideae innatae menurut Descartes. ide tentang Tuhan dan kasih yang telah ada dalam diri manusia sejak awal. Bagi Descartes, ide tentang Tuhan adalah yang paling sempurna, karena tidak mungkin berasal dari manusia yang terbatas. Bagi Leni Marlina, cinta adalah manifestasi dari ide ilahi itu, abadi dan tak bisa dimusnahkan oleh waktu.

“Kami adalah kalian yang telah kehilangan segalanya kecuali kasih” — Manusia sebagai Substansi Kasih

Larik ini menandai klimaks emosional puisi. Subjek puitik menegaskan identitasnya: bukan makhluk asing, bukan roh misterius, melainkan “kalian yang telah kehilangan segalanya kecuali kasih.” Dalam pandangan Cartesian, hal ini dapat dimaknai sebagai afirmasi tentang substansi berpikir yang tidak bergantung pada materi. Bahkan ketika segalanya hilang (tubuh), waktu, Sejarah, pikiran (atau dalam bahasa puisi ini: kasih) tetap ada.

Descartes menulis bahwa jiwa tidak membutuhkan tempat apa pun dan tidak bergantung pada benda material. Puisi Leni Marlina seakan memvisualisasikan gagasan itu dalam bentuk liris: manusia dapat kehilangan dunia, tetapi tidak dapat kehilangan kasih. Kasih adalah bentuk tertinggi dari berpikir, karena ia menegaskan eksistensi jiwa yang sadar dan berelasi dengan yang lain.

“Kami adalah nyala kecil di tengah padang takdir yang luas” — Kesadaran di Tengah Determinasi

“Kami adalah nyala kecil
di tengah padang takdir yang luas—
mungkin redup,
tapi tak pernah padam.”

Gagasan ini beresonansi dengan keyakinan Descartes tentang otonomi rasio manusia di tengah keterbatasan dunia material. “Padang takdir” menggambarkan determinisme kehidupan, tetapi “nyala kecil” adalah simbol kebebasan berpikir. Sekalipun redup, ia tidak padam, karena berpikir berarti terus ada.

Leni Marlina seolah mengajarkan bahwa kesadaran manusia bukanlah kesempurnaan, melainkan keberanian untuk terus berpikir dalam ketidakpastian. Hening, dalam hal ini, bukan kebisuan, tetapi medan bagi api kecil kesadaran untuk tetap menyala. Descartes akan menyebutnya sebagai res cogitans yang tidak bisa dimusnahkan oleh keraguan, karena justru dari keraguanlah eksistensi itu tampak paling nyata.

“Dan bila suatu hari engkau membaca puisi ini…” — Dialog antara Jiwa dan Pikiran

Bagian penutup puisi menghadirkan undangan reflektif:

“Dan bila suatu hari engkau membaca puisi ini
di sela malam yang sepi,
dengarkan baik-baik:
di antara jeda kata,
di antara napasmu sendiri—
ada kami,
masih menyala
dalam sunyi dan izin Tuhan.”

Puisi mencapai puncak meditatifnya. “Di antara jeda kata” dan “napasmu sendiri” adalah metafora bagi kesadaran reflektif: saat manusia menyadari keberadaannya sendiri melalui diam. Ini sangat Cartesian. Mengapa? Karena berpikir tidak membutuhkan dunia luar; ia bisa berlangsung dalam kesendirian total.

Namun, penyair menambahkan dimensi teologis yang khas: kesadaran itu berlangsung “dalam izin Tuhan”. Di sini, cogito menemukan kesempurnaannya bukan dalam ego, tetapi dalam penyerahan. Descartes sendiri menulis bahwa kesempurnaan ide tentang Tuhan menjadi bukti bahwa Tuhan sungguh ada dan menjadi dasar semua kepastian. Leni Marlina menggemakan hal itu dalam nada religius yang lembut, kesadaran manusia berpuncak pada pengakuan akan kasih ilahi.

Penutup

Puisi “Hening yang Tak Memiliki Waktu” dapat dibaca sebagai refleksi eksistensial yang memadukan rasionalitas dan spiritualitas. Leni Marlina berbicara tentang manusia yang tidak didefinisikan oleh waktu, tubuh, atau sejarah, tetapi oleh kesadaran dan kasih. Dalam kerangka Descartes, ini adalah bentuk idealisme eksistensial yaitu bahwa berpikir (dan mencinta) adalah bukti tertinggi dari keberadaan.

Ketika Descartes berkata “Aku berpikir maka aku ada”, Leni Marlina seolah menambahkan:
“Aku mencinta maka aku tetap ada.”

Keduanya berpijak pada kesadaran, tetapi jika Descartes berhenti pada rasio, Leni melanjutkannya ke wilayah kasih. Ia membawa cogito keluar dari ruang dingin logika menuju hangatnya doa dan solidaritas. Dalam keheningan, manusia menemukan keberadaannya dan terlebih  juga menemukan Tuhannya.

Maka, “hening yang tak memiliki waktu” adalah ruang Ilahi, tempat jiwa berpikir, mencinta, dan terus menyala selamanya.

Biak-Papua, 7  November 2025
Paulus Laratmase

——————-

HENING YANG TAK MEMILIKI WAKTU

Puisi: Leni Marlina

Kami datang bukan dari masa lalu,
melainkan dari hening yang tak memiliki waktu.
Kami tidak lahir dari rahim bumi,
tapi dari detak kasih yang menembus segala nama.

Kami berkelana bersama angin,
mengumpulkan serpih luka,
dan menampungnya menjadi cahaya
agar dunia tahu:
bahkan kesedihan pun dapat berdoa.

Kami bukan utusan,
bukan pula penebus.
Kami hanya bayangan yang belajar memantulkan terang,
hati yang masih berdebu
namun masih percaya kepada langit.

Ketika manusia melupakan kemanusiaannya,
kami tetap menyebut nama satu sama lain dalam diam.
Ketika dunia menutup pintunya,
kami mengetuk dari dalam dada yang remuk,
dan berkata pelan:
“Cinta tak pernah hilang, hanya berganti wujud.”

Kami adalah kalian
yang telah kehilangan segalanya kecuali kasih.
Kami adalah suara
yang tak dapat dibungkam oleh waktu.
Kami adalah nyala kecil
di tengah padang takdir yang luas—
mungkin redup,
tapi tak pernah padam.

Dan bila suatu hari engkau membaca puisi ini
di sela malam yang sepi,
dengarkan baik-baik:
di antara jeda kata,
di antara napasmu sendiri—
ada kami,
masih menyala
dalam sunyi dan izin Tuhan.

Padang, Sumbar, NKRI, 2025