WUAR MALA: Nyanyian Tanah yang Tak Pernah Mati
ANTLOGI PUISI
Oleh: Rizal Tanjung
(Terinspirasi ketika berdialog bersama jurnalis Laratmasepaulus dengan segelas kopi)
–
Bab I
Lelaki Pertama dan Pulau yang Sunyi
Di barat laut dari tanah-tanah yang belum pernah dicium peta,
di gugusan pulau yang diapit sabar dan keheningan,
terdengarlah nyanyi pelan dari rahim langit,
sebuah suara tua yang turun
bersama tetes hujan pertama
yang menyentuh batu paling purba.
Dari tanah garam dan tangis angin lahirlah dia—
Wuar Mala, lelaki pertama yang tidak punya kerajaan
tapi mengukir tanah menjadi tempat pulang.
Ia tak membawa tombak, tak menunggang kuda,
tapi memikul sepi di bahunya dan menyusun batu
dengan cinta yang tak pernah diajarkan oleh kitab-kitab.
Tanah itu kosong,
tapi sepi yang dipegang Wuar Mala
melahirkan pohon-pohon,
membentuk lekuk sungai,
dan menyusun angin jadi doa.
Ia berjalan bukan untuk menjajah,
tapi untuk mendengar:
suara daun, bisik pasir,
dan desir laut yang menyimpan nama-nama sebelum bahasa ditemukan.
Bab II
Lima Desa dan Sebatang Sulur Istri
Lima desa—
lima ujung jari yang melambai di cakrawala.
Weratan, Themin, Welutu, Rumahsalut, Kamatubun—
nama-nama itu bukan sekadar kampung,
mereka adalah perpanjangan urat nadi pulau,
peta tubuh dari tanah yang sedang belajar bicara.
Wuar Mala berjalan seperti hujan
yang menapak diam ke tiap genting rumah.
Ia mendengar sejarah dari retak tanah,
melihat masa depan dari tangis bayi di buaian anyaman daun.
Di Weratan—
jantung dari jantung pulau—
ia temukan Awal Rua:
perempuan dengan mata dari gerimis dan langkah sehalus dahan angin.
Ia tidak berkata cinta,
tapi sulur rambutnya yang panjang
telah lebih dahulu menulis bait
di dahi Wuar Mala yang lelah.
Bab III
Tiga Pulau dan Bayangan Pertikaian
Pulau Selu,
Pulau Wuliaru,
dan Seira—
seperti tiga saudara yang saling menahan tangan
agar tidak saling mencakar dalam tidur yang panas.
Dari langit, mereka tampak bersatu.
Tapi dari laut, retak-retak itu sudah mulai menganga.
Selu menarik matahari dari barat,
Wuliaru dari utara.
Matahari jadi rebutan,
dan langit seperti kulit luka yang siap mengelupas.
Wuar Mala berdiri di tengah,
tubuhnya seperti bambu tua yang tak patah,
meski angin dan panah menyilang di dadanya.
Ia tak punya perisai,
tapi ia punya sabda:
yang lahir dari laut,
harus bisa memadamkan api.
Bab IV
Panah di Kaki Lelaki yang Menengahi
Panah itu datang bukan dari tangan musuh,
tapi dari rasa takut akan perdamaian.
Wuliaru—yang dulu saudara—kini jadi bayangan
dengan mata yang basah oleh dendam masa silam.
Panah itu menembus kaki Wuar Mala—
tapi lebih dalam menembus keheningan yang ia rawat bertahun-tahun.
Ia tidak menjerit.
Ia rebah seperti daun tua yang pasrah pada tanah.
Dan tanah menyambutnya
dengan pelukan hangat dari bebatuan yang pernah ia susun.
Bab V
Perempuan dari Cahaya Daun Kemiri
Dari hutan kemiri yang mengunyah kabut,
muncullah dia: Awal Rua,
perempuan yang tidak pernah lahir dari rahim manusia,
melainkan dari embun yang dicium pagi,
dan cahaya yang terpeleset dari daun-daun tua.
Ia bukan tabib,
tapi tangannya seperti bayangan pohon
yang menyembuhkan luka hanya dengan keteduhan.
Ia menunduk ke luka Wuar Mala—
dan dunia pun ikut menunduk,
menjadi sunyi yang lembut.
Bab VI
Kayu, Kain, dan Keputusan
Dua potong kayu dari hutan keramat,
kain tua dari tubuh cinta—
semuanya dikumpulkan Awal Rua
untuk membidai kaki lelaki yang memanggul perdamaian.
Tapi bukan luka yang membuatnya ingin pergi.
Melainkan cinta:
yang tumbuh seperti tunas pada musim yang tak menentu.
“Ayo kita pergi,” bisik Awal Rua,
dan bumi bergoyang bukan oleh gempa,
tapi oleh keputusan yang lahir dari bibir perempuan yang percaya.
Bab VII
Jeritan dan Penolakan Seorang Lelaki
“Ahhhhhh!”
jerit itu bukan dari luka,
tapi dari dada yang tak pernah siap dicintai.
Wuar Mala takut,
bukan pada musuh,
tapi pada mata Awal Rua
yang memandangnya seperti laut memandang matahari
yang hendak tenggelam.
Bab VIII
Perempuan yang Memaksa Cinta Bertahan
“Jangan keras kepala!”
teriak Awal Rua
seperti ombak yang menghantam karang cinta yang terlalu angkuh.
Cinta bukan hanya kelembutan,
ia adalah badai,
ia adalah perintah.
Dan Wuar Mala tunduk.
Bukan karena kalah,
tapi karena ia temukan damai
di dalam mata perempuan yang tetap memeluknya
meski kakinya lumpuh oleh sejarah.
Bab IX
Rumah di Dalam Luka
Mereka membangun rumah
bukan dari kayu dan paku,
tapi dari pelukan dan sabar.
Setiap luka adalah batu pondasi,
setiap tangis adalah tiang langit.
Dan malam datang bukan dengan gelap,
tapi dengan cahaya remang yang ditiupkan oleh cinta.
Bab X
Cinta yang Menjadi Hukum di Pulau Ini
Dari rumah itu,
lahirlah hukum.
Hukum yang tidak ditulis,
tapi diingat dengan hati.
Wuar Mala tidak menjadi raja,
tapi pemimpin yang memeluk,
hakim yang tidak pernah menunjuk,
dan penyair yang menulis perintah dengan senyum.
Bab XI
Musuh dari Selatan: Sermuri dan Portugal
Dari selatan,
dari garis laut yang jauh dan asing,
datanglah langkah-langkah yang tak mengenal wangi kenari
atau doa dari anyaman daun lontar.
Mereka menyebut dirinya sahabat,
membawa meriam yang dikemas dalam senyuman,
perjanjian yang dilapisi emas
tapi beraroma darah.
Sermuri meminjam lidah Portugal
untuk menjual tanah yang bukan miliknya,
menggadaikan pusaka nenek moyang
demi kehormatan yang palsu.
Wuar Mala berdiri
bukan di hadapan musuh,
tapi di hadapan waktu
yang berusaha mencabut akar
dan mengganti pohon kehidupan
dengan menara penjajahan.
Bab XII
Sidang Laut: Hukum yang Mengapung
Mereka tidak bertemu di tanah,
karena tanah telah berat oleh dendam.
Mereka duduk di atas perahu,
menjadikan laut sebagai meja sidang
dan angin sebagai saksi.
Wuar Mala, Awal Rua, Sermuri, dan para tetua
meletakkan hati mereka di antara ombak,
dan membiarkan gelombang menimbangnya.
Hukum bukan lagi senjata,
tapi nyanyian dari mulut ikan,
keputusan yang digantungkan
pada pelipis rembulan.
“Tidak semua yang berbeda harus dibunuh,”
kata Awal Rua,
dan angin pun diam
seperti menghormati kebenaran yang baru lahir.
Bab XIII
Enam Belas Hari untuk Melupakan
“Enam belas hari,” ujar Wuar Mala,
“bukan untuk pergi,
tapi untuk kembali sebagai manusia yang baru.”
Hari-hari itu seperti benih yang direndam
di bawah tanah hujan,
tidak tumbuh cepat,
tapi menyimpan hidup di dalam sunyi.
Sermuri mundur,
bukan karena kalah,
tapi karena dilucuti oleh kemanusiaan
yang tiba-tiba tumbuh di tengah dadanya
seperti kuncup pertama dari pohon yang hampir mati.
Bab XIV
Air Mata yang Tak Menjadi Darah
Di tanah ini,
tidak ada arus merah yang mengalir
di antara kaki-kaki bayi dan perempuan tua.
Yang ada hanya air mata,
tapi air mata yang jatuh bukan untuk duka,
melainkan untuk membasuh sisa-sisa kebencian
dari masa lalu yang kini sudah tak memiliki suara.
Matahari terbit dengan tenang,
dan bayangan panjang di tanah Seira
menyerupai pelukan panjang
dari seseorang yang akhirnya pulang.
Bab XV
Patung sebagai Doa Tanpa Suara
Mereka tak membangun tugu,
mereka tak menulis sejarah dengan tinta.
Mereka pahat tubuh Wuar Mala dan Awal Rua
dari kayu yang menangis di malam hari
dan mendirikannya di desa
seperti doa yang membeku dalam rupa.
Patung itu tidak berbicara,
tapi semua anak yang melewati
bisa mendengar:
tentang cinta yang melawan perang,
tentang luka yang melahirkan hukum,
tentang dua manusia yang menjadikan pulau
sebagai puisi panjang.
Bab XVI
Batu Gong dan Pohon Vi
Batu Gong tidak pernah berdetak seperti jam,
tapi setiap kali disentuh angin,
ia berkata:
“Ingatlah siapa kamu.”
Di dekatnya tumbuh Pohon Vi—
tempat Awal Rua menyandarkan tubuhnya
di akhir usia yang tak ditentukan.
Batu dan pohon:
sepasang simbol sunyi
yang menyimpan gema
dari suara dua jiwa yang pernah menjadi cahaya
di malam paling gelap.
Bab XVII
Desa yang Dipeluk Patung
Weratan dan Kamatubun kini seperti dua lengan
yang memeluk dunia dengan tenang.
Anak-anak bermain di kaki patung
dan tertawa tanpa tahu
betapa banyak air mata yang menjadikan
tempat mereka berlari
begitu aman dan suci.
Patung itu adalah pelindung,
bukan karena kekuatan,
tapi karena kenangan
yang terus berdetak dalam hening.
Bab XVIII
Jiwa yang Tak Pernah Mati
Wuar Mala menjadi tanah.
Awal Rua menjadi angin.
Tapi jiwa mereka adalah matahari
yang tak pernah padam di langit Seira.
Setiap bayi yang menangis
melanjutkan sabda mereka.
Setiap ibu yang merawat luka
melanjutkan cinta mereka.
Dan setiap petani yang menanam
tidak sekadar meletakkan benih,
tapi menanam cerita yang tak bisa dilupakan.
Bab XIX
Mala dan Rua: Nama yang Jadi Pulau
Mala adalah gunung
Rua adalah sungai
dan Seira adalah tubuh
yang dijaga oleh keduanya.
Setiap burung yang terbang di atas pulau ini
membawa satu huruf dari nama mereka.
Setiap ombak yang menghantam karang
membacakan puisi mereka
yang tidak ditulis oleh pena,
tapi oleh kesetiaan.
Bab XX
Nyanyian Abadi dari Seira
Kini Seira bernyanyi,
bukan dari mulut manusia,
tapi dari rerumputan,
dari angin yang melintasi pantai,
dari bisik pasir di bawah kaki.
Di dalam ombak ada suara Wuar Mala
yang berkata:
“Cintailah tanah ini seperti kau mencintai tubuhmu.”
Dan di daun kemiri yang gugur
ada desah Awal Rua:
“Lindungilah cinta, walau luka pernah tinggal di dalamnya.”
Seira tak lagi sekadar pulau.
Ia adalah kitab
yang hanya bisa dibaca oleh hati
yang pernah merindukan keadilan,
dan mencintai dunia—
tanpa syarat.
Sumatera Barat,2025