May 10, 2026

“Langit Yang Mengadukan Luka”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni bintang

Ilustrasi "Langit Yang Mengadukan Luka": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonsia's Artworks No. 925-88 (Assisted by AI)

/1/

Langit Yang Mengadukan Luka

Puisi Leni Marlina

Aku adalah langit,
tak berakar, tak berpijak,
hanya selembar kanvas terbakar
di mana peluru menggambar garis waktu
dengan tinta api.

Dulu, aku menyimpan bintang,
menjadi rumah bagi bulan yang sabar.
Kini, aku mengarsipkan jejak rudal,
nama-nama yang tak pernah sempat dicatat sejarah,
suara ibu yang kehilangan anaknya
dalam gema yang tak pernah selesai.

Mereka pikir aku kosong,
tapi aku menghafal semua:
setiap bangunan yang runtuh,
setiap anak yang menatapku
dengan mata yang lebih tua dari umurnya.

Aku tidak bisa menangis.
Aku hanya bisa menjadi saksi,
menyimpan semua luka, dan mengadukannya,
hanya kepada:
Tuhan, Sang Maha Pencipta,
Tuhan Yang Maha Melihat,
Tuhan Yang Maha Mendengar,
Tuhan Yang Maha Mengetahui,
segala sesuatu di alam semesta ciptaan-Nya.

Padang, Sumbar, 2022

/2/

Pasir yang Menolak Diam

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku pernah menjadi tanah,
tapi mereka mengubahku menjadi debu.
Aku pernah menjadi pijakan,
tapi kini aku beterbangan,
tertiup angin, terseret waktu.

Mereka pikir aku diam,
tapi dengarlah:
aku menolak menjadi sunyi.
Aku menggeliat di antara jari-jari bocah,
melekat di telapak kaki pejuang,
menyusup ke dalam doa ibu
yang mengusap anaknya yang tak kembali.

Aku pernah menjadi bangunan,
tapi kini aku hanya remah pasir.
Dan di antara reruntuhan,
aku melihat benih zaitun ditanam,
dan aku tahu,
aku masih hidup,
diantara wajah-wajah yang sudah kekeringan air mata.

Padang, Sumbar, 2022

/3/

Koper Lusuh

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku berdiri di sudut ruangan,
resletingku selalu terbuka.
Di dalamku, pakaian yang tak sempat dipakai,
mainan yang masih bau tangan kecil,
surat-surat yang hanya sempat ditulis separuh.

Setiap malam,
tangan gemetar menyentuhku,
lalu melepasku lagi.
Pergi atau tinggal?
Lari atau bertahan?
Aku menunggu jawabannya
dalam setiap napas yang tertahan.

Mereka bilang aku beban,
tapi aku hanya cangkang
untuk ingatan yang tak ingin hilang.
Aku bukan sekadar koper lusuh,
aku adalah rumah yang mereka coba bawa,
ke mana pun mereka terpaksa pergi.

Padang, Sumbar, 2022

/4/

Mata yang Tertinggal di Jendela

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku pernah melihat dunia,
melalui tawa yang bergema di ruang tamu,
melalui tangan kecil yang menempel di kacaku,
membentuk jejak yang perlahan menghilang.

Kini aku hanya bingkai kosong,
tanpa kaca, tanpa gorden,
terbuka bagi angin dan debu.
Aku melihat kehampaan,
tapi aku juga melihat kaki-kaki kecil
yang berlari kembali,
mencari sesuatu yang dulu ada.

Aku ingin berteriak,
mengembalikan bayangan mereka yang hilang.
Tapi aku hanya jendela,
tak punya suara,
tak punya tangan untuk merangkul mereka pulang.

Padang, Sumbar, 2022

/5/

Roti Pita Dalam Warna Sejarah

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku roti pita,
aku lahir dari tangan yang lelah,
dicetak di atas tanah yang tak tenang,
diuleni oleh ibu-ibu yang kehilangan,
dibakar dalam api yang bukan milik mereka.

Di setiap lipatanku,
ada kisah yang tak sempat selesai.
Di setiap gigitan,
ada rasa yang lebih tua dari perang itu sendiri.

Mereka bisa membakar rumah,
tapi mereka tak bisa membakar ingatan.
Selama ada tangan yang mencampur tepung dengan air mata,
selama ada lidah yang mengecap rasa ini,
Gaza – Palestina akan tetap hidup.

Kami menelan sejarah,
kami menelan penderitaan,
tapi kami juga menelan harapan
yang tak akan pernah habis.

Padang, Sumbar, 2022

/6/

Tulang yang Berbicara dalam Sunyi

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kami tak punya lidah,
tapi kami berbicara.
Kami tak punya mata,
tapi kami melihat.
Kami tak punya tangan,
tapi kami menggenggam Gaza-Palestina dalam ingatan.

Di bawah tanah ini,
kami mengajari akar zaitun
bagaimana menyerap kesedihan
tanpa kehilangan rasa manisnya.

Kami tak menuntut keadilan.
Keadilan tidak punya telinga untuk mendengar kami.
Kami hanya ingin dikenang
bukan sebagai angka dalam laporan perang,
tapi sebagai nadi yang masih bergetar
di dalam tubuh mereka yang belum gugur.

Padang, Sumbar, 2022

/7/

Debu Yang Menolak Terbang

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Angin, jangan bawa aku pergi.
Biarkan aku tinggal di sini,
di sela jari anak-anak yang kehilangan rumah,
di tepi bibir ibu yang berbisik doa sebelum tidur.

Aku adalah debu yang keras kepala.
Aku menolak terbang ke laut,
menolak menjadi hantu di negeri asing.
Aku ingin melekat di tembok yang masih berdiri,
menjadi goresan luka yang tak bisa dihapus.

Mereka bisa mengubur bangunan,
tapi mereka tidak bisa mengubur aku.
Aku adalah debu abu dari sesuatu yang pernah hidup,
dan aku merasa terlahir kembali,
setiap kali melihat linangan air mata anak-anak Palestina,
setiap kali melihat jalan-jalan yang tergenang luka,
aku tak ingin meninggalkan bocah-bocah itu,
dengan monster yang berwajah manusia.

Padang, Sumbar, 2022

/8/

Jejak Langkah yang Tak Bisa Dihapus

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Mereka mengira kami akan hilang.
Bahwa air mata akan menghapus jejak kami,
bahwa hujan akan mencuci ingatan kami,
bahwa debu akan menelan langkah-langkah kami.

Tapi lihatlah:
kami tetap di sini.
Di antara retakan jalan,
di lorong-lorong sempit yang menolak sunyi,
di bawah pohon yang masih berani berbuah
meski tanah di bawahnya telah dicampur darah.

Kami berjalan tanpa bayangan,
karena matahari pun tahu,
bahwa kami tidak akan pergi.

Padang, Sumbar, 2022

/9/

Surat yang Ditulis dengan Api

Ibu,
tinta kami telah habis,
kertas kami telah menjadi abu,
jadi kami menulis dengan api,
di langit yang hitam,
di udara yang masih berbau mesiu.

Ayah,
ini bukan surat perpisahan.
Ini bukan pengakuan kekalahan.
Ini adalah sumpah
bahwa Gaza akan terus berbicara,
meski hanya lewat nyala api yang berkedip di malam buta.

Dunia,
jangan berpura-pura buta.
Surat ini akan sampai kepadamu,
entah lewat kata,
atau lewat bara yang membakar tenangmu.

Padang, Sumbar, 2022

/10/

Jantung Gaza – Palestina

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Mereka pikir aku sudah mati.
Bahwa jantung Gaza – Palestina telah berhenti,
bahwa denyutnya hanya gema masa lalu.

Tapi dengarkan ini:
duk-duk-duk—
masih ada kehidupan di bawah reruntuhan.
Masih ada nyanyian kecil
yang dipukul oleh dada-dada yang tak mau menyerah.

Mereka bisa menghancurkan rumah,
tapi mereka tidak bisa meruntuhkan yang ada di dalam tubuh kami.
Kami adalah jantung yang menolak mati karena manusia,
kami akan berserah diri pada ajal yang menjemput sesuai ketetapan Ilahi,
kami adalah darah yang terus mengalir,
meski dunia mencoba membekukannya,
meski dunia mencoba mematikannya.

Padang, Sumbar, 2022
———————–

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2022. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)