May 10, 2026
y1

Oleh Yusuf Achmad

Suatu hari, anakku menghadiahi kurma. Katanya, kurma adalah sahabat setia dalam berpuasa. Meskipun bukan musimnya, kurma tetap berpuasa. Dalam kitab suci, kurma adalah jembatan yang mempersatukan Isa dan Muhammad, dua utusan surga.

Kurma, simbol keteguhan hati. Di tanah yang kering dan gersang, ia tetap tumbuh dengan anggun. Menjadi perekat di padang gurun, di antara doa-doa tulus. Manis di tengah retaknya keimanan, pemersatu di antara kesalahpahaman.

Kau, penawar bagi hati yang mencari Tuhan. Di kampungku, kau dipanggil Islam. Di tetangga seberang, kau adalah naungan Almasih. Dalam manismu, ada serpihan kepahitan. Dalam kelembutanmu, tersimpan kekuatan. Kurma, ketahanan abadi, pengingat kemuliaan yang tak pernah sirna.

Buka puasa denganmu, selalu dalam bilangan ganjil. Satu, tiga, lima, atau tujuh. Seperti kurma yang disantap, tak pernah genap. Ganjilmu adalah kesucian, pembeda antara kebiasaan dan keyakinan.

Kurma, dalam keanehanmu ada kekuatan. Puasa dan kurma, keduanya ganjil namun mempersatukan. Teguh di tanah gurun yang keras, namun hati yang lembut, bagi para pecinta kurma yang abadi.

Dalam setiap gigitan kurma, ada sentuhan surga yang mengingatkan kita pada penciptaan sempurna. Kau, kurma, adalah saksi bisu perjalanan spiritual yang penuh makna. Penyatu hati yang terpisah oleh keyakinan, pengingat akan keteguhan hati di tengah ujian hidup.