May 10, 2026
lina4

Ilustrasi kumpulan puisi Leni Marlina: “Menjaga Hidup” Sumber gambar: Starcom Indonesia's cover No. 42.19012026–LM

/1/

Ketika Membaca Diri Sendiri

Puisi: Leni Marlina

Aku datang tanpa alat.
Tanpa peta.
Tanpa hasrat menang.

Napas saja
terlambat
menemukan tubuhnya.

Halaman ini
bukan catatan,
melainkan tekanan
hari-hari
pernah duduk
di dada.

Kata-kata tak dirias.
Mereka berdiri
seperti tulang tanpa bungkus:
lurus
tak pandai berdusta.

Bila matamu berhenti
di satu baris,
itu bukan makna
menutup jalan,
melainkan panggilan
tanpa nama.

Puisi ini tak memaksa.
Ia menunggu
seperti kursi kosong
di ruang
tempat kau akhirnya
duduk
tanpa peran.

Melbourne, Australia. 2012

/2/

Menjaga Hidup

Puisi: Leni Marlina

Zaman ini
sore
seolah enggan menuju malam.

Cahaya menggantung
tak jatuh,
tak pergi.

Kebenaran
mengerut di lantai.
Kulitnya lelah
oleh terang.
Wajah disimpan
agar paru-paru
tak menyerah.

Dunia bicara serentak.
Bunyi saling menghantam.
Janji berderak
di sendi waktu.
Kejujuran berdetak sendiri
alat medis
di dada nyaris padam.

Udara berasa besi.
Bahasa berdarah.
Harapan berpindah tangan
seperti benda rapuh
tanpa alamat.

Namun di sela napas,
tanah basah
tak absen
aroma asal,
tanda hidup
belum angkat kaki.

Iman kurasa
di jiwa.
Tak menyala.
Namun cukup
menahan gelap hidup
agar tak runtuh sekaligus.

Manis kutolak.
Getir kupeluk
ia memaksa mata
tetap terbuka.

Tak berteriak.
Tak menyumpah.
Hidup kusimpan
di rongga
tak tersentuh pasar.

Jika langkah mengecil,
biarlah.
Jika sepi menetap,
biarlah.

Aku ingin tiba
tanpa koyak batin,
iman masih bernapas,
manusia
tak tercabut
dari tubuh sendiri.

Bila cahaya tinggal serpih,
akan kujaga
dengan seluruh indera
agar hidup
tak menyusut
menjadi sekadar
bertahan.

Melbourne, Australia. 2012

/3/

Di Antara Riuh

Puisi: Leni Marlina

Aku tinggal
di sela bunyi
saling menggusur arti.

Kata-kata berlari.
Kejujuran
terengah
di belakang paru-paru.

Kebenaran menunggu
di lantai dingin.
Kepala tertunduk
bukan takut,
melainkan lupa
berapa lama
waktu bisa kejam.

Dunia bicara
tanpa napas.
Janji berdecit
di pintu rapuh sejarah.
Nurani berdetak
seperti jam rusak
di dada aus.

Kupilih diam
sebagai bentuk
agar batin
tak larut
menjadi gema.

Di tengah riuh,
aku menjaga diriku.
Tak takut kehilangan dunia.
Aku tunduk
pada Satu
tanpa suara,
namun menghidupkan.

Melbourne, Australia. 2012

/4/

Iman dalam Nyala Kecil

Puisi: Leni Marlina

Iman
tak datang
sebagai matahari.

Ia hadir
seperti api sisa
di halaman berangin.

Tak silau.
Tak menjanjikan pagi.
Namun cukup
menahan runtuh
dalam satu malam.

Doa berjalan pincang.
Sebagian jatuh
sebelum langit
menoleh.

Namun iman tinggal
lampu
di rumah jauh:
tak dipamerkan,
tak disembah,
terus menyala
demi satu langkah lagi.

Kesabaran
menjadi penjaga.
Dari nyala sekecil ini
aku belajar
bernapas
tanpa kepastian.

Melbourne, Australia. 2012

/5/

Tentang Cara Sampai

Puisi: Leni Marlina

Dunia menyebut tiba
sebagai lomba.

Siapa tercepat.
Siapa paling terdengar.
Siapa menancap nama.

Aku memilih lintasan lain:
melangkah
tanpa menyikut,
menjaga
tanpa merebut.

Jika tiba tanpa tepuk,
biarlah.
Jika sampai tanpa saksi,
biarlah.

Aku ingin sampai
tanpa kehilangan diri
iman masih hangat,
kemanusiaan
tak tercecer
di pinggir jalan.

Melbourne, Australia. 2012

/6/

Setelah Semuanya Dilalui

Puisi: Leni Marlina

Kata ditutup.
Tak ada akhir.

Hidup bergerak
pelan,
keras,
kadang timpang.

Bila tertinggal
di dadamu
sejumput sunyi,
serpih sadar,
atau nyala kecil
menolak padam

cukup.

Kita tak diminta
selalu utuh.
Hanya
tak menyerahkan
apa masih bernapas
di dalam diri.

Halaman ini kututup
seperti malam:
tanpa sorak,
tanpa peta,
dengan keyakinan hening
selama rasa dijaga,
kemanusiaan
belum pergi.

Melbourne, Australia. 2012

Portrait of the Indonesian poet, Leni Marlina.
Image courtesy of the IPLF (International Panorama Literacy Festival) 2026 Organizing Committee, in collaboration with the Capital Writers International Foundation (www.panoramafestival.org).

Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina lahir di Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan sejak tahun 2000 berdomisili di Padang, Sumbar. Leni merupakab penyair, penulis, dan dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya antara lain kumpulan puisi tunggal “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025).

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan resensi, serta menerjemahkan berbagai teks sastra dan jurnalistik untuk platform digital nasional dan internasional. Karya-karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.

Di samping aktivitas akademik, Leni terlibat aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), yang berfokus pada isu-isu pendidikan, literasi, sastra, kebudayaan, serta nilai-nilai kemanusiaan. Kedua media tersebut digerakkan oleh komitmen yang sama, yakni “menyuarakan mereka yang tak bersuara”.

Kontribusi Leni dalam dunia sastra telah mengantarkannya menerima penghargaan Penulis Terbaik 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada ajang The 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta diberikan penghormatan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).

Sejak tahun 2025, Leni dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus diamanahkan sebagai Direktur ASEAN untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026.

Kumpulan puisi Leni Marlina “Menjaga Hidup” di ats tersedia dalam versi bahasa Inggris di link resmi berikut:

Poetry Collection by Leni Marlina: “Guarding Life”

✍️🙏Follow the Negerinews.com – Jembatan Suara Rakyat channel on WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbByuRc05MUoix7QrX1A

—–
✍️🙏Please also join the official What’s App group of Readers & Writers of Negerinews.com by clicking the link below:
https://chat.whatsapp.com/ISkvaqSbIfh8zdbP58RM2T