Ketua Pengawas CU AHA Maluku: Mendidik Masyarakat, Menyemai Kemandirian Ekonomi
Oleh: joko
“Dari Gereja ke Kampung: Geri Lerebulan dan Gerakan CU AHA yang Menyentuh Hati Rakyat, Menabur Harapan, Menuai Kemandirian di Tanah Maluku”
Credit Union AHA Saumlaki, wajah solidaritas ekonomi Maluku, Gerakan kecil dari hati yang menolak pasrah pada kemiskinan
Geri Lerebulan: Dari Iman, Lahir Gerakan Ekonomi yang Mengubah Hidup Warga
http://suaraanaknegerinews.com | Minggu pagi, 5 Oktober 2025, udara Saumlaki terasa hangat ketika jemaat GBI Miracle of the Lord in Solafide (MILOS) mulai memenuhi gedung gereja di Jalan Ir. Soekarno, Tanimbar Selatan. Di tengah suasana khidmat ibadah yang dipimpin Pendeta Daniel Batmanlussy, tampak sosok berwibawa berdiri dengan tenang di antara barisan jemaat, Geri Lerebulan, pria 50 tahun, Ketua Pengawas CU AHA (Credit Union Ain Hov Ain Jih) Maluku, yang artinya “Kami satu dalam kasih, untuk sejahtera bersama.”
Setelah doa penutup, ia diminta berbicara oleh sang pendeta. Dengan suara lembut namun tegas, Geri memohon izin berbicara selama lima belas menit. Momen sederhana itu menjadi awal dari pesan mendalam tentang iman, kerja keras, dan solidaritas ekonomi umat.

“Budaya Menerima Adalah Budaya Miskin”
“Credit Union itu bukan sekadar tempat simpan pinjam,” ucap Geri membuka kesaksiannya. “Gerakan ini lahir dari semangat iman untuk menolong sesama.”
Ia mengisahkan sejarah panjang CU AHA, yang berawal tahun 1864 di Jerman, ketika seorang hamba Tuhan bersama walikota mengumpulkan para konglomerat untuk membantu rakyat miskin. Namun, kata Geri, mereka segera sadar bahwa memberi tanpa mendidik hanya menumbuhkan ketergantungan.
2“Budaya menerima tanpa berusaha adalah budaya miskin,” ujarnya tegas.
“Itulah sebabnya CU AHA hadir untuk mendidik, bukan sekadar memberi.”
Sejak masuk ke Indonesia pada tahun 1964, gerakan Credit Union berkembang pesat. Kini, asetnya telah mencapai triliunan rupiah, dengan pusat nasional di Gunung Sahari, Jakarta, dan cabang di berbagai daerah termasuk Ambon, Langgur, dan Saumlaki.
Mendidik, Mendampingi, dan Menyemai Harapan
Geri Lerebulan bukan hanya pengawas, tapi juga pendamping setia anggota di lapangan. “Kami tidak hanya melatih, tapi mendampingi,” katanya.
Ia bercerita tentang program beasiswa, tabungan pendidikan, simpanan kesehatan, hingga pinjaman usaha mikro yang disiapkan CU AHA untuk membantu anggota merancang masa depan lebih baik.
“Tiap kampung bisa bangkrut karena persaingan tidak sehat,” tuturnya.
“Maka anggota CU AHA wajib didampingi. Kami ajari menabung, mengelola keuangan, dan membangun usaha yang jujur.”
Bersama timnya, Max Tharob, manajer CU AHA Saumlaki, dan beberapa staf lapangan, Geri rutin berkeliling ke desa-desa, mengunjungi rumah anggota, memastikan pelayanan CU AHA hadir sampai pelosok.
“Kami datang ke rumah, bukan menunggu di kantor,” katanya.
“Sebab CU AHA adalah komunitas orang-orang yang saling percaya dan saling menghidupkan.”
CU AHA Saumlaki: Solidaritas yang Tumbuh dari Iman
Di Saumlaki, CU AHA telah berdiri selama lima tahun. Kini memiliki sekitar 2.000 anggota aktif dengan beragam produk tabungan dan pinjaman berbasis kebutuhan masyarakat lokal. Dari simpanan saham dan simpanan anak sekolah, hingga pinjaman nelayan, tani, ternak, dan darurat, semua dirancang untuk satu tujuan: kemandirian dan kesejahteraan bersama.
“Kami ingin agar masyarakat kecil punya akses keuangan yang aman dan bermartabat,” ujar Max Tharob, Kepala Kantor CU AHA Saumlaki.
“Bunga simpanan kami tertinggi hingga 7,5 persen per tahun, dan tabungan anggota selalu tumbuh setiap bulan.”
Selain layanan keuangan, CU AHA juga menyediakan dana sosial (Dansos) bagi anggota yang meninggal dunia, bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, dan membuka ruang investasi kecil bagi para petani dan pedagang lokal.
Menabung Adalah Ibadah Sosial
Bagi Geri Lerebulan, CU AHA bukan hanya tentang uang. Ia adalah wujud iman dalam tindakan. “Menabung adalah bentuk kasih pada diri sendiri dan sesama,” ujarnya.
Dalam setiap pelatihan, Geri selalu menekankan bahwa keanggotaan CU bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan panggilan moral untuk hidup tertib, hemat, dan peduli.
“Melalui CU AHA, kita belajar memberi sebelum meminta,” katanya.
“Itulah ajaran Yesus yang kami hidupi: lebih berbahagia memberi daripada menerima.”
Kata-katanya menggemakan ayat yang dikhotbahkan Pendeta Batmanlussy pagi itu, dari Kisah Para Rasul 20:35. Sebuah kebetulan yang terasa seperti konfirmasi iman, bahwa ekonomi dan spiritualitas bisa berjalan seiring, saling menguatkan.
Dari Gereja ke Lapangan: Iman yang Bekerja Nyata
Usai ibadah, Geri berbincang hangat dengan para jemaat. Beberapa di antaranya anggota CU AHA yang datang memberi salam dan ucapan terima kasih. “Berkat CU AHA, anak saya bisa lanjut kuliah,” kata seorang ibu muda dengan mata berkaca.
Bagi Geri, testimoni seperti itu adalah hadiah terbesar dari pelayanannya.
“Saya tidak mencari pujian,” ujarnya perlahan. “Saya hanya ingin masyarakat Maluku tidak lagi hidup dalam ketergantungan. Kami ingin mereka berdiri di atas kaki sendiri.”
Menutup dengan Pesan Harapan
Menjelang siang, jemaat berfoto bersama di halaman gereja. Geri Lerebulan berdiri di tengah mereka, bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai saudara.
Senyumnya sederhana, tapi pancaran matanya penuh keyakinan.
“Kalau kita mau keluar dari kemiskinan,” katanya, “kuncinya bukan bantuan, tapi perubahan pola pikir. Credit Union hanya sarana, yang utama adalah hati yang mau belajar, memberi, dan saling menopang.”
Refleksi: Iman yang Menjadi Aksi
Di tengah arus konsumerisme dan budaya instan, kisah Geri Lerebulan menjadi oase kesadaran. Ia mengajarkan bahwa ekonomi yang benar tidak hanya diukur dari angka, melainkan dari nilai dan solidaritas yang tumbuh di antara manusia.
Gerakan CU AHA di Maluku bukan sekadar urusan simpan pinjam, tapi tentang membangun karakter, tanggung jawab, dan cinta kasih sosial, nilai-nilai yang berakar pada iman.