“KITA DAN BATU”: Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)
Ilustrasi "KITA DAN BATU": Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-360 (Assisted by AI).
Oleh Leni Marlina
–
/1/
KITA DAN BATU
Kita adalah batu!
Dipungut tangan kecil, ditembakkan ke tirani besi!
Kita adalah batu!
Menghantam helm baja, menciptakan dentang perlawanan!
Kita batu!
Tangan-tangan besar melontarkan kita kepada mereka yang semena-mena.
Kita batu!
Menjadi nisan bagi keadilan yang mati!
Tapi ingatlah:
kita batu,
kita saksi,
kita senjata.
Kita adalah suara yang akan menghantam mereka, lebih keras dari baja,
sampai mereka peduli dengan sesama,
sampai mereka tak lagi menjajah tanah kelahiran kita.
Padang
Sumatera Barat, 2016
/2/
KOTA YANG TIDAK BISA DIKUBUR
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kota ini tumbang,
seperti tubuh yang dipeluk bumi terlalu erat.
Temboknya jadi pasir,
mengalir dalam angin yang berbisik tentang kehilangan.
Tapi lihatlah,
anak-anak menggambar kota baru di tanah luka.
Mereka membangun dengan arsitektur harapan,
meninggikan menara doa yang tak dapat dipadamkan.
Mereka datang lagi.
Kota ini runtuh lagi.
Anak-anak menggambar lagi.
Karena kota yang sejati tak pernah terbuat dari batu,
melainkan dari ingatan yang tak bisa dihancurkan.
Padang
Sumatera Barat, 2016
/3/
KETIKA LANGIT MEMBISU
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Jam-jam membatu.
Detiknya beku.
Tak ada dentang.
Tak ada waktu.
Lembar kalender menolak robek,
karena tanggal-tanggal telah kehilangan makna.
Matahari lupa caranya terbit,
malam ragu kapan harus berakhir.
Langit membisu.
Ia menunggu namamu disebut kembali.
Tanpa itu,
waktu hanya mayat yang membusuk dalam sejarah.
Padang
Sumatera Barat, 2015
/4/
JALAN YANG TIDAK BISA KEMBALI
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau melangkah.
Langkah pertama mengantarmu ke rumah.
Langkah kedua menghapus rumahmu.
Engkau melangkah.
Langkah ketiga menemukan keluargamu.
Langkah keempat menjadikannya abu dalam berita kosong.
Engkau melangkah.
Langkah kelima menuju tempat aman.
Langkah keenam menyadarkanmu: “aman” hanyalah ilusi.
Jalan ini bukan jalan.
Ia lingkaran.
Ia mengantarmu kembali ke kehampaan yang sama.
Ke absurditas yang sama.
Ke kehilangan yang sama.
Padang
Sumatera Barat, 2015
/5/
KETIKA KAMI DIAM
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami diam.
Sebab diam lebih aman.
Kami berbisik.
Karena bisikan tak bisa ditembak.
Kami berbicara.
Karena kata-kata lebih tajam dari belati.
Kami berteriak.
Karena hanya suara yang bisa merobohkan dinding ketakutan.
Lalu kami menjadi badai.
Angin, hujan, denting sendok di piring kosong,
lapar, nyeri, kepalan tangan.
Engkau ingin kami diam.
Tapi udara sudah menyimpan suara kami.
Dan udara tak bisa dibungkam.
Padang
Sumatera Barat, 2016
/6/
SEJARAH TELAH MENCATATNYA
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Mereka membakar buku.
Tapi kata-kata telah menyusup ke udara.
Mereka membakar rumah.
Tapi kenangan telah berpindah ke dada pengungsi.
Mereka membakar kota.
Tapi sejarah telah menulisnya dengan tinta yang tak bisa dihapus.
Mereka pikir api bisa menghapus segalanya.
Tapi api hanya tahu cara membakar,
bukan cara melupakan.
Dan pada akhirnya,
mereka terbakar dalam api yang mereka ciptakan sendiri.
Padang
Sumatera Barat, 2016
/7/
NAMA YANG TIDAK BISA DIHILANGKAN
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Mereka mencoba menghapus namamu.
Mereka coret ia dari batu nisan.
Mereka kubur ia dalam kebohongan.
Tapi namamu tetap ada.
Ia ditulis oleh angin di pasir.
Ia diukir oleh hujan di jendela yang retak.
Ia dilantunkan dalam doa ibu yang tak pernah putus.
Mereka pikir nama bisa dihapus.
Tapi bagaimana cara membunuh sesuatu yang telah menjadi udara?
Bagaimana cara menghapus gema dari dunia?
Engkau bisa mengambil segalanya dari kami.
Tapi engkau tak bisa mengambil nama kami.
Padang
Sumatera Barat, 2016
/8/
JIKA KEADILAN ADALAH BATU
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Mereka pikir kami hanya batu kecil.
Mudah diinjak, mudah diabaikan.
Tapi batu-batu berkumpul.
Batu-batu membentuk bukit.
Bukit menjadi gunung.
Gunung bergerak.
Satu batu bisa dihancurkan.
Tapi gunung tidak bisa diruntuhkan.
Satu suara bisa dibungkam.
Tapi gema tidak bisa dihentikan.
Jika keadilan adalah batu,
maka kami adalah gunung
yang akan mengubur ketidakadilan.
Padang
Sumatera Barat, 2016
/9/
ENGKAU MASIH DI SINI
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau masih di sini.
Dalam bayangan, dalam desir angin,
dalam doa-doa yang tak berhenti mengulang namamu.
Mereka meruntuhkanmu.
Tapi engkau masih berdiri.
Mereka membakar namamu.
Tapi engkau masih disebut dalam doa-doa.
Engkau masih di sini.
Bukan karena mereka mengizinkan,
tetapi karena keadilan menolak mati.
Padang
Sumatera Barat, 2021
/10/
BATU TERAKHIR
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami dilemparkan ke dalam sunyi,
tapi sunyi itu menghafal nama kami.
Kami dihanyutkan ke sungai gelap,
tapi air menolak menghapus jejak kami.
Kami jatuh di tanah yang berguncang,
menjadi luka di wajah peradaban.
Namun waktu enggan melupakan kami,
sebab sejarah masih merawat setiap retakan.
Dulu kami diangkat oleh tangan kecil,
dilemparkan melawan dinding kekuasaan.
Kini kami berdiri di puncak bukit,
menjadi batu terakhir yang tak bisa dijatuhkan.
Kami bukan sekadar batu,
kami adalah nisan bagi kebisuan,
tanda bagi yang tak bisa dihancurkan.
Kami tak mencari perang,
tapi jika keadilan dipukul mundur,
kami akan tetap di barisan terdepan—
menggema lebih nyaring dari palu,
lebih tajam dari malam,
lebih ngeri dari ketakutan.
Di bawah langit yang menyimpan duka,
di bumi yang menolak kehilangan,
kami tetap ada,
lebih kokoh dari sejarah yang ingin mereka padamkan.
Padang, Sumatera Barat, 2016
/11/
PADA TITIK TERAKHIR
Puisi oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di ujung peradaban,
ketika kata-kata bukan lagi sekadar suara,
melainkan jejak yang menolak sirna,
di sanalah puisi membangun tubuhnya:
batu, darah, angin,
dan bara yang tak bisa dipadamkan.
Engkau bisa membakar kertas,
tapi tidak tinta yang telah menjadi sungai.
Engkau bisa membungkam suara,
tapi tidak gema yang melintasi batas.
Engkau bisa meruntuhkan rumah,
tapi tidak ingatan yang menghuninya.
Sebab puisi bukan sekadar baris dan bait,
bukan sekadar goresan pada lembar sunyi.
Ia adalah arus yang menenggelamkan dusta,
adalah pisau yang mengiris ketidakadilan,
adalah tangan yang menggenggam masa depan
dan menuliskannya dengan api.
Maka,
ketika dunia kembali menjadi abu,
ketika sejarah mengulang luka yang sama,
akan ada satu hal yang tetap bertahan:
puisi yang dituliskan dengan keberanian,
dan suara yang tak pernah rela dikuburkan.
Padang, Sumatera Barat, 2016
——————————————-
Kumpulan puisi di atas (no. 1-11) awalnya ditulis oleh Leni Marlina tahun 2016. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.
Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
Baca juga:we-and-the-stone…ra-fsm-acc-shila/