Kisah Seorang Wali Perempuan di Tatar Sunda
Ilustrasi Lambang Pecinta Kesucian Jiwa
Oleh Deni Kusuma, S. SEJ
(Sejarawan Muslim, berdomisili di Pesantren Sirnarasa, Ciamis)
–
Seorang wali (kekasih Alloh) seringkali diidentikkan dengan kaum laki-laki, jarang sekali dengan perempuan kecuali dari sisi peranan sebagai ibu bagi anak-anaknya. Sedangkan kewalian seorang perempuan yang betul-betul dalam konteks wali seperti sejajar dengan laki-laki sangatlah jarang. Tetapi demikian itu pernah terjadi.

Ma Isoh, demikianlah sebutannya untuk seorang sosok wali perempuan yang sangat terkenal di tatar Sunda. Makamnya sangat terkenal sekali dan sangat disukai oleh para penziarah. Di pintu gerbangnya bertuliskan; Sirnarasa-Sirnaraga. Menunjukkan tentang kehebatan ke waliyahan Ma Isoh.
Beliau adalah murid dari Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad Ra yang menempuh riyadhoh sangat berat sekali yakni kurang lebih selama sepuluh tahun tidak berkomunikasi dengan orang lain dalam keadaan sedang berjualan. Tidak berkata sepatah kata pun. Kewaliyahan beliau asalnya tidak diakui oleh orang lain akan tetapi akhirnya seiring waktu orang dapat mengetahuinya.
Alkisah, seorang pimpinan kyai hebat sakti mandra guna di Ciamis, dikenal sebagai ahli hikmah yang sangat ampuh di wilayah ini, yakni Mama Haji Ibrohim. Beliau mendapatkan kabar tentang Pesantren Suryalaya dan Abah Anom dengan kehebatannya. Dan di sana juga ada wali perempuan.
Kalau sama wali laki-laki ia percaya seperti halnya kepada Abah Anom, akan tetapi kalau ke wali perempuan tidak percaya. Maka ketika itulah, sosok Ma Isoh hadir ke dalam mimpi beliau dengan wajah yang sangat indah dan berhamburan cahaya keluar dari sudut ruangan yang gelap.

Sejak saat itulah Mama Haji percaya bahwa waliyulloh, ada laki-laki dan perempuan. Makanya dalam tawasul ada kalimat “waliyyin wa waliyyatin”. Dan Mama Haji Ibrohim pun akhirnya menjadi sparing partner (kepercayaan Abah Anom) untuk membantu masyarakat dalam menyelesaikan keluhan masyarakat di sekitarnya seperti soal jodoh; keharmonisan dan anak-anak agar jadi anak-anak yang sholeh.
Hikmahnya, seseorang mungkin pernah ragu sama seorang wali, tetapi keraguan itu juga dapat menuntunnya menuju suatu keyakinan jika Alloh menghendakinya. Ini mengajarkan kita untuk tidak berprasangka buruk kepada orang lain. Bahkan Mama Haji Ibrohim pun akhirnya menjadi orang kepercayaan Abah Anom.
Sumber: Sumber lisan