April 23, 2026

Laskar Tanna WKRI Nyalakan Semangat Perubahan: Dari Webinar Menuju Gerakan Nasional Pencegahan Kekerasan Perempuan dan Anak

*(Laporan Ir. Lusia S. Kanan, M.P

Jakarta, 2 Agustus 2025 – SuaraAnakNegeriNews.com | Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) menggelar Webinar Series 1 Laskar Tanna dengan semangat kebangsaan dan kepedulian terhadap masa depan perempuan dan anak Indonesia. Bertemakan “Semakin Indonesia, Semakin Mencintai Perempuan dan Anak Bangsa”, acara yang berlangsung secara daring melalui Zoom dan YouTube ini menghadirkan 251 peserta dari seluruh Indonesia. Webinar ini menjadi tonggak awal gerakan nasional “Laskar Tanna” sebagai upaya konkret dalam membangun kesadaran kolektif dan mendorong tindakan nyata untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Acara dibuka pukul 09.00 WIB oleh MC Candra Birawani, dilanjutkan dengan doa pembukaan oleh Ria. Sapaan kasih datang dari Ketua Presidium WKRI, Elly Kusumawati, yang menyampaikan bahwa rangkaian webinar ini menjadi bagian dari implementasi amanat kongres WKRI dalam memperjuangkan kesejahteraan perempuan dan anak. Dalam semangat HUT RI ke-80 bertema “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, dan Indonesia Maju”, Elly menekankan pentingnya transformasi peran WKRI sebagai agen perubahan menuju Indonesia Emas 2045.

Moderator Elizabeth Natalia membuka sesi utama dengan mengingatkan bahwa webinar ini merupakan kelanjutan dari komitmen yang dimulai di Yogyakarta dalam gerakan pencegahan kekerasan. Puncak acara diisi oleh paparan inspiratif dari narasumber utama Albertus Magnus Putut Prabantoro, pengajar Lemhanas, penasihat PWKI, ISKA, dan anggota dewan pakar Jaringan Siber Indonesia. Putut yang dikenal pernah lima kali bertemu dengan Paus Fransiskus, menyampaikan materi berjudul “WKRI: Mater et Magistra”.

Putut menyinggung akar historis WKRI dari ensiklik Mater et Magistra yang berlandaskan pada ajaran sosial Gereja dan menegaskan bahwa perempuan adalah tiang negara. Ia mengkritisi dampak budaya digital yang merusak nilai moral generasi muda, seperti flexing kekayaan, FOMO, hingga tren pinjol untuk judi online. Ia pun menyoroti lemahnya ketahanan mental generasi muda dan menyerukan agar WKRI aktif di media sosial untuk edukasi, literasi digital, serta mengadvokasi nilai-nilai moral.

Dalam pernyataannya yang cukup menggugah, Putut menyebut bahwa jika negara rusak, maka para ibu juga turut bertanggung jawab. Ia mendorong WKRI untuk tidak tinggal diam dan aktif berpolitik praktis, mulai dari menulis, berdialog dengan pemerintah, hingga mengisi ruang publik dengan konten positif yang bermakna.

Lucia Willar dari Presidium I WKRI merespon dengan semangat bahwa WKRI telah menggerakkan 450 humas untuk membuat konten digital bertema pencegahan kekerasan. Dengan 104 ribu anggota yang menjangkau 800 paroki, potensi besar WKRI dapat digerakkan menjadi kekuatan moral dan sosial di tengah masyarakat.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan penuh antusias. Peserta dari berbagai daerah, seperti Ende, Sanggau Sekadau, NTT, Sulteng, Kalteng, Depok, dan Papua, mengajukan berbagai isu mendalam mulai dari minimnya keterwakilan WKRI di DPR, pentingnya pelatihan gender, sinergi dengan dinas pemerintah, hingga kasus kekerasan seksual dan perdagangan orang. Sebagian peserta juga mempertanyakan posisi WKRI terhadap politik praktis. Putut menegaskan bahwa berpolitik bukan sekadar masuk partai, tapi membangun pengaruh lewat tulisan, konten, dan suara moral yang menembus ruang publik.

Veronika Corry dari DPD NTT menyoroti kasus anak SMP yang menjadi korban cyberbullying dan TPPO. Ia mengusulkan pendekatan persuasif daripada hukuman dan mendorong WKRI untuk menjalin kerja sama dengan ormas perempuan lain seperti Aisyiyah dan NU. Sementara Agustina Ayu dari Sulteng menyarankan kolaborasi dengan dinas perlindungan perempuan dan kesehatan remaja di daerah.

Pesan kuat juga datang dari Susan di Depok yang menyayangkan masih minimnya pemahaman soal kesetaraan gender hingga ke tingkat ranting. “Kalau alat organisasi hanya menyala di pusat tapi tidak sampai ke bawah, bagaimana bisa kita berharap perubahan terjadi?” ujarnya. Di akhir sesi, Putut mengajak semua pihak untuk membangun “komitmen menyala” sebagai gerakan moral untuk menyelamatkan generasi bangsa dari degradasi nilai dan kekerasan.

Webinar ini ditutup dengan doa oleh Ria pukul 13.30 Waktu Papua, disertai ajakan untuk menyebarkan semangat Laskar Tanna hingga ke akar rumput. Chat para peserta menunjukkan apresiasi luar biasa terhadap materi yang dibawakan, menyebutnya membuka wawasan, menggugah kesadaran, dan memberi arah perjuangan organisasi di era digital. Mereka menyatakan siap menjadi bagian dari gerakan nasional WKRI untuk membela martabat perempuan dan anak bangsa.

Webinar ini bukan hanya ruang diskusi, melainkan juga panggilan untuk bertindak. Dari layar Zoom dan YouTube, api perubahan mulai dinyalakan—sebuah api yang diharapkan terus menyala dalam gerakan perempuan Katolik Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. #LaskarTanna #StopKekerasan #PerempuanTiangNegara #WKRI2045

*(DPC WKRI Paroki Santa Maria Biak, Keuskupan Timika