anto narasoma
–
ketakutan itu tiba
ketika badai tsunami datang dengan wajah beringas
parasnya yang tegang
melahap perjalanan ombak ketika badai yang dipenuhi kemarahan itu menerjang keangkuhan tanpa daya
ribuan jiwa yang lebur
ke dalam kematian
itu pun menghantam perasaanku dari utara hingga ke selatan tanah ini
o, tak terlihat diri-Mu
namun jejak-jejak kemarahan yang menelan wilayah, meredam keangkuhan
setelah air ludah-Mu sepenuh garam,
menghantam dan
membasahi puisiku
ke dalam sejarah
lalu,
suara orang-orang
yang menyimpan kematian dalam kubangan sejarah, mencatat peristiwa
yang menenggelamkan kata-kata di antara kalimat puisiku –sesaat sebelum musnah diterjang badai tsunami
Palembang
26 Desember 2004