LELEMUKU: Bunga yang Tak Pulang
(Kisah cinta Suma Halina dan Wanu)
Oleh: Rizal Tanjung
–
Desa Hano’o lahir dari percintaan laut dan hutan. Ia berdiri di tempat bumi berbisik paling lirih, di mana malam merintikkan rahasia ke pasir, dan ombak menggulung sajak-sajak dari masa silam. Angin di sana bukan sekadar udara, tapi kenangan yang berkeliaran tanpa tubuh.
Di sinilah, di malam gerhana yang menggulung bulan seperti amplop tak beralamat, seorang bayi perempuan lahir tanpa tangis. Ia hanya membuka matanya—mata sebesar bisikan petir—dan memandangi langit yang mengubur cahaya. Semua orang yang melihatnya terdiam, seolah waktu sendiri menahan napas.
> “Anak ini bukan dari rahim biasa,” bisik tetua yang berjanggut kabut. “Ia dilahirkan oleh bumi, dibesarkan oleh bisu.”
Namanya: Suma Halina.
Suma tumbuh seperti daun yang menolak jatuh. Ia tak duduk di tikar dengan para gadis menenun benang; ia lebih suka membelai batang pohon dan berbicara dengan suara air. Tubuhnya lentur seperti bayangan, langkahnya tak meninggalkan jejak. Ada bunga-bunga yang hanya mekar ketika ia lewat, dan burung-burung yang memiringkan kepala seperti mendengar bahasa yang terlupakan.
Orang-orang mencintainya, tapi dari jauh. Ia seperti api yang menghangatkan, tapi tak bisa disentuh.
Wanu, Dari Hutan yang Tak Bernama
Di balik Hutan Hatuwawa, yang tak pernah dijamah selain oleh angin dan doa, hidup seorang pemuda bernama Wanu.
Ia ditemukan di sarang burung kasuari, dibalut daun sagu, matanya menatap kosong ke dahan-dahan. Tak seorang pun tahu siapa yang menaruhnya di sana—mungkin dewa, mungkin alam sendiri. Yang pasti, ia tumbuh dalam diam, dan dari diam itu lahir suara-suara lain: desir akar, nyanyian lumut, tangis lembut dedaunan jatuh.
Ia meniup suling yang ia ukir sendiri, dari bambu yang hanya tumbuh di musim badai. Dan ketika ia meniupnya, bukan hanya manusia yang terdiam, tapi juga waktu.
> “Suara itu seperti hujan yang mengerti,” bisik seorang wanita tua.
“Itu bukan nyanyian,” sahut suaminya, “itu rindu yang mencari bentuk.”
Wanu hidup tanpa nama keluarga, tanpa atap rumah. Tapi hutan memberinya segala: buah, air, kesunyian.
Dan ia tak pernah merasa kesepian.
Mata yang Bertemu di Bukit Batu Nara
Suma pertama kali melihat Wanu di pasar. Ia tak menjual suara, hanya buah dan dedaun dalam keranjang anyaman. Tapi matanya—mata yang tak mencari siapa-siapa—justru menemukan milik Suma.
“Siapa dia?” tanya seorang perempuan muda.
“Anak hutan,” jawab neneknya, “tapi matanya… seperti laut yang tak tahu pelabuhan.”
Hari-hari berlalu.
Lalu datang pagi ketika kaki Suma mengikuti jejak rusa ke dalam hutan. Hujan turun seperti peringatan. Ia tersesat. Tapi di tengah gemuruh dan hijau yang menelan arah, ia melihat cahaya.
Wanu. Duduk di akar pohon tua, meniup sulingnya.
Mereka tidak saling menyapa. Hanya saling menatap. Hanya diam yang menyentuh mereka.
> “Kau meniup sunyi,” ujar Suma kemudian.
“Dan kau membuatnya bermakna,” jawab Wanu, suaranya serak seperti daun gugur.
Sejak itu, setiap minggu, mereka bertemu di Bukit Batu Nara, di bawah pohon tua bernama Hatu Lemo. Mereka tak bicara banyak. Cinta mereka seperti angin yang menyisir air—lembut, tak terlihat, tapi nyata.
Mata mereka bicara. Jemari saling menyentuh seperti helai doa yang tak pernah diucapkan.
Pelaut dari Selatan
Musim berganti. Kapal besar bersandar di dermaga kecil Hano’o.
Datanglah Tuan Laren, bangsawan dari Pulau Larat. Ia datang membawa emas, keris perak, dan lamaran untuk Suma.
> “Ini bukan hanya soal cinta,” ujar ayah Suma, Tuan Banu, “ini soal desa. Masa depan kita bisa aman.”
Suma menunduk. Tapi hatinya bukan tanah yang bisa ditanami janji-janji kosong. Ia sudah tumbuh akar di Bukit Batu Nara.
> “Aku sudah punya cinta,” bisiknya kepada angin.
“Tapi cinta bisa tumbuh,” jawab ayahnya.
“Tapi hatiku telah jadi tanah kosong setelah cinta itu ditanam. Tak bisa tumbuh yang lain.”
Wanu mendengar kabar itu. Ia tak datang lagi ke bukit. Ia menghilang ke dalam hutan, seperti bayang-bayang di senja yang menolak jadi malam.
Permohonan Terakhir
Malam sebelum pernikahan, Suma lari ke bukit. Di tangannya keris kecil. Di pangkuannya sehelai kain tua, milik ibunya.
Ia duduk di bawah pohon Hatu Lemo, menunggu.
Menunggu seseorang yang tak pasti datang.
Menunggu seperti embun menanti pagi, walau tahu matahari belum tentu kembali.
Ia berkata ke langit:
> “Jika cintaku tak bisa hidup di dunia ini, biarkan ia tumbuh dalam wujud lain.
Jadikan aku abadi dalam bentuk yang menunggu.
Aku tak ingin melawan adat. Tapi aku juga tak bisa mengkhianati jiwaku.”
Langit diam.
Tapi angin datang, membawa bau tanah basah dan suara tangis yang bukan milik manusia.
Keesokan harinya, tubuh Suma tak ditemukan. Hanya selembar kain, dan suling bambu yang tertinggal di antara akar.
Lelemuku
Yang tumbuh di bawah pohon itu adalah bunga.
Bukan bunga biasa.
Kelopaknya ungu, seperti luka yang memilih cantik daripada sembuh. Ada garis emas menyusur dari pusatnya, seperti kenangan yang tak mau pudar.
Orang-orang terdiam. Tetua menangis, bukan karena kehilangan, tapi karena mengerti.
> “Ia tidak mati,” ujar mereka. “Ia berubah.”
Bunga itu diberi nama Lelemuku—yang dalam bahasa tua berarti: yang setia menunggu.
Orang-orang datang melihatnya. Tapi tak ada yang berani menyentuh.
> “Siapa pun yang mencabut Lelemuku,” kata tetua, “akan membawa pulang duka yang belum selesai.”
Warisan Hening
Tahun demi tahun berlalu. Desa Hano’o tetap berdiri, seperti luka yang tak sepenuhnya sembuh. Anak-anak lahir. Kapal datang dan pergi. Tapi di Bukit Batu Nara, Lelemuku tetap mekar. Selalu di musim yang sama.
Wanu tak pernah kembali. Atau mungkin ia menjadi angin yang mengusap kelopak bunga itu. Atau suara suling yang hanya terdengar oleh orang yang benar-benar merindukan.
Dan orang masih berkata:
> “Jangan ganggu bunga itu.
Ia bukan hanya bunga.
Ia adalah cinta yang tak selesai.
Ia adalah Suma Halina—
gadis yang memilih menjadi abadi.”
Lelaki yang Menjadi Sunyi
Setelah kabar pernikahan Suma tersebar di angin, Wanu berjalan masuk lebih dalam ke jantung hutan—ke tempat di mana bahkan burung pun enggan terbang dan matahari hanya berani mengintip lewat celah.
Ia membawa sulingnya, tapi tak lagi meniupnya. Sebab setiap nada akan berubah menjadi luka.
> “Aku tak bisa merebutmu dari dunia, Suma,” bisiknya pada langit yang dirajam daun.
“Tapi aku bisa memeluk sunyi yang pernah memelukmu.”
Ia hidup di antara akar-akar raksasa, di mana jamur menyala di malam hari dan embun berbicara. Ia tidur dengan kepala di pangkuan akar, seakan hutan sendiri sedang mengasuhnya.
Tiap malam, ia mendengar suara sulingnya sendiri dari kejauhan, padahal tak pernah ia tiup. Mungkin itu gema hatinya. Mungkin itu Suma yang menyamar jadi angin.
Lalu malam itu datang—malam ketika bumi berubah.
Ia merasa bumi memanggilnya. Ia berlari tanpa tahu kenapa, kakinya menyentuh tanah seperti doa yang lupa huruf. Ia tiba di Bukit Batu Nara, tapi terlambat. Terlambat bahkan untuk menangis.
Di bawah pohon Hatu Lemo, hanya ada bunga.
Dan dunia runtuh dalam diam.
Lelaki yang Menunggu di Sebelah Kekal
Sejak hari itu, Wanu tak kembali ke hutan. Ia membangun gubuk kecil di sisi bukit, tak jauh dari tempat bunga itu tumbuh. Ia tidak tidur, tidak bicara. Hanya duduk, dan meniup suling dari fajar hingga malam. Musiknya seperti hujan yang tak sempat jatuh, seperti pelukan yang tertinggal di udara.
Anak-anak sering diam-diam mengintip, tapi orang dewasa tak berani mendekat.
> “Ia bukan manusia lagi,” bisik mereka.
“Ia adalah penjaga cinta.”
Musim berlalu seperti hela napas panjang. Wanu menjadi lebih tua, tapi matanya tetap menyala seperti bara. Setiap kali Lelemuku mekar, ia tersenyum pelan.
> “Kau kembali dalam bentuk paling setia, Suma,” katanya.
“Dan aku akan menunggu… dalam bentuk paling sunyi.”
Suatu pagi, Wanu tak lagi meniup suling. Tubuhnya duduk bersandar di pohon, seakan tertidur. Tapi wajahnya tenang. Seperti seseorang yang akhirnya bertemu dalam mimpi yang tak akan putus.
Orang-orang menemukannya, tapi mereka tak menguburnya.
Mereka hanya membiarkannya di sana, di bawah pohon yang sama.
Dan suatu musim berikutnya, dua bunga tumbuh berdampingan: satu ungu dengan garis emas, satu biru tua dengan bintik seperti malam.
Lelemuku dan Lelulua
Kini di Bukit Batu Nara, dua bunga mekar setiap tahun. Tak pernah bersentuhan, tapi tak pernah terpisah. Orang menyebut bunga kedua itu Lelulua, yang artinya “yang mengiringi keabadian.”
“Dan siapa pun yang datang, hanya bisa berbisik… agar tak mengganggu mereka yang menunggu.”
Di bawah pohon Hatu Lemo, seseorang menulis;
“Mereka yang pergi karena cinta, tidak benar-benar menghilang.
Mereka hanya berubah bentuk—jadi angin, jadi suling, jadi bunga.
Dan bagi mereka yang percaya, suara cinta akan tetap terdengar,
di celah-celah malam yang sunyi.
Di balik daun yang gemetar oleh rindu.
Di antara dua bunga yang tak pernah bersentuhan,
tapi saling menunggu.
Puisi Suma
“AKU TAK DITANAM, AKU MENUNGGU”
Aku tidak pernah tumbuh dari benih,
Aku lahir dari rindu yang tertinggal di akar.
Langit menurunkanku sebagai tanya,
dan bumi menyambutku sebagai luka.
Jika kelak kau temui aku berbunga,
jangan petik.
Aku bukan bunga,
Aku adalah doa yang sedang berwujud
Puisi Wanu
“SULING YANG TAK PUNYA NADA”
Aku meniup sunyi ke dalam bambu
dan mencipta nada yang tak bisa didengar.
Karena hatiku bukan untuk telinga,
melainkan untuk rindu yang menggema dalam diam.
Setiap lubang di suling ku
adalah pintu
menuju bayanganmu.
SURAT TERAKHIR SUMA (Tertinggal di Bukit Batu Nara):
> “Wanu…
Jika suatu hari kau membaca ini, ketahuilah—aku tak ingin jadi istrimu. Aku ingin jadi langit yang kau tatap tiap pagi. Aku ingin jadi embun di daun yang kau sentuh tiap fajar.
Jika itu tak cukup, biarlah aku jadi bunga.
Agar aku bisa tinggal, bahkan jika waktu sendiri melupakan kita.”
— Suma Halina
—
Puisi Suma:
TANGIS YANG DIPELIHARA ANGIN
( Kisah Suma Halena Menanti Wanu )
Angin berbisik lirih di balik jendela senja,
menyusupkan rindu dari pelupuk langit
yang tak pernah letih menyimpan bayangmu
dalam lipatan awan yang gemetar.
Ia datang seperti dongeng yang tak pernah mati,
seperti nyanyian leluhur dari puncak Lelemuku,
yang menyebut satu nama dalam keheningan malam:
Wanu.
Suma Halena berdiri di ambang cahaya,
menatap batas cakrawala yang menjauh,
di mana terakhir kali Wanu berlayar,
membawa janji yang tak sempat disematkan
di sela-sela rambutnya yang mengurai
seperti ombak di Laut Seram.
“Aku akan kembali sebelum purnama kesembilan,”
begitu katanya,
dan Halena menyulam tanggal di kain tenun
dengan benang-benang emas dari langit timur,
tapi bulan terus berubah,
sementara langkah Wanu tak kunjung pulang.
Ada tangis yang dititipkannya pada angin,
tangis yang tak pernah basah,
namun dalamnya seperti samudra malam,
tempat cahaya karam dan doa-doa terapung,
mencari wajah yang tak pernah benar-benar pergi,
mengendap dalam nyanyian burung malam,
mengendap dalam detak-detak waktu
yang dipelihara oleh harapan.
Setiap senja, Suma Halena menulis namanya
di daun-daun lontar dan kulit pohon matoa,
agar semesta tak lupa,
bahwa ada cinta yang tumbuh dalam diam,
namun bergemuruh di dada seorang perempuan
yang tak pernah lelah menunggu.
“Kau tahu, Wanu,” katanya pada malam,
“rinduku bukan seperti gerimis yang datang lalu hilang,
ia adalah badai yang memilih diam,
menjadi bayangan di langit senyap,
lagu di antara dedaunan gugur,
luka yang kucintai meski tak sembuh.”
Ia menyulam mimpi dengan benang biru laut,
melihatmu berdiri di ujung perahu,
tersenyum, memanggil,
namun ketika fajar datang,
semuanya sirna,
tinggal suara burung cendrawasih
dan sunyi yang mengendap di ruang hati.
Tapi Halena percaya,
bahwa angin tak hanya membawa debu dan daun,
melainkan pesan rahasia,
bisikan cinta dari hati yang tak menyerah,
yang memilih setia meski dunia menua.
Dalam peluk bayanganmu,
ia temukan keabadian yang sederhana:
senyuman di tengah tangis,
genggaman di antara kehilangan,
tatapan yang menyelamatkan
jiwa yang hampir karam
di antara pasang dan surut ingatan.
Wanu, engkau adalah sajak yang tak selesai,
ditulis di udara,
dalam napas yang ditahan,
dalam detak jam yang melambat,
karena waktu pun tunduk pada namamu.
Ia tahu:
ada cinta yang bertahan dalam sunyi
dan dibacakan angin dari pagi ke pagi.
Langit menyimpan rahasia kita.
Setiap awan adalah cerita,
setiap hujan adalah air mata
yang tak jatuh ke bumi,
melainkan terapung di antara doa,
menunggu saat kau kembali.
Suma Halena tak ingin menyalahkan jarak,
karena mungkin,
perpisahan ini adalah jalan cinta
menemukan kekekalannya.
Ia belajar mencintaimu tanpa harus memiliki,
menunggu tanpa menghitung waktu.
Dan angin—
oh, angin yang setia memeluk Lelemuku,
ia pelihara tangis ini
agar tak menjadi hujan,
melainkan puisi,
syair yang hanya bisa dibaca oleh hati.
Maka jika malam ini kau merasa sunyi, Wanu,
letakkan telingamu di jendela dunia,
biarkan angin membisikkan kisah ini:
tentang Halena,
tentang cinta yang tak pernah pulang,
namun juga tak pernah benar-benar pergi.
Cinta yang tumbuh di pegunungan dan laut,
yang abadi dalam nyanyian
Tangis yang Dipelihara Angin.
—
Puisi Wanu:
RINDU YANG TIDAK PUNYA RUMAH
Aku adalah hujan yang jatuh di padang tandus,
menyulam basah di tanah yang lupa cara mencintai air.
Namamu kusebut dalam sunyi,
seperti mantra yang tak pernah usai,
meski lidahku telah lelah berdoa pada bintang mati.
Kau adalah senja yang selalu terlambat,
datang hanya ketika langit mulai kehilangan warnanya.
Dan aku adalah cakrawala,
menanti garis lembutmu menyentuh garis mataku
dalam absurditas yang tak pernah selesai.
Rinduku padamu,
seperti burung yang kehilangan langit,
ia terbang dalam diam,
menusuk ruang yang tak punya arah pulang.
Aku menuliskan wajahmu di permukaan danau,
lalu angin datang menghapusnya
dan aku tetap menatap—
seakan wajahmu bisa tumbuh kembali dari gelombang kecil yang menari.
Kau tahu?
Aku mencintaimu dengan bahasa yang tak dipahami bunga,
dengan getar-getar yang tak bisa dijelaskan musik,
dengan cahaya yang lebih hangat dari matahari
tapi lebih sepi dari bayangan.
Rindu ini tidak punya rumah—
ia berkeliaran di lorong-lorong kenangan,
mengendap di antara sela detik dan desir napas,
menyusup ke dalam mimpi seperti pencuri
yang hanya mencuri harapan.
Aku menyulam sajak di kelopak malam,
dengan benang cahaya bulan
dan jarum yang kupinjam dari kesedihan.
Kau tak tahu betapa aku ingin menjadi pagi
yang pertama kali menyentuh pipimu—
sebelum dunia merebutmu kembali.
Cintaku,
adalah samudra tanpa peta.
Dan rinduku adalah perahu kecil yang rapuh,
berlayar di antara badai,
tanpa tahu ke mana arah dermaga hatimu.
Kau adalah musim yang tak bisa kupeluk,
selalu datang dengan aroma hujan
dan pergi meninggalkan jejak di jendela.
Aku pernah mencoba melupakanmu,
seperti daun melupakan pohon.
Tapi angin selalu mengingatkanku,
bahwa rinduku padamu adalah akar yang menolak layu.
Dan bila waktu adalah kanvas,
aku ingin melukismu dengan warna-warna
yang hanya bisa dilihat oleh hati.
Kau menjadi lukisan abadi
yang tak pernah selesai kutatap.
Dalam diam, aku berdoa:
“Jika rindu ini harus mengembara,
maka biarlah ia mati di ambang pintumu.”
Karena tidak ada rumah yang lebih hangat
dari dada tempat namamu tinggal.
Cintaku,
rinduku ingin pulang.
Tapi setiap pintu kuketuk,
hanya gema suaramu yang menjawab.
Dan aku tahu,
rinduku masih belum punya rumah,
karena rumah itu…
adalah pelukanmu yang belum kembali.
Sumatera Barat, 19 April 2025.