Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

KUMPULAN PUISI LENI MARLINA: HUJAN AIR MATA DAN BANJIR LUKA

/1/

HUJAN AIR MATA DAN BANJIR LUKA

Puisi: Leni Marlina

Langit membuka lipatan dirinya,
menggugurkan makhluk-makhluk basah
yang berlari mencari nama.
Awan mengelupas
seperti kulit ingatan
yang ditolak tubuhnya sendiri.

Air matamu jatuh
bukan sebagai cairan,
melainkan sebagai huruf liar
yang menubruk pipi
dan membentuk bahasa
yang tidak dikenal bumi.
Tanah meneguknya pelan,
seakan membaca manuskrip asin
yang tak kunjung habis di tulis.

Kota mengintip langkahmu:
lampu-lampu tersedak cahaya,
jendela bergetar
seolah ingin ikut berpindah tubuh.
Angin berhenti setengah tarikan,
takut tersesat
dalam orbit baru
yang tumbuh di sekelilingmu.

Luka di tubuh waktu
mengganti wujudnya:
kadang menjadi bayang yang basah,
kadang menjadi bunyi seram
di balik tulang malam.
Namun dari celah itu,
sebuah inti panas merayap keluar—
bukan matahari,
melainkan benih api
yang mencari bentuknya sendiri.

Dan engkau berdiri di tengah aliran,
membiarkan seluruh yang bergerak
membaca ulang tubuhmu.
Hujan berhenti berbicara,
banjir merapat ke batasnya,
dan yang tersisa hanya dirimu
yang berubah tanpa perlu diumumkan
kepada siapa pun.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/2/

HUJAN TURUN DARI SELURUH KENANGAN

Puisi: Leni Marlina

Kau berdiri di ambang senja,
dan langit merekah perlahan
seperti luka tua yang enggan sembuh.
Awan yang tadi jinak
menjelma kawanan domba gelap
yang gemetar oleh sorot matamu—
sorot yang menyimpan badai
yang tak pernah kau beri nama.

Hujan jatuh.
Bukan dari langit—
melainkan dari seluruh kenangan
yang kau pikul di punggungmu,
seperti karung basah
yang diseret waktu tanpa ampun.

Kau tidak menetes.
Kau pecah.
Dan bumi meminummu begitu saja
tanpa bertanya
mengapa rasa asinmu
lebih pahit dari gelap.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/3/

BADAI KECIL YANG MENANGIS

Puisi: Leni Marlina

Langkahmu seperti angin
yang kehilangan arah.
Tulang-tulangmu seperti seruling tua
meniupkan nada sendu
yang bahkan malam
enggan mendengarnya.

Kau bilang kau baik-baik saja,
namun bahumu bergerak
seperti daun kering
yang tak tahu ke mana
ribut harus pulang.

Kadang kau berdiri tegak,
seakan ingin menantang petir.
Namun aku tahu—
di balik keberanian itu
ada badai kecil
yang menangis diam-diam
di dalam dirimu.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/4/

HUJAN BERKELANA DI PIPIMU

Puisi: Leni Marlina

Ada peta yang hanya bisa dibaca oleh air.
Dan wajahmu adalah atlas sunyi
yang diwariskan sebuah musim hujan.

Tetesan hujan menulis garis-garis rahasia:
tentang janji yang dibusukkan waktu,
tentang mimpi yang terperangkap
dalam lumpur kecewa,
tentang pintu-pintu yang menolak
dibuka lagi.

Kulihat hujan
berkelana di pipimu
seperti penulis gelisah
yang tak tahu huruf mana
paling tepat untuk kehilanganmu.

Kau diam—
membiarkan langit
menyalin ulang segala rahasia
yang kau simpan rapat.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/5/

KAU DAN KOTA DI BALIK KABUT YANG MENUA

Puisi: Leni Marlina

Kau berjalan,
dan kota berubah
menjadi cermin pudar.
Lampu-lampu bergetar
meniru napasmu—
menguning, menyala, padam—
seolah meminjamkan denyut terakhir
untuk kau satukan kembali
di dada yang letih.

Aspal basah merekam langkahmu
seperti halaman catatan
yang tak bisa berbohong:
ada ragu yang menyeret,
ada pasrah yang gemetar,
ada harap kecil yang tetap menyala
di balik kabut yang menua.

Kau tak sadar—
gedung-gedung tinggi menunduk
setiap kau lewat,
iri pada caramu
menjadi kuat dan bertahan
saat yang lain hampir menyerah.

Melbourne, 2013 & Padang, 2025

/6/

 

Illustrasi 2 Kumpulan Puisi Leni Marlina “Hujan Air Mata dan Banjir Luka”. Sumber gambar: © Starcom Indonesia, Book Cover Collection No. 23_28112025 & IG@lenimarlina_starmoonsun.

MENUMBUHKAN MATAHARI MUNGIL

Puisi: Leni Marlina

Kulihat kau sujud,
dan malam merapat pelan,
menempel di tubuhmu
seperti anak gelap
yang mencari perlindungan.

Doamu tak bersuara—
hanya getar lembut
yang membuat surga
menahan langkahnya.

Tanpa kau tahu,
setiap bisik itu
menumbuhkan matahari mungil
di ruang paling terluka
dalam hatimu.
Ia belum bangun,
masih menggigil,
masih mencari alasan
untuk bersinar.

Namun ketika ia membuka matanya,
dunia yang pernah menenggelamkanmu
akan kembali bernapas.
Dan kau—
yang pernah menjadi hujan air mata
dan banjir luka—
akan menjadi cahaya
bagi dirimu sendiri.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/8/

DUDUK DI PINGGIR MALAM

Puisi: Leni Marlina

Kau duduk di pinggir malam
seperti seseorang yang belajar mendengar
detak jantungnya sendiri.

Angin lewat pelan—
membawa aroma jarak
yang tak pernah kau jelaskan
pada siapa pun.

Lampu-lampu kota berkedip,
seakan ragu apakah harus bersinar
atau ikut meredup
bersama gelisahmu.

Kau tak bergerak,
namun waktu terasa berjalan
mengitari tubuhmu—
seperti orbit kecil
yang mengakui kau adalah pusat
seluruh yang yang ingin diperjuangkan.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/9/

HARI YANG MENYAMBUTMU

Puisi: Leni Marlina

Pagi menontonmu bangun,
seperti seorang ibu
yang takut membangunkan
anak yang baru saja berhenti menangis.

Cahaya yang menyelinap
melalui tirai kamar
menyentuh wajahmu perlahan—
seakan ingin menghapus
tinggalan mimpi buruk
yang belum sempat kau tutup rapat.

Kau membuka mata,
dan hari menunduk
menyambutmu.
Ia tahu,
untuk sampai ke detik ini—
kau telah melewati
malam yang mengintipmu berurai air mata sepanjang banjir lukamu.

Melbourne, 2013 &
Padang, 2025

/10/

DEDAUNAN YANG GUGUR DALAM HATIMU

Puisi: Leni Marlina

Ada musim yang tak meminta izin
untuk tinggal.
Ia datang begitu saja
ke dalam dirimu,
mengubah hangat menjadi asing,
mengubah teduh menjadi gaduh.

Kau mencoba mengatur napas,
namun dedaunan gugur
di dalam hatimu
terlalu riuh
untuk kau diami sendirian.

Kadang kau bertanya:
mengapa dirimu adalah rumah
bagi musim yang tidak pulang-pulang?

Dan angin menjawab—
tidak dengan suara,
melainkan dengan dingin
yang tiba-tiba merayap
ke ujung jari-jarimu.
Kau masih bertahan,
meskipun dedaunan harapan berguguran di hatimu.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/11/

MATAHARI KECIL MILIKMU

Puisi: Leni Marlina

Ada matahari kecil
di bawah lidahmu,
dan setiap kata
yang tak sempat kau ucapkan
adalah sinarnya
yang tertahan.

Kau menutup mulut,
dan dunia tetap gelap.
Namun aku tahu—
kau memeluk terang itu
lebih erat daripada siapa pun
yang pernah memohon padamu
untuk bersinar.

Kadang kau ingin bersuara,
namun cahaya itu gemetar,
takut pecah
menjadi debu hangus.

Simpanlah,
sampai kau siap.
Matahari itu milikmu.
Dan dunia bisa menunggu.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025

/12/

HANYA BERUBAH BENTUK

Puisi: Leni Marlina

Kesedihanmu
bukan hilang—
hanya berubah bentuk.

Kadang ia menjadi kabut
yang duduk di bahumu.
Kadang menjadi riak kecil
di sudut matamu.
Kadang menjadi diam panjang
yang enggan kaujelaskan.

Namun yang paling sering,
kesedihanmu menjadi jalan setapak
yang kau lewati
tanpa merasa takut lagi.

Kau pikir kau kalah,
padahal kau hanya tumbuh.
Kau pikir kau retak,
padahal kau sedang mencari
bentuk baru
untuk menjadi utuh.

Melbourne, Australia 2013 &
Padang, Sumatera Barat, 2025
———

 

Penyair: Leni Marlina. Sumber gambar: Panitia PILF (Panorama International Literary Festival) 2026 & Capital Writers International Foundation.

Tentang Penulis: Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, PIPF)

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).

Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.

Karya-karya terbarunya meliputi “The Beloved Teachers” (2025), “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi “English Stories for Literacy” (2024-2025)—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.

Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan merenung secara berkelanjutan.

Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.

Tahun 2025, Leni ditunjuk dan dipercayakqn sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng Internatioanl Literary Association (ACC SHILA), sekaligus the ASEAN Directors for ACC SHILA Poets. Di tahun yang sama, Leni ditunjuk dan dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) Januari-Februari 2026 di India. (Informasi acara selengkapnya: www.panoramafestival.org).